Jumat 28 Februari 2020, 04:15 WIB

Konsumsi Domestik Kuncinya

Faustinus Nua | Ekonomi
Konsumsi Domestik Kuncinya

MI/Susanto
Direktur Riset Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Aviliani

 

KONSUMSI domestik menjadi sektor kunci bagi Indonesia untuk menjaga pertumbuhan ekonomi nasional yang terancam menurun akibat merebaknya virus korona. Apalagi, sektor-sektor ekonomi lainnya mulai terganggu.

“Kan kontribusi PDB (Product Domestic Bruto) terbesar kita dari konsumsi. Jadi kalau ada masalah terkait industri dan pariwisata yang kena duluan itu masyarakat. Makanya konsumsi menjadi kunci supaya (pertumbuhan ekonomi) tidak turun,” kata Direktur Riset Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Aviliani di Jakarta kemarin.

Untuk menjaga konsumsi domestik tidak terganggu penyebaran virus korona, lanjutnya perlu ada stimulus dari alokasi anggaran belanja negara. Hal itu bisa dilakukan dengan menambah alokasi APBN dan APBD ke sektor-sektor konsumsi.

Dia juga menilai, untuk saat ini konsentrasi pada pembangunan infrastruktur tidak berdapak signifikan pada sektor konsumsi. Apalagi investasi yang besar pada insfrastruktur juga bisa terkena dampak korona. “Harus ada peralihan dari investasi infrastruktur ke arah pembangunan yang bisa menciptakan pemberdayaan,” imbuhnya.

Sementara itu, terkait sektor pariwisata dan industri yang sudah terdampak, menurut Aviliani dibutuhkan kebijakan yang fokus pada daerah pariwisata. Salah satu contohnya adalah menggelar acara-acara pemerintah di daerah wisata.

“Jadi dulu itu pernah dilakukan ketika di zamannya SBY (Presiden Susilo Bambang Yudhoyono). Jadi diminta mereka bikin di Bali semua supaya perekonomian Bali bisa tetap tumbuh,” kata dia.

Terkait perdagangan internasional, lanjutnya OJK sudah menerapkan kebijakan relaksasi kredit. Pasalnya, dampak korona telah membuat produksi industri-industri dalam negeri mengalami penurunan.

Akan tetapi, relaksasi yang diterapkan saat ini belum tepat sasaran karena hanya berlaku untuk kredit di bawah Rp10 miliar. Menurut  Aviliani, relaksasi harus diterapkan kepada semua industri terdampak tanpa melihat nominalnya.

Paket kebijakan itu terdiri atas empat program, yakni investasi sosial, subsidi bunga perumahan, insentif wisata, dan relaksasi pajak.

Kepala ekonom Bank BCA David Sumual menilai pemerintah harus segera menindaklanjuti kebijakan tersebut jika ingin memproteksi dini dampak virus korona.

Meskipun demikian, dia merasa bahwa beberapa kebijakan lain seperti suntikan fiskal sebesar Rp 10,3 triliun, penurunan suku bunga dan lainnya menjadi langkah yang baik dari segi proteksi terhadap potensi penurunan perekonomian akibat virus korona.

Secara terpisah Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Shinta Kamdani menilai Indonesia membutuhkan stimulasi untuk kegiatan ekonomi produktif.

“Singkatnya, yang kita butuhkan saat ini adalah stimulasi-stimulasi (insentif, kebijakan, kemudahan birokrasi, dan lainnya) untuk kegiatan ekonomi produktif, karena kondisi kita sekarang sedang terancam tidak bisa produksi karena gangguan supply chain,” ungkapnya. (Des/Hld/E-3)

Baca Juga

Istimewa

Kementan Gandeng Jasa Layanan Online Dinilai Tepat

👤mediaindonesia.com 🕔Selasa 07 April 2020, 14:27 WIB
Terobosan yang sudah dilakukan Kementerian Pertanian sudah tepat di era revolusi industri...
MI/ADAM DWI

​​​​​​​IHSG Anjlok 23,6%, OJK: Terdalam Sepanjang Sejarah

👤M. Ilham Ramadhan Avisena 🕔Selasa 07 April 2020, 14:22 WIB
Penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang lebih dari 20% merupakan terdalam sepanjang...
Istimewa/Kementan

Stok Beras Banten Aman, Tidak Masalah Bila PSBB Diterapkan

👤mediaindonesia.com 🕔Selasa 07 April 2020, 14:18 WIB
Pada Maret 2020, produksi gabah di Provinsi Banten mencapai 255.342 ton atau setara dengan 160.202 ton...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya