Selasa 25 Februari 2020, 19:33 WIB

Perlambatan Ekonomi Ancam Pariwisata dan Investasi

Achmad Maulana | Ekonomi
Perlambatan Ekonomi Ancam Pariwisata dan Investasi

ANTARA/Harviyan Perdana Putra
Kawasan Pantai Kuta Mandalika yang masuk dalam Kawasan Ekonomi Khusus menjadi salah satu wisata destinasi wisata favorit di NTB.

 

PEREKONOMIAN dunia menghadapi ancaman perlambatan saat ini. Hal itu disebabkan oleh beberapa hal, misalnya ketegangan perdagangan antarnegara dan wabah virus.

Situasi itu membuat pemerintah perlu segera melakukan mitigasi menghadapi hal tersebut. Pasalnya, hal itu bisa berdampak pada kondisi ekonomi Indonesia di sektor pariwisata, perdagangan, bahkan investasi dan ketenagakerjaan.

Baca juga: Tantangan Pariwisata Indonesia di Era Jokowi-Ma'ruf Amin

"Kita perlu waspada dan memang perlu ada mitigasi. Sebagai catatan, perlambatan ekonomi Tiongkok sebesar 1 persen bisa berdampak pada perlambatan ekonomi Indonesia hingga 0,2 persen," kata pengamat ekonomi internasional dari Universitas Indonesia Fithra Faisal Hastiadi, Selasa (25/2).

Sektor yang terkena dampak secara langsung dalam jangka pendek tentu pariwisata dan perdagangan internasional. Namun, jika dampak dari perlambatan ekonomi terjadi berlarut-larut bukan tidak mungkin akan menggerus sektor investasi yang berkaitan dengan ketenagakerjaan.

"Jika melihat tren, pertumbuhan ekonomi global memang sepertinya akan stagnan. Hal lain yang perlu dikhawatirkan adalah kontribusi Tiongkok terhadap dunia saat ini cukup signifikan, kalau permasalahannya berlarut-larut Indonesia juga akan terpengaruh cukup dalam," kata Fithra.

Menurutnya, perlu ada terobosan yang dilakukan pemerintah untuk menanggulangi dampak yang lebih parah untuk ekonomi Indonesia. Selain insentif dan stimulus dengan menggunakan instrumen moneter dan fiskal yang cukup efektif, perlu ada pembenahan faktor institusional.

"Goncangan terhadap kemampuan suplai dan manufaktur kita yang terus menurun, perlu dijawab dengan pembenahan faktor institusional. Pembahasan Omnibus Law memang dinantikan dan perlu segera diselesaikan karena bertujuan membenahi hal tersebut. Tapi memang perlu pelibatan lebih banyak pemangku kepentingan," kata Fithra lagi.

Ia pun mendukung upaya pemerintah yang mengumumkan paket stimulus ekonomi demi menindaklanjuti ancaman perlambatan ekonomi karena virus Korona di Tiongkok. Paket stimulus tersebut mencakup kebijakan moneter dan fiskal, percepatan belanja kementerian dan lembaga, hingga upaya menurunkan defisit neraca transaksi berjalan. (Ant/A-3)

 

Baca Juga

Antara

Saham Inggris Kembali Melemah Tergerus 1,09 persen

👤mediaindonesia.com 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 06:35 WIB
SAHAM-saham Inggris berakhir lebih rendah pada perdagangan Selasa atau Rabu WIB (28/10), memperpanjang penurunan untuk hari kedua...
Antara

Saham Prancis Merugi Dengan Indeks CAC 40 Jatuh 1,77 persen

👤Muhamad Fauzi 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 06:30 WIB
SAHAM-saham Prancis kembali ditutup lebih rendah pada perdagangan Selasa (27/10) atau Rabu WIB, mencatat kerugian untuk hari kedua...
ANTARA/Irsan Mulyadi

Pemerintah Berencana Sesuaikan Tarif Pungutan Ekspor CPO

👤M. Ilham Ramadhan Avisena 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 06:27 WIB
Namun, besaran tarif itu belum dipublikasikan lantaran menunggu Peraturan Menteri Keuangan (PMK) yang saat ini masih dalam tahap...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya