Sabtu 29 Februari 2020, 04:40 WIB

Emiten Dibolehkan Buy Back Shares

Dhika Kusuma Winata | Ekonomi
Emiten Dibolehkan Buy Back Shares

ANTARA
Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso

 

OTORITAS Jasa Keuangan (OJK) memastikan akan menjalankan protokol yang ada guna menahan penurunan tajam harga-harga saham di Bursa Efek Indonesia.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan emiten diperbolehkan melakukan pembelian kembali (buyback share) apabila harga sahamnya mengalami kejatuhan yang sangat besar.

"Tenang saja, kita sudah punya protokolnya. Kalau (penurunan) melebihi threshold (ambang batas) turunnya, ada beberapa yang bisa kita lakukan. Kita membolehkan buyback korporat tanpa melalui RUPS (rapat umum pemegang saham)," kata Wimboh di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, kemarin.

Wimboh menyebut ambang batas penurunan IHSG itu maksimal 8%. Jika penurunan melebihi ambang batas tersebut, emiten diperbolehkan membeli kembali saham perusahaannya yang dimiliki publik.

Wimboh menilai kondisi penurunan IHSG saat ini belum separah kondisi pada 2008 ketika IHSG anjlok hingga 10%. Meski demikian, pihaknya tetap mengantisipasi kemungkinan yang lebih buruk.

"Tidak sampai ke sana (kondisi 2008). (Intinya) Protokolnya sudah siap," ujarnya.

Dalam perdagangan menutup pekan ini, indeks harga saham gabungan (IHSG) berada dalam tekanan yang luar biasa.

IHSG terkoreksi 200 poin dalam 9 menit perdagangan. Bahkan, pada sesi penutupan siang, indeks bertengger di level 5.311 atau melemah sebesar 223 poin atau 4,04%.

Beruntung pada sesi perdagangan kedua, IHSG berhasil memperkecil penurunannya. Indeks akhirnya ditutup hanya turun 82,99 poin atau minus 1,5% ke posisi 5.452,70.

Dalam perdangan kemarin, aksi jual asing dapat diimbangi aksi beli investor lokal. Dari nilai transaksi Rp9,3 triliun, sekitar 55,5% atau sekitar Rp5,1 triliun merupakan aksi jual dan beli investor domestik.

Bila melihat penurunan yang terjadi belakangan ini, IHSG telah kehilangan 7,3% dalam satu pekan ini dan 8,2% dalam satu bulan terakhir.

 

Capital outflow

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menjelaskan aliran modal asing keluar per 27 Februari sebesar Rp26,2 triliun (neto) dan Rp4,1 triliun dari saham.

Dengan begitu, aliran modal asing keluar antara surat berharga negara (SBN) dan saham mencapai Rp30,8 triliun.

Bila dilihat secara year to date (ytd), imbuh dia, terjadi aliran modal asing SBN keluar sebesar Rp11 triliun dan Rp1,6 triliun pada saham.

"Itu pengaruh virus korona karena investor global mereka melepas investasi portofolio, baik SBN dan saham. Itu terjadi juga di Korea, Malaysia, Thailand, dan negara lain," jelasnya.

Terkait dengan pelemahan yang juga menerpa rupiah dan membuat nilai tukar berada di atas 14.000 per dolar AS, Perry memastikan BI terus berada di pasar untuk menstabilkan nilai tukar rupiah melalui domestic non delivery forward (DNDF) maupun pembelian surat berharga negara yang dilepas asing.

"Tahun ini secara keseluruhan kita beli dari pasar sekunder sampai 27 Februari Rp100 triliun," tandasnya. (Hil/Mir/E-1)

 

Baca Juga

Dok. Pribadi

FIKSI 2020 Lahirkan Calon Wirausahawan Muda Indonesia

👤Syarief Oebaidillah 🕔Minggu 25 Oktober 2020, 00:25 WIB
Meski di tengah situasi pandemi Covid-19, para peserta FIKSI 2020 telah menghasilkan rencana bisnis dan rintisan usaha-usaha...
Antara

Presiden Optimistis Perekonomian Lekas Membaik, Ini Indikatornya

👤Dhika Kusuma Winata 🕔Sabtu 24 Oktober 2020, 21:35 WIB
"Tetapi dibandingkan dengan negara-negara lain, kontraksi ekonomi Indonesia relatif lebih landai dan saya meyakini Insyaallah mampu...
ANTARA/Abriawan Abhe

Tiga Bulan, Tripartit Nasional Bahas RPP Turunan UU Ciptaker

👤M Iqbal Al Machmudi 🕔Sabtu 24 Oktober 2020, 20:30 WIB
Saat ini pemerintah bersama Tripartit Nasional (perwakilan pemerintah, pengusaha, dan SP/SB) dan akademisi telah mulai membahas...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya