Jumat 28 Februari 2020, 18:21 WIB

 RUU Cipta Kerja Atur Perusahaan untuk Cegah Karhutla

mediaindonesia.com | Politik dan Hukum
 RUU Cipta Kerja Atur Perusahaan untuk Cegah Karhutla

Istimewa
Tenaga Ahli Menteri LHK Bidang Legislasi Legal dan Advokasi, Ilyas Asaad.

 

KEMENTERIAN Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menegaskan bahwa RUU Cipta Kerja mengatur perusahaan pemegang izin tetap berkewajiban menjaga areal konsesinya dari ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Penjelasan tersebut sekaligus menjawab pertanyaan di ruang publik mengenai perubahan pasal dalam Undang-Undang (UU) Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.

''Bila ada pertanyaan, apakah dengan adanya Omnibus Law kemudian perusahaan tidak lagi bertanggung jawab pada karhutla di areal konsesinya? Jelas ini tidak benar. Pasal 49 UU Kehutanan tidak dicabut, tetapi diubah dengan mewajibkan korporasi melakukan juga pencegahan dan pengendalian karhutla di areal konsesinya,'' tegas Tenaga Ahli Menteri LHK Bidang Legislasi Legal dan Advokasi, Ilyas Asaad pada media di Jakarta, Kamis (27/2).

RUU Omnibus Law mengusung semangat menyederhanakan regulasi, karenanya ketentuan pada satu pasal, bukan berarti menghilangkan norma hukum secara keseluruhan. Ketentuan pada Pasal 49 ini tidak terlepas dari Pasal 50 dan Pasal 78 dalam UU yang sama.

Menurut Ilyas, perubahan pada Pasal 49 dari 'bertanggung jawab terhadap terjadinya kebakaran' menjadi 'wajib' melakukan pencegahan dan pengendalian, harus dilihat kaitannya dengan Pasal 50 yang telah mengatur larangan membakar, bahkan kemudian sanksi pidana bagi pembakar juga diatur dalam Pasal 78 ayat 2 dan ayat 3.

Dengan demikian,  larangan membakar menjadi lebih luas bukan hanya bagi pemegang izin. Dalam RUU Omnibus Law, hal tersebut  juga dibedakan antara sengaja dan lalai.

''Tanggung jawab perusahaan dalam karhutla justru makin berat karena selain dilarang membakar juga wajib melakukan pencegahan dan pengendalian kebakaran. Jadi membaca RUU Omnibus Law harus secara utuh karena antara pasal per pasal saling berkaitan,'' jelas Ilyas yang juga menjadi tim ahli Omnibus Law Bidang LHK ini.

Pasca-karhutla 2015, KLHK telah melakukan berbagai langkah korektif pengawasan pada perusahaan secara ketat, dan ini belum pernah dilakukan pada masa-masa sebelumnya, terutama pada lahan gambut. KLHK juga mendapat kewajiban membuat dokumen rencana pemulihan ekosistem gambut, yang juga merupakan bagian dari upaya holistik pencegahan karhutla di areal konsesi. 

''Jadi dalam Omnibus Law diperkuat lagi penegasan tentang pencegahan adalah menjadi tanggung jawab perusahaan. Konsesi hutan tanaman industri (HTI) juga diperintahkan untuk melakukan kontrol dan menjaga karhutla hingga radius  2-5 km di luar batas konsesinya,'' jelas Ilyas. 

Penegakan hukum lingkungan pada perusahaan, ditegaskan Ilyas, dilakukan pemerintah bukan untuk mengejar kesalahan, namun memberi efek jera, sekaligus melakukan pembinaan. 

Diingatkannya kembali, bahwa baru di era Presiden Jokowi, di bawah kepemimpinan Menteri LHK Siti Nurbaya, dibentuk Direktorat Jenderal Penegakan Hukum (Gakkum) dan telah dilakukan penindakan hukum tegas bagi korporasi yang sebelumnya 'nyaris tidak tersentuh hukum'.

Pendekatan multidoors

Penegakan hukum lingkungan di KLHK dilakukan dengan pendekatan multidoors, yakni sanksi administratif, perdata, dan pidana. Setiap perusahaan yang areal konsesinya terjadi karhutla dimintakan pertanggungjawabannya, dan tidak bisa mengelak.

Ilyas memaparkan bahwa ketegasan ini baru dilakukan di era pemerintahan Presiden Jokowi, belum pernah dilakukan sebelumnya.

Ketika karhutla 2015, Menteri LHK telah memberikan sanksi administratif berupa pembekuan izin dan paksaan pemerintah kepada ratusan perusahaan HTI dan perkebunan. Ketika karhutla 2019, Gakkum LHK telah menyegel sedikitnya 100 konsesi perusahaan HTI dan perkebunan karena dianggap lalai menjaga areal konsesinya terhadap Karhutla. 

“Kita tidak mungkin surut mengenai penegakan hukum ini karena sudah menjadi komitmen Bapak Presiden Jokowi dan Ibu Menteri LHK Siti Nurbaya, serta tentu saja dengan melindungi masyarakat kecil," jelas dosen bidang hukum lingkungan ini.

Melalui Omnibus Law, kewajiban perusahaan menjaga areal konsesinya terhadap karhutla justru ditingkatkan menjadi kewajiban pengendalian dan pengawasan yang diatur dalam sebuah Undang-Undang. 

Sementara frasa 'tanpa perlu pembuktian unsur kesalahan' dalam Pasal 88 UU Nomor 32 Tahun 2009 yang dihapus, bukan berarti menghilangkan makna strict liability.

"Dalam omnibus law yang di kedepankan adalah sanksi administratif bukan berarti sanksi pidana dihilangkan. Penegakan hukum pidana lingkungan tetap dilakukan dan pelaku kejahatan lingkungan tetap dihukum, karena pasal pidana tetap dipertahankan,'' kata Ilyas.

Untuk pelanggaran-pelanggaran teknis yang membutuhkan langkah koreksi (corrective action) maka tetap dilakukan penegakan hukum dengan sanksi administratif  seperti paksaan pemerintah, denda, pembekuan dan pencabutan izin. 

Sementara perbuatan melawan hukum terkait dengan limbah B3, atau yang beresiko tinggi yang mengakibatkan pencemaran dan kerusakan lingkungan tetap dapat dimintai pertanggungjawabannya untuk membayar ganti kerugian lingkungan tanpa perlu membuktikan unsur kesalahan.(RO/OL-O9)

Baca Juga

istimewa

Sri Sultan Minta Kepastian Soal Kepulangan Pemudik

👤Agus Utantoro 🕔Selasa 31 Maret 2020, 22:15 WIB
Sri Sultan Hamengku Buwono X meminta segera ada keputusan pemerintah mengenai para...
MI/Susanto

Polri Harus Tindak Tegas Penyebar Hoaks soal Covid-19

👤Putri Rosmalia Octaviyani 🕔Selasa 31 Maret 2020, 22:08 WIB
Tidak hanya mengamankan lingkungan dan membubarkan kerumunan. Polri juga diminta tegas menindak penyebar hoaks terkait covid-19 yang...
Dok. Kemendagri

Jadwal Tunda Pilkada Serentak Ditentukan Usai Pandemi Covid-19

👤Faustinus Nua 🕔Selasa 31 Maret 2020, 21:44 WIB
Tito menegaskan, pihaknya bersama Komisi Pemilihan Umum dam DPR RI akan menentukam jadwal tunda pelaksanaan Pilkada Serentak di 270 daerah...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya