Rabu 26 Februari 2020, 06:30 WIB

Intervensi Tumbuh Kembang Efektif Cegah Stunting

(PO/H-2) | Humaniora
Intervensi Tumbuh Kembang Efektif Cegah Stunting

MI/PALCE AMALO
Pemberian suplemen dan edukasi nutrisi berdampak positif terhadap kualitas kesehatan ibu hamil dan mencegah stunting sejak dalam kandungan.

 

INTERVENSI dalam bentuk edukasi nutrisi disertai pemberian suplemen kepada ibu, bayi, dan anak berdampak positif dalam meningkatkan kualitas kesehatan, serta mencegah terjadinya stunting. Demikian temuan riset terbaru Kalbe Nutritionals bersama Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang Kupang dan IDAI Cabang Nusa Tenggara Timur (NTT).

Riset berjudul Pengaruh Suplementasi dan Edukasi Nutrisi pada Kesehatan Ibu Hamil dan Tumbuh Kembang Janin, Bayi, dan Anak Prasekolah' itu dilakukan di Kota Kupang, NTT, sejak 2017-2019.

Pada kelompok ibu hamil, ditemukan bahwa pemberian suplemen dan edukasi nutrisi berdampak positif terhadap kualitas kesehatan dan status gizi ibu hamil dengan berkurangnya risiko anemia dan infeksi.

Pada kelompok ibu menyusui dan bayu, riset itu menemukan bahwa pemberian suplemen pada bayi yang disertai edukasi nutrisi dan stimulasi kepada ibu bayi mampu menjaga pertumbuhan bayi dengan laju pertumbuhan yang normal sesuai usianya.

Demikian juga dengan pemberian suplemen dan edukasi pada kelompok anak prasekolah.

"Anak jadi lebih bugar karena mempunyai kadar hemoglobin yang lebih baik, anak lebih tahan terhadap infeksi, dan juga membuat anak mempunyai risiko yang lebih kecil untuk mengalami gangguan perkembangan dan perilaku emosi," sebut riset itu.

Ketua IDAI Cabang Nusa Tenggara Timur dr Fransiskus Taolin yang juga terlibat dalam riset itu mengatakan peran seorang ibu sangat penting dalam mencegah kasus stunting.

"Alasannya karena setelah dua tahun kita tidak bisa memperbaiki lagi tumbuh kembang anak khususnya otak sebab otak tumbuh paling pesat itu saat anak berada di usia satu hingga dua tahun," sebutnya.

Saat melaporkan hasil riset itu kepada Pemprov NTT, kemarin, Managing Director Kalbe Nutritionals, Yuni Herawati, berharap riset ini dapat menjadi acuan Pemprov NTT dan provinsi lainnya dalam membantu mengurangi stunting dan masalah gizi kronis yang disebabkan gizi minim.

Menurutnya, NTT menghadapi tantangan sumber daya dalam meningkatkan kualitas kesehatan dan pendidikan anak. Pada 2016, Pusat Data Kemenkes mencatat angka bayi lahir berat badan rendah (BBLR) sebanyak 15,5%, balita gizi kurang 28,2%, balita pendek 38,7%.

Gubernur Nusa Tenggara Timur Viktor Bungtilu Laiskodat mengiyakan persoalan kemiskinan dan kekerdilan menjadi tantangan besar Pemerintah Provinsi NTT.

Menurutnya, angka kekerdilan di NTT saat ini ketiga tertinggi di Indonesia. Ia pun berharap bantuan dan peran semua pihak dalam memecahkan persoalan ini. (PO/H-2)

Baca Juga

Dok Kedubes Korsel untuk Indonesia

Korsel Salurkan Bantuan Covid-19 untuk Indonesia

👤Basuki Eka Purnama 🕔Kamis 09 April 2020, 06:30 WIB
Bantuan itu meliputi alat tes (PCR test kit) dan 300 unit alat penyemprot (rechargeable battery power...
Dok.Metro TV/Medcom.id

Bansos untuk Warga Terdampak Covid-19

👤Insi Nantika Jelita 🕔Kamis 09 April 2020, 06:15 WIB
Polda Metro Jaya berkoordinasi dengan Pemprov DKI dan Kodam Jaya perihal pembagian bantuan secara langsung ke rumah warga yang...
Duta

Hewan Bantu Anak Bersosialisasi

👤Daily Mail/Nur/X-7 🕔Kamis 09 April 2020, 06:05 WIB
Menurut studi, berinteraksi dengan hewan peliharaan dapat membantu anak-anak belajar tentang konsep...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya