Minggu 01 Maret 2020, 07:55 WIB

Dokumentasi Luka Mantan Kombatan Anak Konflik Ambon

Dmr/J-1 | Humaniora
Dokumentasi Luka Mantan Kombatan Anak Konflik Ambon

MI/PIUS ERLANGGA
Pemimpin redaksi Narasi Tv, Zen RS (kiri), Ketua Program Studi S-1 Departemen Hubungan Internasional, Fisipol UGM Dr. Diah Kusumaningrum

 

NARASI menggelar pemutaran perdana film dokumenter berjudul Luka Beta Rasa, kemarin, di Intiland Tower, Sudirman, Jakarta. Film yang diproduksi Narasi bekerja sama dengan Pusat Studi Agama dan Demokrasi (Pusad) Paramadina merupakan bagian dari seri dokumenter The Invisible Heroes yang digulirkan Narasi tahun ini.

Film tersebut mengisahkan mantan kombatan anak saat konflik agama di Ambon bergulir 1999-2002.

"Saya menyesal menjadi pelaku sejarah kekerasan pada zaman itu. Saya kehilangan masa muda saya. Seharusnya anak usia 10 tahun bersama orang tua dan kawan-kawannya bermain," ujar Ronald Regang, salah satu mantan pasukan anak Agas dan anggota tim Cichak yang disegani.

Ronald tidak sendirian, ada ribuan anak yang terpaksa jadi kombatan saat peristiwa paling berdarah di Maluku terjadi. Konflik sektarian antara Kristen dan Islam melibatkan anak-anak usia 7-15 tahun. Dari sejumlah dokumen yang beredar, jumlah mereka diperkirakan mencapai 4.000 anak.

Setelah 21 tahun berselang, Ronald mencari kembali teman-teman masa kecilnya yang juga tumbuh dengan trauma perang.

Mereka yang semasa kecil menjadi pasukan khusus pembuka jalan yang berani maju di garis depan dan lihai merakit bom, kini hidup berpencar. Sebagian masih tinggal di Ambon, sebagian lainnya berusaha melupakan masa lalu dengan tinggal di kota lain.

Cerita Ronald dan teman-teman masa kecilnya yang tumbuh dengan trauma perang inilah yang coba ingin dibagikan Narasi.

"Tidak ada pemenang dalam perang. Semua kalah. Juga kemanusiaan. Film ini berusaha menggambarkan hal itu dengan setenang mungkin, kendati dendam, kemarahan, dan kepahitan masih menyeruak diam-diam," ungkap Pemimpin Redaksi Narasi Zen RS.

"Tokoh-tokoh di film ini adalah arsip hidup betapa perang memang bisa berakhir, tapi ingatan akan perang bisa sepanjang usia. Kesaksian mereka adalah bukti bahwa darah bisa habis, tapi air mata tidak, seperti juga trauma," lanjutnya.

Sebelum ditayangkan di website Narasi untuk publik secara luas pada Maret mendatang, Narasi dan Pusad Paramadina rencananya akan menggelar serangkaian pemutaran film Luka Beta Rasa dan diskusi terbatas di berbagai kota di Indonesia. (Dmr/J-1)

Baca Juga

ANTARA/AHMAD SUBAIDI

Demam Berdarah masih Harus Diwaspadai

👤Media Indonesia 🕔Rabu 01 April 2020, 02:30 WIB
KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan agar masyarakat tidak hanya terpaku pada pandemi covid-19, tapi juga tetap mewaspadai ancaman...
ANTARA/Arif Firmansyah

Langka, Penyandang Disabilitas Produksi Masker

👤Media Indonesia 🕔Rabu 01 April 2020, 01:00 WIB
Para penyandang disabilitas penerima manfaat (PM) di Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Fisik (BRSPDF) Wirajaya, Makassar,...
ANTARA /HARVIYAN PERDANA PUTRA

Dorong Keterbukaan untuk Putus Mata Rantai

👤Atikah Ishmah Wahyu 🕔Rabu 01 April 2020, 00:30 WIB
Keterbukaan informasi pasien positif covid-19 dapat berguna untuk meningkatkan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya