Senin 02 Maret 2020, 08:25 WIB

Budaya Tanggung Gugat

Direktur Pendidikan Yayasan Sukma Victor Yasadhana | Opini
Budaya Tanggung Gugat

DOK PRIBADI
Direktur Pendidikan Yayasan Sukma Victor Yasadhana

MARK Fields, presiden perusahaan otomotif terke­mu­ka Ford, pernah menyatakan, “Culture eats strategy for breakfast.” Ung­kapan yang awalnya berasal dari Peter Drucker--pakar manajemen terkemuka yang pe­mikirannya menjadi dasar bagi filosofi dan praktik bisnis moderen--pada intinya menyatakan bahwa strategi dalam pengelolaan organisasi bukannya tidak penting.

Namun, budaya memiliki daya vital untuk menentukan keberhasilan atau ke­gagalan sebuah strategi da­­lam pencapaian tujuan orga­­nisasi. Strategi yang paling ba­gus sekalipun, keberhasilan atau kegagalannya sangat ber­­gantung pada budaya yang di­bangun dan dikembangkan dalam organisasi.

Namun, dalam praktiknya, mereka yang menjalankan organisasi lebih tertarik untuk memperhatikan pilihan strategi yang dipakai daripada menimbang bagaimana budaya organisasi harus dibangun dan dikembangkan sebagai bagian dari investasi masa depan.

Saat mendapati masalah pa­da pilihan strategi organisasi (atau masalah lainnya dalam organisasi), konsentrasi para pengelola organisasi berkutat hanya pada upaya mencari ‘siapa yang salah?’ atau ‘siapa yang bertanggung jawab atas masalah yang muncul?’.

Mencari kambing hitam

Hal yang sama juga terjadi pada semua tingkatan dalam organisasi pendidikan. Kega­gal­an dalam mengikuti standar pendidikan di tingkat dunia atau kegagalan memenuhi tar­get capaian secara nasional lebih sering ditujukan pada ja­jaran pejabat di kementerian terkait atau pada alat yang di­­pakai. Bukan pada proses atau sistem pendidikan keselu­ruhan yang memungkinkan masalah-masalah tersebut muncul. Karena itu, respons yang sering terjadi sifatnya selalu menghakimi, parsial, jangka pendek, dan reaksioner.

Pada tingkat yang lebih rendah, dalam pengelolaan sekolah, juga berkembang budaya menyalahkan, yang gampang ditemui dalam setiap aspek pe­ngelolaan pendidikan. Keti­ka berhadapan dengan murid yang memiliki kesulitan dalam pelajaran, guru menyalahkan murid karena ‘kurang motivasi’, ‘tidak patuh’, atau ‘kurang perhatian orangtua’. Sementa­ra itu, orangtua beranggapan ‘guru/sekolah kurang bagus’ atau malah ikut menyalahkan anak mereka sendiri.

Mencari seseorang atau se­su­a­tu untuk disalahkan ialah cara paling mudah untuk me­res­pons setiap ketidakberes­an. Mencari dan kemudian me­nentukan siapa yang harus bertanggung jawab atas per­soalan yang terjadi lebih merupakan wujud budaya mencari kambing hitam ketimbang me­nyelesaikan persoalan sesungguhnya dalam sistem yang berlaku.

Pentingnya membangun bu­daya yang jauh lebih baik da­ripada budaya menyalahkan (culture of blaming) pada lembaga pendidikan seperti sekolah ialah kunci keberhasilan dan kemajuan. Salah satu budaya yang penting untuk dikembangkan ialah culture of accountability atau budaya tanggung gugat.

Dari menyalahkan ke tanggung gugat

Budaya tanggung gugat di sekolah perlu dikembangkan atas pemikiran dasar bahwa dalam budaya menyalahkan, tidak pernah terjadi pembelajaran. Karena satu-satunya hal yang dipelajari seseorang atau organisasi dalam kebiasaan saling menyalahkan hanyalah ‘kemampuan yang lebih baik untuk menyembunyikan kesalahan’.

Marilyn Paul, seorang kon­sul­tan independen di Innovation Associate dan Arthur D Little, AS, dalam sebuah tulisan berjudul Moving from Blame to Accountability (2018), menegaskan pentingnya sebuah organisasi mengembangkan budaya tanggung gugat.

Dalam budaya menyalahkan, cara menyelesaikan masalah ialah dengan mengalokasikan kesalahan pada orang atau se­suatu. Sering kali berupa upaya mempermalukan dan mencari kesalahan. Cara ini bersifat artifisial dan hanya merupakan solusi jangka pendek untuk ma­salah yang biasanya jauh lebih kompleks.

Karena itu, bu­daya menya­lahkan dapat menghambat pemahaman akan akar masalah sesungguh­nya, menghancurkan rasa sa­ling percaya dan menghadir­kan ketakutan yang menjadi muasal hambatan bagi inovasi dan alternatif solusi sejati.

Budaya menyalahkan cenderung membuat upaya penyelesaian masalah tidak efektif dan jelas tidak memberi pemahaman yang lebih baik tentang situasi/masalah yang dihadapi sekolah.

Sementara itu, budaya tanggung gugat justru menegaskan bahwa seseorang selalu berpo­tensi melakukan kesalahan dan melihat proses belajar da­­ri kesalahan sebagai upaya pembelajaran untuk keberhasil­an di masa depan. Hal ini dapat terjadi selama tersedia kon­­­disi yang memungkinkan dialog yang konstruktif dan te­rus-menerus terkait dengan pemahaman atas realitas yang terjadi.

Pemahaman yang mam­pu berkontribusi atas ke­­mampuan memahami akar masalah sesungguhnya, pe­ma­haman atas sistem secara keseluruhan, dan kemampuan mengidentifikasi kesepakatan dan tindakan ba­ru bersama.

Budaya tanggung gugat sela­lu menyaratkan fokus pada ma­­­salah yang dihadapi dan bu­kan orang. Sekaligus, per­tim­­bangan akan adanya konse­­kuensi baik yang pasti maupun yang tak bisa diperkirakan akan terjadi. Beberapa kualitas yang ditumbuhkan dalam budaya tanggung gugat ialah sa­ling menghargai, saling percaya, keingintahuan, inisiatif, dan kebersamaan.

Budaya tanggung gugat ialah proses membangun kebiasaan untuk memungkinkan mereka yang berada di dalam organi­sa­­si menunjukkan kebebasan untuk berpikir dan bertindak demi mencapai tujuan organi­sasi.

Karakter yang diperlukan da­lam budaya tanggung gugat ialah kemandirian dan oto­­nomi setiap orang untuk me­­nerjemahkan dan membe­ri kontribusi atas pencapai­an tujuan organisasi. Bukan me­nerimanya sebagai sebuah ke­ha­rusan yang dipaksakan atau dijejalkan sebagai bagian kepatuhan buta.

Hal itu dapat diterapkan dalam pengelolaan kelas, manajemen sekolah, maupun dalam membangun relasi baik dengan masyarakat. Praktik-praktik pe­ngembangan kapasitas guru, kelas yang demokratis, dialog atau pertemuan rutin dengan orangtua dan masyarakat ialah beberapa media yang dipakai untuk mengampanyekan bebe­rapa kualitas yang diperlukan untuk menumbuhkan budaya tanggung gugat. Memahami sebuah masalah secara lebih menyeluruh, menghindari je­­bakan solusi instan, atau men­­diskusikan perbedaan cara pandang untuk meningkatkan pemahaman bersama.

Semua itu hanya bisa dila­­ku­­­kan dengan niatan dan tin­­­­dakan nyata untuk mulai ber­­henti menyalahkan dan ber­­sama-sama menjadi lebih bertanggung jawab dalam meng­­hadapi masalah pendi­dik­­an. Hanya dengan membiasakan diri untuk tidak mudah menyalahkan, pembelajaran sejati akan persoalan pendidikan bisa terjadi. Hanya dengan siap untuk tanggung gu­­gat, akar persoalan bisa di­­temukan dan solusi masalah pendidikan sesungguhnya dapat diupayakan.

 

Baca Juga

MI/PERMANA

Pandemi Covid-19, Menguji Ketahanan Keluarga

👤Sudibyo Alimoeso Ketua Umum Ikatan Praktisi dan Ahli Demografi Indonesia (IPADI)/ Pusat Kajian Keluarga dan Kelanjutusiaan (CeFAS) URINDO 🕔Jumat 23 Oktober 2020, 05:13 WIB
PSBB yang mulai diberlakukan berimbas pada keluarga, khususnya yang tidak siap menerima keadaan. Mereka bagaikan memasuki era disrupsi yang...
Dok. Pribadi

Resolusi Jihad dan Politik Santri

👤Asep Salahudin Wakil Rektor Bidang akademik IAILM Suryalaya Ketua Lakpesdam PWNU Jawa Barat 🕔Jumat 23 Oktober 2020, 05:00 WIB
KH Hasyim Asyari dengan cemerlang lewat resolusi itu hendak mengajak kaum santri dan umat Islam untuk merawat dan menjaga keindonesiaan...
dOK. pRIBADI

Apa Langkah setelah TGPF Intan Jaya?

👤Frans Maniagasi Anggota Tim Asistensi UU Otsus Papua 2001 🕔Kamis 22 Oktober 2020, 03:10 WIB
Momentum TGPF Intan Jaya mestinya menjadi pintu masuk pemerintah pusat untuk menuntaskan konfl ik Papua yang telah berlangsung selama lima...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya