Minggu 01 Maret 2020, 19:18 WIB

Wabah Korona di Tiongkok Mereda, Eijkman: Itu Siklus Epideminya!

Ferdian Ananda Majni | Humaniora
Wabah Korona di Tiongkok Mereda, Eijkman: Itu Siklus Epideminya!

MI/Adam Dwi
Lembaga Eijkman/Eijkman Institute for Molecular Biology, Jakarta.

 

KEPALA Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Soebandrio mengatakan, penyebaran wabah virus korona (Covid-19) di Tiongkok telah menurun. Namun, di luar Tiongkok penyebarannya justru mengalami peningkatan yang drastis.

Menurutnya, hal itu terjadi karena muncul sumber penularan yang baru menyebar ke beberapa negara. "Itu memang siklus epideminya agak berbeda. Jadi di Tiongkok mulai menurun tetapi di luar negeri mulai baru naik," kata Amin kepada Media Indonesia, Minggu (1/3).

Komisi Kesehatan Nasional Tiongkok seperti yang dilansir dari Reuters, Jumat (28/2), menyebutkan jumlah kasus infeksi virus korona pada Kamis (27/2) di negara tersebut berjumlah 327 jiwa. Angka itu turun dari hari sebelumnya 433 kasus baru.

Sebelumnya, Amin Soebandrio menyebut pihaknya belum menemukan kasus yang terkonfirmasi positif virus korona. Bahkan, di seluruh Indonesia tidak ada laporan kasus-kasus itu telah terjadi.

Baca juga: 1.020 Orang Sembuh Dari Korona, Beijing Terima Kasih Pada RI

"Kalau memang ada yang lolos, orang bilang mungkin tidak terdeteksi. Sekarang faktanya tidak ada satupun kasus yang memenuhi gejala-gejala seperti yang diuraikan WHO, itu tidak pernah," kata Amin.

Dia menambahkan, laboratorium-laboratorium medis sudah mempunyai alat untuk dengan cepat mendiagnosis orang yang terjangkit virus korona dari Wuhan. Sehingga beberapa orang yang dicurigai ternyata juga tidak ditemukan adanya konfirmasi positif novel virus korona.

"Semua mereka yang dicurigai dan dilakukan pemeriksaan dan terbukti negatif," sebutnya.

Terkait kebalnya masyarakat Indonesia karena faktor genetik atau etnis hingga kebiasaan sejak kecil sudah dibiarkan kotor-kotoran, dan panas-panasan, dia menyebut belum memiliki data ilmiah tentang karakteristik virus tersebut.

"Apakah dia (virus korona) betul tahan panas, tidak tahan kelembaban, atau mati dalam suhu atau waktu sekian menit, itu belum ada kajian yang mendalam serta laporan ilmiahnya," paparnya.

Baca juga: Berita Pasien Meninggal di Semarang Akibat Korona, Hoaks!

Dia menegaskan, pihaknya tidak ingin berspekulasi dalam ketahanan virus tersebut. Saat ini, sambung Amin, baru ada rujukan atau referensi terkait virus korona jenis lainnya ialah MERS atau SARS.

"Jadi tidak bisa begitu saja diekstrapolasikan atau diterapkan di virus korona yang baru ini," lanjutnya

Dia berharap virus korona Covid-19 itu tidak mampu beradaptasi atau berkembang di Indonesia. Namun, tentunya terkait kebenaran ketidaktahanan virus itu belum ada dasar ilmiah yang kuat.

"Dengan kondisi ini, kita semua juga jangan justru menjadi lalai dan mengabaikan kemungkinan-kemungkinan yang ada, menganggap karena panas jadi virus korona tidak ada, jadi belum ada kajian ilmiahnya ya," tegasnya.

Dia menambahkan, kini ada dua alat yang dipakai untuk mendeteksi virus korona, yaitu Polymerase Chain Reaction atau PCR dan sequencing. PCR digunakan untuk melihat apakah keluarga dari virus korona terdapat di dalam tubuh pasien sedangkan sequencing untuk memastikan apakah itu virus merupakan korona atau bukan.

"Yang punya alatnya juga cukup banyak, bukan hanya laboratorium perguruan tinggi melainkan juga pihak swasta. Tapi swasta kan tidak rutin pemeriksaan untuk virus korona. Yang saya tahu saat ini yang memeriksa adalah Litbangkes Kemenkes dan kedua di Lembaga Eijkman," terangnya.

Baca juga: Wanita Korsel Bunuh Diri di Hotel Negatif Virus Korona

Lembaga Eijkman tentunya sudah berpengalaman dalam mendeteksi virus jenis lain yang sebelumnya sudah diisolasi. Bahkan deteksi virus Korona tersebut dapat dilakukan selama beberapa jam saja.

"Kami mendapatkan contoh itu bukan virusnya tapi bagian DNA-nya saja. Jadi yang dikerjakan di laboratorium kami sudah divalidasi dan sudah diuji kontrol positifnya betul, kontrol negatifnya juga betul. Jadi Insya Allah hasil yang kami berikan itu mewakili. Kalau memang tidak ada ya tidak ada."

Menurutnya, sampel DNA itu berasal dari swab hidung atau tenggorokan dari orang yang diduga memiliki gejala virus korona.

"Pemeriksaan di laboratorium beberapa jam. Tapi biasanya dilakukan validasi kemudian dicek ulang untuk memastikan apakah itu betul negatif atau betul positif. Kadang-kadang harus mengulangi lagi, tapi kalau prosesnya 4-5 jam sudah selesai," pungkasnya. (Fer/A-3)

Baca Juga

DOK PARTAI GOLKAR

Golkar Kembali Sumbang Alat Pencegahan Covid-19 Untuk Tangsel

👤mediaindonesia.com 🕔Selasa 07 April 2020, 17:13 WIB
Selain disinfektan, Golkar juga menyumbang 15 galon hand sanitizer untuk...
ANTARA FOTO/Moch Asim

Kebutuhan Ventilator di Indonesia Baru Terpenuhi Separuh

👤Hilda Julaika 🕔Selasa 07 April 2020, 16:57 WIB
Saat ini jumlah ventilator di ruang ICU rumah sakit pemerintah (BUMN) baru mencapai 50%. Padahal kebutuhan ventilator untuk penanganan...
Antara

Pegadaian Donasi Ambulans dan Peralatan Medis

👤Atalya Puspa 🕔Selasa 07 April 2020, 15:40 WIB
PT Pegadaian (Persero) menyerahkan satu unit ambulans yang telah dimodifikasi dan peralatan medis ke PMI DKI Jakarta untuk membantu...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya