Sabtu 29 Februari 2020, 09:39 WIB

Babak Baru Jalan Plastik di Tegal

(Bus/M-1) | Weekend
Babak Baru Jalan Plastik di Tegal

ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah/aww.
Sejumlah pekerja melakukan pengaspalan plastik saat ujicoba aspal dari bahan baku plastik di Komplek Pemerintahan Kota Tegal, Jawa Tengah.

MUSIM penghujan kerap membawa imbas kerusakan di ruas-ruas jalan. Kekuatan aspal berkurang akibat diguyur hujan dan ditambah gerusan kendaraan-kendaraan dalam volume tinggi.

Kerusakan jalan tidak terkecuali terjadi di Kota Tegal, Jawa Tengah. Uniknya, perbaikan beberapa ruas jalan di kota itu yang akan berlangsung April bukan menggunakan aspal biasa.

Resti Drijo Prihanto, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Tegal, mengungkapkan Pemkot Tegal akan menggunakan aspal dengan campuran plastik. Sebelumnya, aspal serupa memang telah digunakan di Balai Kota Tegal.

"Kami telah menandatangi MoU dengan PT Chandra Asri dan kemarin telah menguji coba aspal plastik tersebut di Balai Kota dan hasilnya sangat memuaskan. Mungkin sekitar bulan April untuk rencana pelaksanaan kembali program ini, kita masih menghitung dengan PU lokasi-lokasi yang akan menggunakan aspal plastik ini," jelas Resti kepada Media Indonesia, Selasa (24/2).

Pemanfaatan limbah plastik menjadi campuran aspal sesungguhnya bukan hal baru di Tegal. Kajian potensi pemanfaatan material daur ulang plastik sebagai bahan campuran untuk pengaspalan jalan telah dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Balitbang Kementerian PU-Pera) sejak 2008. Hasil dari pengujian itu kemudian diterapkan di jalan-jalan nasional di Jakarta, Maros (Sulawesi Selatan), Bekasi, Denpasar, dan Banten.

Setelah sukses dari proyek itu, kemudian diikuti salah satu produsen petrokimia yang menghasilkan bahan baku plastik. Pada Juli 2018, di jalan pabriknya di Cilegon, Banten, PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (CAP) menggunakan aspal campuran plastik untuk ruas sepanjang 1,8 km.

Dalam pembangunan jalan tersebut, mereka menghabiskan 3 ton sampah plastik jenis high density polyethilene (HDPE) yang terlebih dahulu telah melalui proses pencacahan. "Kami mencampurkan sampah plastik yang telah dicacah ini sebagai bahan campuran aspal untuk meningkatkan kekuatan jalan, aspal yang telah dicampur dengan bahan plastik ini ternyata mampu meningkatkan stabilitas jalan hingga 40%. Pada akhirnya, aspal lebih 'durable' dan tahan lama sehingga umur pakai aspalnya akan meningkat," ungkap Nicko Setyabudi, selaku praktisi ekonomi sirkular dari PT Chandra Asri dalam acara SGS di Jakarta. Dari situ, kemudian mereka menjalin kerja sama dengan Pemkot Tegal untuk pemanfaatan lebih luas di kota tersebut.

Pemanfaatan skala luas aspal plastik di satu sisi menggembirakan karena menjadi upaya pengurangan sampah plastik. Di sisi lain, dampak samping dari aspal plastik ini juga menjadi pertanyaan. Pengikisan aspal plastik karena cuaca maupun volume kendaraan bisa saja menimbulkan pencemaran mikroplastik ke tanah, air, dan udara.

Namun, Nicko mengungkapkan campuran aspal plastik mereka telah dinyatakan aman dan bebas dari senyawa beracun oleh Balitbang Kementerian PU-Pera.

"Campuran aspal plastik ini telah dinyatakan aman dan bebas dari senyawa berbahaya oleh Balitbang Kementerian PU-Pera. Serangkaian uji klinis juga telah dilakukan untuk menguji apakah ada potensi risiko yang ditimbulkan, hasilnya sejauh ini aman. Plastik tidak terdegradasi dan tidak mengeluarkan racun," tuturnya.

Ia pun mengklaim aspal plastik itu lebih kuat dari aspal biasa. Hal ini terbukti dari pengujian pemasakan (boiling test) yang didapatkan jika aspal plastik memiliki ketahanan 80%-90%. "Dia melekat, berbeda dengan aspal biasa yang mungkin ketahanannya hanya mencapai 60 persen. Tapi kembali lagi ke bagaimana kita men-treat jalan itu. Sebagus apa pun jalan, kalau tidak dilengkapi dengan drainase yang baik dan elevasinya tidak sesuai, ya ujung-ujungnya akan rusak juga," tambahnya. Dalam proses pembangunan jalan, pihaknya juga dikatakan selalu mendapatkan pendampingan dari Kementerian PU-Pera.

Ketahanan yang dimiliki aspal plastik itu berasal dari kandungan senyawa polimer yang ada di dalam plastik ketika dicairkan. Senyawa tersebut sangat potensial untuk difungsikan sebagai bahan pengikat campuran antara aspal dan krikil. Selain sifat elastomer yang dimilikinya, senyawa ini ternyata juga memiliki kelebihan lain, yaitu sifatnya yang ringan dan kuat.

Lapisan plastik itu juga dapat meningkatkan stabilitas jalan dan mencegah terjadinya jalan berlubang karena plastik akan mengisi ruang antarkrikil dan menghalangi air hujan yang biasanya mengisi celah antarkrikil yang menyebabkan kerusakan jalan. Material plastik yang digunakan Chandra Asri untuk mengaspal jalan di areal pabriknya merupakan jenis plastik high density polythylene (HDPE), yang berasal dari kantong plastik bekas yang telah dicacah terlebih dahulu.

Belum larang plastik

Meski bersemangat dalam menggunakan aspal plastik, Pemkot Tegal nyatanya belum mengikuti langkah Pemprov Bali maupun Jakarta yang melarang penggunaan plastik sekali pakai.

Resti mengungkapkan aturan itu tidak mereka terapkan karena melihat adanya manfaat lain dari sampah plastik. "Pemerintah Kota Tegal tidak mengeluarkan larangan kepada warganya untuk menggunakan plastik sekali pakai karena kami baru sadar kalau ternyata barang itu berguna. Kami memilih untuk memanfaatkannya karena larangan tidak akan menyelesaikan masalah yang ada," ungkap Resti.

Untuk memenuhi kebutuhan material plastik yang digunakan sebagai bahan dalam program pembangunan jalan aspal plastik itu, Pemerintah Kota Tegal berencana memberdayakan pemulung.

"Kita tahu seperti kantong plastik ini jika sudah dibuang menjadi tidak ada nilainya. Kami ingin memanfaatkannya sebagai campuran untuk mengaspal jalan tadi. Tapi untuk mendukung program tersebut kami ingin memberdayakan para pemulung, konsepnya mungkin bekerja sama dengan para pemulung agar mereka mendapatkan tambahan penghasilan," ujarnya.

Lebih lanjut, ia berpendapat jika pemanfaatan plastik menjadi aspal merupakan salah satu bentuk penerapan ekonomi sirkular. Konsep ekonomi sirkular kini memang populer di kalangan birokrat sebagai upaya mengatasi permasalahan lingkungan, khususnya sampah plastik.

Sayangnya, banyak kesalahpahaman yang terjadi. Salah satu yang krusial ialah belum dipahaminya prinsip penghematan sumber daya semaksimal mungkin dalam ekonomi sirkular. Penghematan ini bisa dilakukan dengan pengurangan sumber daya material di awal produksi maupun dengan terus menggunakan kembali material itu selama mungkin.

Dengan begitu, larangan penggunaan plastik sekali pakai semestinya juga tetap dijalankan. Bukan terus memproduksi dengan alasan nantinya dapat digunakan untuk aspal maupun hal lain. (Bus/M-1)

"Jadi, sebetulnya permasalahan limbah plastik ini bisa diolah dengan penerapan prinsip ekonomi sirkular, tinggal bagaimana niat kita, apakah kita mau berkolaborasi untuk mengatasi persoalan plastik ini?"

Baca Juga

123RF

Banyak di Rumah, Awasi Risiko Ini

👤Galih Agus Saputra 🕔Kamis 09 April 2020, 20:25 WIB
Banyaknya waktu di rumah berpotensi menaikan berat badan pada...
MI/ Fetry Wuryasti

Masih Gagal Bikin Dalgona? Coba Trik Kami Ini

👤Fetry Wuryasti 🕔Kamis 09 April 2020, 13:00 WIB
Kesukseskan membuat dalgona akan lebih terjamin jika menggunakan kopi instan tanpa...
AFP

Khawatir Pembajakan, Festival Cannes Tolak Beralih ke Digital

👤Fathurrozak 🕔Kamis 09 April 2020, 12:05 WIB
Untuk mencegah penularan covid-19, penyelanggara Festival Cannes lebih memilih memundurkan penyelenggaraan hingga kemungkinan baru...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya