Tiza Mafira Siapkan Kantong Belanja Sendiri

Penulis: MI/Richaldo Y Harianja Pada: Kamis, 18 Feb 2016, 01:30 WIB Hiburan
Tiza Mafira Siapkan Kantong Belanja Sendiri

MI/Adam Dwi

INISIATOR plastik berbayar, Tiza Mafira, 32, gerah dengan kondisi sampah plastik di Indonesia. "Karena mendapatkan plastik gratis saat belanja, jadi masyarakat menggunakan tanpa perhitungan," ucap dia.

Dia kemudian melancarkan petisi secara daring melalui Change.org. Siapa sangka, sambutan terus berdatangan hingga akhirnya dirinya memutuskan untuk membentuk Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP) sebagai pemrakarsa program plastik berbayar. Gerakan itu kini juga secara serius mulai mendapatkan dukungan pemerintah, terutama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Seruannya untuk membuat plastik menjadi barang yang dibayar bertujuan mengubah pola hidup masyarakat yang selama ini boros menggunakan kantong plastik. Dia berharap keengganan orang untuk membeli plastik dengan sendirinya mengurangi peredaran plastik.

Perubahan tersebut, diakui Tiza, sudah dilakukannya selama lima tahun terakhir karena, bagi Tiza, perubahan yang baik itu berasal dari diri sendiri. "Sama sekali orang sekitar tidak ada yang menganggap saya aneh atas kebiasaan baru tersebut, justru, dengan melihat konsistensi, mereka malah ikutan tidak menggunakan kantong plastik," ucap Tiza sambil tertawa.

Penularan virus positif itu dinyatakan Perempuan Peneliti Hukum Lingkungan tersebut berhasil menginfeksi rekan kantornya. Pasalnya, Tiza selalu menyiapkan kantong belanja sendiri di meja kerjanya yang akhirnya digunakan rekan kerjanya. "Namun yang paling sulit ialah mengubah 'orang rumah' karena pembantu rumah tangga masih terbiasa dengan kebiasaan lama," ucap perempuan yang mengantongi gelar Master of Laws dari Harvard Law School itu. Selain itu, menurut Tiza, pelaku bisnis ritel selalu berkilah mengenai tidak adanya regulasi yang mengatur mekanisme plastik berbayar.

Itu sebabnya Tiza merasa harus ada perubahan kebijakan untuk mengurangi tumpukan sampah plastik di Indonesia. "Sebenarnya, kawan-kawan sudah banyak yang berkampanye, tapi itu pun baru di Bandung. Ketika ada petisi tersebut, kita buat gerakan nasional ini," terang Tiza kepada Media Indonesia, kemarin.

Keluar kerja

Keseriusan Tiza menekuni dan mengawal isu ini membuat dia harus berpindah tempat kerja. Namun, dia justru merasa ada peningkatan dalam karier. "Di tempat lama saya memang sebagai pengacara, tapi di tempat baru ini saya sebagai peneliti bidang lingkungan yang memang latar belakang saya," ucap Tiza.

Pun dengan keputusannya untuk memasuki ranah non-government organization yang justru lebih banyak menyita waktu ketimbang pekerjaan. Hal tersebut semata-mata karena kepeduliannya terhadap lingkungan. "Sebenarnya, plastik berbayar ini adalah quick win dalam pengurangan sampah, masih ada lagi yang perlu kita benahi," papar Tiza. Menurutnya, yang krusial lainnya ialah penegakan hukum terhadap pemilahan sampah di rumah tangga. "Kalau masyarakat bisa memilah sampah dari sumber, tidak ada lagi alasan kita butuh plastik sebagai tempat sampah. Tumpukan sampah kita akan berkurang, saya sendiri mengalami itu," tutup Tiza. (H-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More