Jumat 28 Februari 2020, 08:40 WIB

Perubahan Proposal Dana Hibah Dilakukan Kemenpora

M Iqbal Al Machmudi | Politik dan Hukum
Perubahan Proposal Dana Hibah Dilakukan Kemenpora

MI/MOHAMAD IRFAN
Terdakwa Mantan Menpora Imam Nahrawi (kiri) didampingi penasehat hukumnya pada sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta.

 

MANTAN Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Mayjen (Purn) Suhartono Suratman mengungkapkan perombakan anggaran proposal dana dukungan KONI Pusat dalam rangka pengawasan dan pendampingan seleksi calon atlet dan pelatih atlet berprestasi pada 2018 dari Rp16 miliar menjadi Rp27 miliar dilakukan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).

"Setahu saya itu biasanya dari verifikasi Kemenpora yang mengusulkan supaya ada pengajuan dana, yang diusulkan supaya ada perubahan untuk ditingkatkan," kata Suhartono dalam kesaksiannya untuk tersangka mantan Menpora Imam Narawi di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, kemarin.

Suhartono juga mengaku tak mengetahui kasus suap yang dilakukan Sekretaris Jenderal KONI Ending Fuad Hamidy dan Bendahara Umum KONI Johnny E Awuy. "Apa yang dilakukan Pak Hamidy dan Pak Johnny tanpa sepengetahuan saya," kata dia.

Suhartono mengatakan usulan dana proposal yang diajukan Kemenpora ditandatangani dirinya ketika masih menjabat ketua KONI. Sayangnya dia tidak mengungkapkan alasan kenaikan signifikan dana proposal itu.

Seperti diketahui, Imam Nahrawi didakwa menerima suap senilai Rp11,5 miliar dan gratifikasi Rp8,64 miliar. Suap dan gratifikasi tersebut terkait dengan persetujuan dana hibah kepada KONI.

Di samping itu, mantan Kepala Biro Keuangan dan Rumah Tangga Kemenpora, Bambang Tri Joko, mengungkapkan Imam Nahrawi pernah meminta dana operasional tambahan Rp50 juta-Rp70 juta untuk kunjungan kerja.

Hal itu terungkap saat jaksa penuntut umum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Ronald Ferdinand Worotikan mengonfirmasi berkas acara pemeriksaan (BAP) Bambang.

Permintaan itu diajukan Imam melalui staf pribadinya, Miftahul Ulum, ke Sekretaris Menpora, Alfitra Salam. Selanjutnya permintaan itu sampai ke Bambang.

"Dari Sesmen (menyampaikan permintaan itu), Pak. Bukan terdakwa, Pak. Yang diminta Ulum ke Pak Alfi tadi antara Rp50 juta hingga Rp70 juta. Setelah disampaikan itu, Ulum sampaikan ke kami," ujar Bambang.

Permintaan dana tambahan, kata Bambang, sering diajukan Ulum. "(Ulum) pernah datang ke ruangan saya untuk meminta dana itu kepada saudara bendahara, Lina," ungkap Bambang.

Peran Ulum dinilai Bambang cukup signifikan. "Semua orang tahu Pak Ulum ini dekat dengan terdakwa, jadi siapa pun termasuk protokol." (Iam/P-5)

Baca Juga

BIRO PERS SETPRES/LAILY RACHEV

Jepang Berikan Pinjaman Rp7 Triliun ke RI

👤Pra/Fer/X-10 🕔Rabu 21 Oktober 2020, 04:01 WIB
Presiden Jokowi mengatakan kunjungan ini merupakan sebuah simbol komitmen yang kuat bagi kerja sama Indonesia dan Jepang yang saling...
Bawaslu/KPK/Tim Riset MI-NRC

Politisasi Dana Pandemi Marak di Pilkada

👤Indriyani Astuti 🕔Rabu 21 Oktober 2020, 03:49 WIB
Bawaslu mengaku telah merekomendasikan kepada KPU untuk mendiskualifi kasi sejumlah calon kepala...
Dok. ABIJAPI

ABUJAPI Imbau Seragam Baru Satpam tak Disalahgunakan

👤Syarief Oebaidillah 🕔Rabu 21 Oktober 2020, 01:38 WIB
ABUJAPI mempunyai tanggung jawab untuk menjaga agar seragam Satpam mirip Polri tidak disalahgunakan untuk hal-hal yang di luar tugas dan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya