Rabu 26 Februari 2020, 11:13 WIB

Kementan Terus Giat Lakukan Pengendalian Ulat Grayak Frugiperda

mediaindonesia.com | Ekonomi
Kementan Terus Giat Lakukan Pengendalian Ulat Grayak Frugiperda

Istimewa/Kementan
Dari luas tanam jagung di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Toimur (NTT) seluas 12 ribu hektare sebagian terkena serangan ulat grayak.

 

KEMENTERIAN Pertanian (Kementan) terus lakukan upaya pengendalian Ulat Grayak Frugiperda (UGF) dengan pendampingan Gerakan Pengendalian (Gerdal) bersama seluruh instansi terkait.

Dari luas tanam jagung di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Toimur (NTT) seluas 12 ribu hektare sebagian terkena serangan ulat grayak intensitas sedang dan sebagian berat. Namun demikian tidak ada laporan tanaman jagung yang puso.

Gerakan pengendalian UGF dilakukan di lahan seluas 500 hektar dengan pemberian pestisida 1 liter per hektar. Selain dilakukan menggunakan pestisida nabati atau kimia, juga dapat dilakukan secara mekanis.

“Periksa dalam jagung ini ada ulat atau tidak, kalau ada ulat ambil amati lalu matikan dia,” ucap Antonius Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Flores Timur saat memberikan arahan kepada anak-anak sekolah yang diikutsertakan dalam gerakan pengendalian UFG di Kecamatan Ile Boleng.

Antonius menambahkan bila ada kelompok telur yang ditemukan ambil dan masukan kedalam bumbung bambu, sehingga telur yang terparasit bisa tetap hidup dan memarasit telur yang lain. Sedangkan larva ulat yang menetas akan mati didalam tabung bambu yang telah dilapisi perekat.

Pada kesempatan yanga sama Yadi dari Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Balai Besar Peramalan OPT pun memberikan arahan kepada Kelompok Tani sebelum melakukan gerakan pengendalian dengan cara pengendalian kimia.

Yadi menjelaskan penggunaan bahan kimia ini merupakan langkah terakhir dalam melakukan pengendalian. Pengendalian secara kimia bisa dilakukan bisa serangan UGF cukup tinggi. Perlu diingat bila bahan pengendalian secara kimia ini meruapakan racun sehingga dalam penggunaanya harus bijaksana.

 “Yang ingin kita selamatkan bukan hanya tanaman kita saja, tetapi diri kita juga harus selamat dari bahan racun,” seru Yadi saat memperagakan penggunaan alat-alat pelindung diri saat pengendalian menggunakan bahan kimia.

Sebelum melakukan pengendalian dengan menggunakan racun harus dipastikan diri kita terlindungi dari paparan racun tersebut saat diaplikasikan.

"Pelindung kepala, pelindung mata, masker dan sarung tangan wajib digunakan. Selain itu saat pengendalian harus memperhatikan arah mata angin. Jangan sampai kita menyemprot melawan arah angin,” jelas Yadi.

Pastikan seluruh bagian tanaman disemprot terutama dibagian pucuk tanaman. “Ulat Grayak itu posisinya berada dibagian pucuk, jadi bagian itu harus kita semprot,” pungkas Yadi.

Di tempat terpisah, Suwarman Kepala Bidang Pelayanan Teknis Informasi dan Dokumentasi menyampaikan bahan pengendali kimia dapat menggunakan emamektin benzoat, spinetoram, klorantraniliprol, atau tiomektosam. Bila serangan masih rendah dapat digunakan ekstrak daun mimba (Azadirachta indica) sebagai pencegahan. (OL-09)

Baca Juga

ANTARA FOTO/Yusran Uccang

Ekonomi Masyarakat Kepulauan Terhambat Aturan

👤M Iqbal Al Machmudi 🕔Rabu 21 Oktober 2020, 05:45 WIB
Kendala dalam pengiriman logistik saat ini ialah pada aturan muatan barang dari Menteri Perdagangan, bukan pada PT Pelayaran Nasional...
ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas

Pemerintah Lirik Sagu untuk Sumber Pangan

👤Ham/E-3 🕔Rabu 21 Oktober 2020, 05:40 WIB
Selain beras, sagu menjadi salah satu komoditas yang kini dikembangkan untuk menuju ketahanan dan kedaulatan...
ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto

Penaikan Cukai Beratkan Petani Tembakau

👤Try/Ant/E-1 🕔Rabu 21 Oktober 2020, 05:35 WIB
“Petani tembakau telah cukup sengsara dengan adanya kenaikan cukai tembakau 23% pada tahun ini dan juga tekanan pandemi,” ujar...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya