Sabtu 29 Februari 2020, 05:30 WIB

Agar BUMN Makin Dekat di Hati

Fetry Wuryasti | Weekend
Agar BUMN Makin Dekat di Hati

Dok.MI

Judul buku: BUMN Hadir untuk Negeri

Penulis: Farhan Zhuhri, Ilham Ananditya, Rukmi Hapsari

Tahun terbit: Januari 2020

Jumlah halaman: 249

Penerbit: Media Indonesia Publishing

Buku setebal 249 halaman ini mengulas sepak terjang perusahaan-perusahaan pelat merah selama periode 2014-2019. Dari restrukturisasi, proyek strategis, hingga kontribusi.

SEJALAN dengan filosofi perekonomian Indonesia yang mengedepankan kebersamaan dan kesejahteraan, negara selama ini hadir di 'pasar' melalui perusahaan-perusahaan pelat merah. Walau bukan tanpa kisah jatuh bangun, kiprah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam membangun perekonomian nasional tak dapat dimungkiri.

Nah, sejauh mana peranan mereka telah kita pahami?

Lewat buku BUMN Hadir untuk Negeri, publik bisa menyimak sepak terjang dan performa teranyar perusahaan-perusahaan tersebut. Buku setebal 249 halaman itu mengulas progres kerja dan pencapaian BUMN selama

periode 2014-2019.

Dalam kurun tersebut, kita dapat melihat bahwa cukup banyak kemajuan yang dicapai BUMN. Bab pertama yang bertajuk BUMN Alat Kesejahteraan Rakyat, menuturkan perkembangan perusahaan BUMN dari sisi jumlah aset, keuntungan, hingga kontribusi untuk negara. Misalnya, ada peningkatan aset BUMN per 2014 senilai Rp4.600 triliun menjadi Rp8.207 triliun per 2018 jika dibandingkan dengan aset pemerintah yang senilai Rp 3.910 triliun menjadi Rp6.325 triliun (hlm 15). Kemudian, sumbangsih BUMN terhadap anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) yang konsisten bertambah dari Rp303 triliun per 2015 menjadi Rp466 triliun pada 2018 (hlm 16).

Performa tersebut menjadi prestasi jika mengingat bahwa di samping memiliki sejumlah mandat sebagai agen pembangunan--yang antara lain harus dapat memberikan multiplier effect terhadap perekonomian nasional--BUMN harus pula menjaga kredibilitas dan akuntabilitas masing-masing, termasuk soal kesehatan keuangannya.

Mungkin masih tersimpan di benak kita, beberapa kehebohan publik yang ditimbulkan BUMN, seperti kasus asuransi Jiwasraya baru-baru ini atau kasus laporan keuangan maskapai Garuda Indonesia. Namun, kasus-kasus tersebut tentu saja tak dapat digeneralisasi sebagai wajah BUMN kita. Apalagi dalam beberapa tahun belakangan pemerintah tengah menggencarkan transformasi BUMN. Salah satunya melalui langkah restrukturisasi.

Era Menteri Rini

Ide restrukturisasi sesungguhnya bukan hal baru. Gagasan itu telah dilontarkan bahkan diejawantahkan sebagai cetak biru BUMN Indonesia sejak kelahiran Kementerian Negara Pendayagunaan BUMN, sekitar dua dekade silam. Ketika itu, Indonesia tengah didera krisis moneter Asia. Nilai tukar yang anjlok dan inflasi tajam memaksa pemerintahan Presiden ke-2 RI Soeharto untuk meminta bantuan Lembaga Dana Moneter Internasional (IMF). Imbasnya ialah utang setara kurang lebih US$23 miliar.

"Pak Soeharto bilang jangan khawatir dengan utang, kita punya banyak BUMN. Dia mengatakan tanpa menjelaskan korelasinya," kata Tanri Abeng dalam acara Obrolan Pembaca Media Indonesia bertema Bedah buku BUMN Hadir untuk Negeri, di Jakarta, Rabu (26/2).

Setelah meneken perjanjian dengan IMF, Presiden Soeharto kemudian menunjuk Tanri Abeng, yang kala itu menjabat sebagai Presiden Bakrie & Brothers, sebagai menteri BUMN pertama. Tanri diberi instruksi untuk menaikkan kinerja 159 perusahaan BUMN yang tersebar di 17 kementerian. BUMN diharapkan dapat mencetak laba yang bisa dimanfaatkan pemerintah untuk membayar utang atau dijual ke swasta (privatisasi).

Masalahnya, lanjut Tanri, separuh dari jumlah perusahaan negara itu dalam kondisi tidak sehat.

"Akhirnya, saya meminta agar perusahaan BUMN itu dikeluarkan dari 17 kementerian dan dibentuk menjadi national holding company dan diturunkan kepada 10 sektoral holding. Maka, langkahnya adalah restrukturisasi, kemudian digenjot agar terjadi profitisasi. Baru setelah nilainya tinggi, kemudian diprivatisasi," jelasnya.

Walakin, Tanri tak lama menjabat. Selang satu setengah tahun, ia digantikan Laksamana Sukardi. Rencana restrukturisasi BUMN pun terkatung-katung hingga puluhan tahun, seiring menteri BUMN yang silih berganti. Barulah pada era Menteri BUMN Rini Mariani Soemarno (2014-2019), ada aksi konkret melalui pembentukan sejumlah subholding BUMN, umpama holding BUMN perkebunan di bawah PT Perkebunan Nusantara III, holding BUMN migas di bawah PT Pertamina, atau holding BUMN pertambangan di bawah PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum).

Perihal holding BUMN pertambangan, yang kemudian dinamai Mining Industry Indonesia (Mind Id), dielaborasi lebih jauh dalam bab 2 Agar Berkah Tambang Mengalir sampai Jauh.

Bab tersebut mengulas pula perjuangan pemerintah agar Indonesia dapat menjadi pemegang saham mayoritas di PT Freeport Indonesia, yang sebelumnya dikuasai Freeport McMoran dari Amerika Serikat.

Proses divestasi bukan sesuatu yang berjalan tanpa drama. Pro-kontra, suara pesimistis, dan berbagai konfrontasi turut lalu lalang. Untuk proses akuisisi ini, diperlukan modal kuat. Untuk itu, dibentuklah holding tambang BUMN yang merupakan konsolidasi perusahaan-perusahaan BUMN tambang. Inalum dijadikan induk karena sahamnya 100% milik pemerintah.

Keberhasilan pemerintah mengambil alih PT Freeport Indonesia yang sudah selama 50 tahun dikuasai asing pun terealisasi pada akhir 2018. Mind Id sebagai holding pertambangan ditujukan agar pertambangan Indonesia dapat memberikan kesejahteraan bagi rakyat melalui program hilirisasi.

Pada wawancara yang termaktub dalam buku ini, Direktur Utama Inalum (2017-2019), Budi Gunadi Sadikin, yang kini menjabat sebagai wakil menteri BUMN mengatakan pembentukan Mind Id bukan berarti pembenahan di sektor tambang selesai. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan agar hasil holding tersebut dapat memberikan benefit maksimal bagi bangsa (hlm 63).

Tugas yang pertama ini ialah mengolah cadangan mineral strategis. Selain membeli Freeport dan direncanakan juga akan membeli Vale, Indonesia juga akan melakukan eksplorasi guna menemukan cadangan-cadangan mineral strategis baru.

Kemudian, holding juga diterapkan pada sektor migas dengan menempatkan PGN menjadi anak perusahaan Pertamina. Perihal holding BUMN sektor tersebut diulas pada bab 3 yang berjudul Mengolah Kekayaan Migas Nusantara untuk Indonesia Sejahtera.

Pada bab tersebut, pembaca diajak menelaah manfaat dari pembentukan holding migas beserta proyek-proyek strategis yang tengah digarap. Bab ini juga menyoroti gebrakan pemerintah lewat kebijakan BBM satu harga demi pemerataan bagi masyarakat di wilayah terjauh, terdepan, dan terluar (3T) di Indonesia.

Konektivitas

Jika bicara soal pereknomian Indonesia sebagai negara kepulauan, tentu tak dapat dilepaskan dari aspek konektivitas dan BUMN ialah salah satu motor pembangunnya.

Bab 4 berjudul BUMN Juara mengulas salah satu realisasi besar sepanjang 2014-2019, yaitu pembangunan fisik infrastruktur. Perusahaan BUMN, seperti PT Hutama Karya, PT Adhi Karya, PT Waskita Karya, PT Wijaya Karya, PT Jasa Marga, dan PT Pembangunan Perumahan, bahu-membahu. Hasilnya, konektivitas darat terbangun dari pembangunan Trans-Sumatra, Trans-Jawa, Trans-Jabodetabek, Tol Kalimantan, dan Tol Sulawesi. Tentunya konektivitas darat terkait pula dengan moda perkeretaapian yang kelak akan semakin ciamik dengan proyek kereta api cepat ataupun LRT.

Sementara itu, konektivitas di laut juga diperkuat dengan pembangunan sejumlah pelabuhan baru, pun pengembangan pelabuhan yang sudah ada. Bahkan, program pengembangan konektivitas laut telah menurunkan dwelling time (waktu bongkar kargo hingga keluar pelabuhan) dari 7,36 hari pada 2014 menjadi 3,12 hari pada 2018 (hlm 142). Apa artinya? Perekonomian yang lebih efisien, ongkos yang lebih rendah, dan ujung-ujungnya diharapkan harga produk yang lebih ekonomis di konsumen akhir (masyarakat).

Bab terakhir, yaitu Rakyat Juara, mencatat program-program Kementerian BUMN dan BUMN yang ditujukan bagi masyarakat kecil. Kartu tani maupun Balkondes (Balai Ekonomi Desa) ialah dua di antara banyak program tersebut.

Kartu tani, misalnya, ialah hasil kolaborasi 9 BUMN yang dimaksudkan untuk membantu meningkatkan daya tawar petani. Dari bantuan kredit, pendampingan, hingga asuransi gagal panen. Sementara itu, Balkondes merupakan kegiatan pengembangan desa wisata di kawasan sekitar Candi Borobudur yang melibatkan 20 BUMN sponsor. Tujuan mereka ialah membangun Balkondes sebagai etalase potensi dewa yang dilengkapi beragam fasilitas, dari akomodasi, workshop, kuliner, hingga atraksi kesenian (hlm 224).

Di samping rekam jejak performa BUMN, buku ini juga memuat wawancara dengan sejumlah pucuk tertinggi perusahaan pelat merah. Seperti dari PT Waskita Karya mengenai holding karya, perkembangan jaringan tol, dan transportasi di Indonesia. Disematkan pula wawancara bersama Budi Sasongko, Direktur Utama PT Garam, mengenai produksi, revitalisasi, dan sinergi perusahaan dengan BUMN lainnya untuk mewujudkan ketahanan pangan.

Dengan materi komprehensif dan data cukup aktual, termasuk sejumlah infografis, buku BUMN Hadir untuk Negeri, diharapkan Direktur Pemberitaan Media Indonesia, Usman Kansong, dapat menjadi warisan, di samping sebagai upaya memperluas publikasi tentang kehadiran BUMN. 'Juga agar setelah membaca buku ini, publik pun bisa memberi masukan, saran, maupun kritik, bila ada hal-hal yang belum pas dalam kiprah BUMN,' tulisnya dalam kata pengantar. (M-2)

Baca Juga

 CHARLY TRIBALLEAU / AFP

Sony Bocorkan Controller Gim Generasi Baru untuk PlayStation 5

👤Bagus Pradana 🕔Kamis 09 April 2020, 08:15 WIB
Sistem ini menawarkan lebih banyak kerumitan pada para pemain, namun akan memberikan sensasi 'efek getaran' yang lebih intens dari...
Lionel BONAVENTURE / AFP

Ini Alasan Perusahaan Spyware Israel Retas Whatsapp

👤Abdillah Marzuqi 🕔Kamis 09 April 2020, 05:49 WIB
NSO Group menganggap gugatan WhatsApp akan berimbas pada masalah keamanan nasional dan kebijakan luar negeri klien...
Antara/Muhammad Arif Pribadi

Peneliti Gunakan Sisa Bom Nuklir untuk Tentukan Usia Hiu Paus

👤Abdillah Marzuqi 🕔Kamis 09 April 2020, 05:19 WIB
Peneliti senior dari Australian Institute of Marine Science, Mark Meekan, bersama tim menyelesaikan debat lingkaran pertumbuhan itu dengan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya