Minggu 01 Maret 2020, 01:10 WIB

La Dolce Vita, Satir Pasca-Neorealisme Italia

Fathurrozak | Weekend
La Dolce Vita, Satir Pasca-Neorealisme Italia

DOK. WWW.IMDB.COM

TUMBANGNYA pemerintahan fasis Mussolini di Italia, circa 1940-an, melahirkan karya-karya sinema bergaya neorealisme, sinema yang menyajikan realitas Italia pascaperang. Tokoh-tokohnya, antara lain, sutradara Roberto Rosselini (Rome, Open City), juga Luchino Visconti (Obsession).

Satu setengah dekade berikut, prinsip-prinsip neorealisme perlahan ditinggalkan, beralih kepada adaptasi gaya-gaya Hollywood klasik yang identik dengan konklusi dan narasi terstruktur.

La Dolce Vita (1960) garapan sineas Federico Fellini, menjadi salah satu film yang muncul di era transisi tersebut. Dengan materi sureal yang menyoal perubahan tatanan nilai dan moralitas, La Dolce Vita menjadi salah satu 'milestone' pada karier Fellini selaku sineas.

La Dolce Vita --yang tercantum dalam 100 sinema dunia terbaik versi Empire, majalah film kenamaan di Inggris-- dibuka adegan mencolok bernuansa satir. Patung Yesus diangkut helikopter, dan melayang-layang di udara. Melewati reruntuhan, melintasi Basilika Santo Petrus, hingga di atas atap sekumpulan perempuan berbikini yang tengah berjemur.

La Dolce Vita menyoroti kehidupan sehari-hari Marcello Rubini (Marcello Mastroianni), jurnalis gosip yang kerap berinteraksi dengan para selebritas dunia showbiz. Di balik medan liputannya yang gemerlap, Marcello sesungguhnya menyimpan kegelisahan soal impiannya berkutat di dunia sastra dan menerbitkan novelnya sendiri. Ia juga memiliki romansa muram dengan kekasihnya yang suka mengasihani diri sendiri, Emma (Yvonne Furneaux). Marcello dan kemudian jatuh hati kepada Maddalena (Anouk Aimee), pun tergoda dengan aktris Hollywood yang tengah berkunjung ke Italia, Sylvia (Anita Ekberg).

Gaya neorealisme diartikan sebagai suatu sinema yang mereplikasi realitas (termasuk dengan menggunakan aktor amatir, dan syuting di luar studio untuk mendapat suasana riil). Di film ini, Fellini menafikan dua elemen itu. Bahkan, hampir sebagian besar latar dalam La Dolce Vita diambil di dalam studio. Namun, aroma realisme dalam film pemenang penghargaan Palem Emas 1960 ini tetap menguar.

Misalnya, dalam adegan Marcello dan Maddalena mengantar seorang pekerja seks ke apartemennya yang kena banjir. Gambaran realitas Italia terepresentasikan atau latar masifnya pembangunan gedung baru serta ambience suara para pekerja bangunan dalam beberapa adegan. Situasi ini kontras dengan dunia sehari-hari Marcello berada. Kafe-kafe pinggir jalan Via Veneto. Di bar-bar. Ada tampilan polaritas wajah Italia pada masa itu, yang juga sekaligus beresonansi pada dikotomi perjalanan Marcello.

Barangkali itu dilakukan Fellini terkait dengan masa lalunya. Fellini tumbuh sebagai sineas dalam era Neorealisme Italia. Ialah penulis skenario untuk Rome, Open City, film neorealisme awal yang mendapat perhatian dunia, dan Piala Oscar.

Sekuens-sekuens sureal Fellini bubuhkan pada adegan Marcello bersama Sylvia di Fontana di Trevi. Dalam adegan di air mancur ikonik itu, latar waktu malam tetiba berganti pagi dalam sekejap. Dan air mancur sudah mati. Meninggalkan pertanyaan apakah itu hanya imajinasi dan mimpi Marcello, atau keduanya semalaman berendam di Trevi.

Susunan gambar lain, ketika Marcello yang sudah bekerja di periklanan dan mengadakan pesta bersama para rekannya di sebuah rumah di tepi pantai. Pada bagian akhir, semuanya menuju ke tepi pantai. Melihat para nelayan yang tengah menyeret ikan pari jumbo yang sudah mati. Tidak jauh dari titik penemuan ikan, ada seorang perempuan yang pernah dijumpai Marcello di sebuah tempat makan, Paola.

Syahdan, Paola bercerita pada Marcello bahwa ia bukan berasal dari tempat sekarang ia menetap. Ia sering kali merindukan tempat asalnya. Bisa jadi, lokasi pantai para nelayan menemukan ikan itu, menandakan wilayah asal Paola. Hanya saja, Marcello yang dalam keadaan separuh sadar tidak menyadari bahwa perempuan yang ada di seberang ialah Paola yang pernah ia jumpai dulu.


Paparazi dan tragedi

Salah satu sumbangan istilah La Dolce Vita dalam jurnalisme bisa jadi ialah paparazi. Istilah yang kini merujuk para fotografer penguntit selebritas dan seringnya melewati batas etika. Paparazi ialah pelesetan dari nama tokoh Paparazzo, rekan tandem Marcello di lapangan. Nama Paparazzo disinyalir berasal dari kata papateceo, alias nyamuk.

Tak seperti judulnya, yang kurang lebih berarti kemanisan hidup, film ini lebih banyak menawarkan ironi dan tragedi di tengah selipan gemerlap Via Veneto. Kematian mentor dan sahabat Marello, Steiner (Alain Cuny) ialah tragedi yang disuguhkan secara tebal. Seorang intelektual yang secara kasatmata tidak memiliki permasalahan hidup orang kebanyakan, malah mengakhiri hidupnya secara tragis.

Sepanjang film, tingkah laku para paparazi yang tanpa empati dalam memburu foto kerap dimunculkan. Misalnya, saat memfoto istri Steiner yang berkabung, atau ketika Marcello dipukul Robert (Lex Barker), suami Sylvia, juga saat Robert tertidur di mobil. Dengan leluasa para paparazi mengarahkan lensa dan 'merekayasa' posisi Robert tertidur di mobil.

Gambaran tersebut tampaknya masih relevan dengan kondisi saat ini, ketika masih terdapat praktik-praktik jurnalisme yang menerabas batas privasi dan sekadar memandang manusia-manusia sebatas objek berita.

Berbeda dengan kebanyakan film Hollywood di era tersebut, film ini juga tidak punya akhir yang manis, pun resolusi penutup. Tampaknya kendati perfilman Italia mulai terhanyut dengan gaya Hollywood, Fellini belum hendak turut melarung .

Fenomena yang tengah berlangsung di industri perfilman Italia saat itu pun ia sentil lewat salah satu adegan La Dolce Vita. "Apakah menurut Anda neorealisme sudah mati?", begitu Sylvia ditanya wartawan setiba di Roma. Film yang ternyata tak Hollywood banget ini rupanya jawaban Fellini. (M-2)

Baca Juga

ScienceMag/Markus J Buehler

Dengarkan 'Nyanyian' Virus Korona Ini

👤Abdillah Marzuqi 🕔Selasa 07 April 2020, 19:26 WIB
Para ilmuwan mencari format baru yang diharapkan mampu menunjukkan bagian protein yang bisa diikat antibodi atau...
Gatesnotes.com

Rekomendasi Bacaan #DiRumahAja dari Buku Favorit Bill Gates

👤Bagus Pradana 🕔Selasa 07 April 2020, 15:00 WIB
Buku Why We Sleep dikatakan Bill Gates membuatnya mengubah pola...
Patrick Meinhardt /AFP

Terbukti, Anak-anak Lebih Tahan Terhadap Virus Korona

👤Galih Agus Saputra 🕔Selasa 07 April 2020, 11:50 WIB
Kebayakan dari mereka juga tidak memerlukan perawatan intensif di rumah sakit, bahkan kecil kemungkinannya meninggal...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya