Senin 24 Februari 2020, 18:06 WIB

Isolasi Semakin Ketat, Penduduk Wuhan Berjuang Hidup

Nur Aivanni | Internasional
Isolasi Semakin Ketat, Penduduk Wuhan Berjuang Hidup

STR/AFP
Situasi Kota Wuhan, Tiongkok, yang diisolasi untuk mencegah penyebaran virus korona.

 

PEMBATASAN pergerakan di daerah tempat tinggal Guo Jing, muncul tiba-tiba tanpa peringatan. Wanita berusia 29 tahun itu tidak bisa keluar dari kompleks rumahnya di Wuhan, dan harus bergantung pada layanan pembelian makanan berbasis daring.

"Hidup selama setidaknya satu bulan lagi bukan masalah," kata Guo yang menyimpan acar sayuran dan telur asin.

Namun dirinya mengkhawatirkan pembatasan dengan akses seluruh kota ditutup. Penduduk pun dibatasi keluar dari kompleks setiap tiga hari sekali. Sekarang, izin itu telah diambil.

Guo adalah satu dari 11 juta penduduk yang menetap di Wuhan, sebuah kota di Provinsi Hubei dengan status karantina sejak 23 Januari. Langkah itu diambil otoritas berwenang untuk menahan penyebaran virus korona. Sejak saat itu, kehidupan masyrakat diawasi ketat.

Aturan baru yang muncul bulan ini melarang penduduk meninggalkan rumah. Ketentuan itu dinilai paling ketat, sekaligus mengancam mata pencaharian sebagian orang.

"Saya tidak tahu di mana harus membeli barang. Setelah selesai makan, apa yang kami miliki di rumah," tutur Pan Hongsheng, yang hidup bersama istri dan dua anaknya.

Baca juga: Metode Kalkulasi Korona Diubah, Kematian di Tiongkok Melonjak

Beberapa area permukiman mengadakan layanan pembelian secara berkelompok, di mana supermarket mengirimkan pesanan dalam jumlah besar. Namun, komunitas tempat tinggal Pan tidak memiliki kepedulian seperti itu.

"Anak berusia tiga tahun bahkan tidak memiliki persediaan susu bubuk," cetus Pan. Bahkan, dirinya tidak dapat mengirimkan obat kepada mertuanya yang berusia 80 tahun, karena bermukim di wilayah berbeda.

"Saya merasa seperti seorang pengungsi," tambah Pan.

Permintaan untuk layanan pembelian makanan secara berkelompok terus meningkat, seiring munculnya aturan pembatasan baru. Supermarket dan komite lingkungan berebut untuk memenuhi pesanan.

Sebagian besar layanan pembelian grup beroperasi melalui aplikasi WeChat. Sejumlah toko dan kompleks yang lebih canggih memiliki aplikasi mini sendiri di dalam WeChat. Sehingga, penduduk dapat memilih paket harga berdasarkan berat.

"Kamu tidak punya cara untuk memilih apa yang ingin kamu makan. Akhirnya, kamu tidak dapat memiliki preferensi pribadi lagi," tandas Pan.(AFP/OL-11)

 

Baca Juga

AFP/INDRANIL MUKHERJEE

Presiden Portugal Serukan Persatuan Nasional Lawan Covid-19

👤Haufan Hasyim Salengke 🕔Selasa 07 April 2020, 17:40 WIB
Presiden Portugal Marcelo Rebelo de Sousa menyerukan persatuan nasional untuk atasi krisis kesehatan masyarakat yang disebabkan covid-19....
Ina FASSBENDER / AFP

Gara-gara Covid-19, Robot Gantikan Mahasiswa Jepang Hadiri Wisuda

👤 Nur Aivanni 🕔Selasa 07 April 2020, 17:19 WIB
Robot itu mengenakan topi dan toga wisuda dalam acara wisuda di Business Breakthrough University di Tokyo. "Wajah" robot adalah...
 SAM PANTHAKY / AFP

907 WNI Jamaah Tablihg Terjebak di Luar Negeri Karena Covid-19

👤Putri Rosmalia Octaviyani 🕔Selasa 07 April 2020, 16:37 WIB
Setidaknya 907 orang WNI jamaah tabligh masih berada di luar negeri. Sebagian besar berada di...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya