Senin 24 Februari 2020, 09:59 WIB

Ketika Guru Mendidik dengan Cinta

Pendidik Sidik Nugroho | Opini
Ketika Guru Mendidik dengan Cinta

Duta
Ilustrasi

SEORANG murid masih kanak-kanak yang paling sering membuat onar, suatu ketika me­larikan diri dari desa tempat tinggalnya. Ia pergi ke kota be­sar, hidup sebagai gelandang­an, tak bisa pulang. Di desa, pen­duduk resah. Keresahan itu membuat Wei Minzhi, gurunya yang masih remaja, pergi ke kota untuk mencari.

Pencarian dilakukan karena guru lain yang lebih senior, gu­ru Gao, yang sedang memiliki tugas lain, telah berpesan kepada guru muda penggantinya itu; jangan ada satu pun yang hilang.

Perjalanan sang guru ke ko­­ta amat melelahkan. Setelah men­cari-cari sekian lama, akhir­nya mereka pun bertemu. Film Not One Less besutan Zhang Yimou (1999) menggambarkan dengan indah sukacita se­­seorang yang didapatkan kem­­bali setelah hi­lang sekian la­ma dan dicari-cari. Si murid dan guru berangkulan dalam per­jalanan pulang, menangis bersama. Muridnya berjanji akan memberi bunga untuk gurunya.

Dalam film itu kita dapat melihat suasana kelas yang sederhana-- untuk tidak menyebutnya memprihatinkan--mirip sekolah-sekolah di daerah pedalaman di Indonesia, guru yang sangat minim penga­lam­an mengajar, dan fasilitas yang serbaterbatas. Namun, pendidikan menjadi hidup ka­rena sang guru memiliki se­mangat dan kasih sayang yang besar dalam mengajar dan mendidik. Film lawas itu pun mengha­dirkan refleksi men­dalam tentang pendidikan berlandaskan cinta. Ia ialah na­pas yang menghidupkan pen­­didikan, di tengah segala keterbatasan dan kekurangan.

Merdeka sekaligus aman

Belakangan, kita mungkin sering mendengar istilah Mer­deka Belajar, program yang digagas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud). Di laman Kemendikbud, dise­butkan bahwa program itu ber­hubungan dengan perubah­an pelaksanaan atau pem­buatan ujian berstandar nasional (USBN), ujian nasional (UN), rencana pelaksana­an pembel­­ajaran (RPP), dan per­aturan penerimaan peserta didik baru (PPDB) zonasi.

Keempat hal di atas digagas demi menunjang ‘kemerdekaan’ yang berhubungan dengan berbagai hal teknis dalam pendidikan. Perubahan USBN dan UN dilakukan demi memperbaiki kualitas lulusan sekaligus memerdekakan siswa dari tuntutan belajar yang tak signifikan, seperti yang dibebankan dalam format atau soal ujian sebelumnya. Perombakan format RPP untuk menyederhanakan dan memerdekakan guru dari segala te­­tek bengek adminis­trasi yang tidak per­lu. Lalu, PPDB zonasi diubah agar penerimaan siswa di sekolah-sekolah berlangsung lebih flek­sibel.

Namun, dalam em­pat fokus itu, ada satu persoalan yang perlu dikaji lebih mendalam, yaitu soal rasa aman saat bel­­­­­a­­jar di sekolah. Da­­ri waktu ke waktu, berita muram yang mencoreng dunia pendidikan kita te­rus tersiar dan menyedot perhatian publik.

Pada 14 Januari lalu, seorang siswi di sebuah SMP di Jakarta terjun dari lantai empat sekolahnya. Dua hari kemudian ia meninggal dunia. Motifnya sampai sekarang masih belum bisa dipastikan, tapi diduga kuat ia bunuh diri karena persoalan dalam keluarga. Kemudian, pada 24 Januari, ada tujuh siswa yang melakukan perundungan kepada seorang teman mereka di sebuah SMP di Malang, membuat teman me­reka itu sampai dirawat di ru­mah sakit karena jarinya m­e­mar parah.

Kasus bunuh diri itu pun di­­­tanggapi Retno Listyarti, Ko­misioner Komisi Perlindung­­an Anak Indonesia (KPAI), bahwa mestinya se­­kolah membuat prog­ram sekolah ra­mah anak (Detik, 30/1). Program itu dapat diwujudkan dengan mengembangkan kepedulian guru pa­da kondisi psikologis anak didik, juga pengetahuan akan kondisi keluarganya. Itu tidak hanya menjadi tu­­gas guru bim­bingan dan kon­seling, tapi semua guru, terutama wali ke­las. Begitu pu­la pada kasus perundungan yang terjadi di Malang itu.

Dalam empat poin Merdeka Belajar, hal-hal yang berhu­bung­an dengan berbagai kasus kekerasan di sekolah tampak­nya akan diintegrasikan dalam asesmen kompetensi minimum dan survei karakter, yang di­­sebut-sebut akan mengganti­kan UN. Survei seperti apa nan­ti­nya yang akan dikem­bang­kan? Semoga itu dapat menjadi solu­si, mengurangi ka­sus demi kasus kekerasan yang telah terjadi di dunia pendidikan kita.

Yang perlu diingat, jangan sampai kita membuat perubah­­an dan gebrakan hanya de­mi alasan agar tidak terting­gal da­­ri bangsa lain yang lebih maju. Tentu kita senang ka­­lau kemampuan kita dalam il­­mu pengetahuan dan sains ju­­ga berkembang bila diukur dengan acuan internasional seperti Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) atau Program for International Student Assessment (PI­SA). Namun, dari sejarah ki­­ta dapat belajar bah­­wa kecer­­dasan pikiran tak selalu ber­banding lurus dengan semangat menghargai martabat manusia.

Kecerdasan dan cinta kasih

Dalam Kunci Kedamaian Pribadi, buku kecil yang ditulis dua tahun setelah Serangan 11 September 2001, Pendeta Billy Graham mengisahkan kunjungannya ke Auschwitz, Polandia. Dia menyaksikan kawat berduri, alat-alat penyik­saan, sel-sel hukuman yang pe­ngap, kamar gas, dan krema­torium.

Setelah meletakkan karang­an bunga untuk mengenang korban yang tewas di sebuah kamp yang pernah diguna­kan untuk membunuh ribuan orang, ia berlutut, berdoa. Saat berdiri, matanya kabur oleh air mata. Ia kemudian merenung, ‘Bagaimana hal semengerikan itu dapat terjadi--direncanakan dan dilaksanakan--oleh bangsa yang telah menghasilkan bebe­­rapa orang berpendidikan paling tinggi di dunia?’ (hlm 20).

Begitu banyak filsuf, roha­ni­­wan, dan komponis yang la­­hir di Jerman; tapi pada su­a­­tu masa yang begitu kelam, inteligensia dan rasa ke­­manusiaan terkubur kesewenang-wenangan tiran. Kita pun mungkin bertanya-tanya, mengapa sebagian orang dapat menjadi begitu bengis dan kejam, bahkan kekejaman itu menjangkiti pikiran orang atau bangsa yang paling cerdas? Itu terjadi karena kasih sayang ti­dak diajarkan dalam pendidikan.

Bangsa kita sedang berusaha mentransformasi pendidikan. Sekian lama kita bergonta-ganti kurikulum dan kebijakan, seakan-akan kehilangan jati diri. Kita malu melihat tingkat literasi yang rendah dan dalam tolok ukur lainnya turut ter­ting­gal. Namun, jangan sampai itu semua hanya membuat ki­ta melakukan segala sesuatu ‘agar tidak tertinggal’, tapi me­lupakan napas utama pendi­dikan, yaitu cinta kasih.

Kini banyak orang ingin men­jadi guru karena me­mung­kinkan untuk meraih peng­hidupan yang sejahtera. Namun, semoga kita tidak lu­pa dengan tugas untuk meng­hidupkan pendidikan, tidak ha­nya ‘menumpang hidup’ da­ri pendidikan. Cinta kasih akan menghidupkan pendidikan. Ketika guru mendidik dengan cinta, bukan hanya kemerdekaan yang didapatkan, melainkan juga martabat. Siswa dimanusiakan, bukan sekadar jadi bahan percobaan perubahan kebijakan.

Baca Juga

Dok.MI

Orientasi Kreatif dalam Krisis

👤Saur M Hutabarat Dewan Redaksi Media Grup 🕔Senin 30 Maret 2020, 06:25 WIB
Pandangan bahwa ini penyakit dapat menyembuhkan diri sendiri merupakan pikiran optimistis dalam keadaan normal. Dalam krisis berupa...
MI/Duta

Dengan Covid-19, Kita Ubah Dunia

👤Radhar Panca Dahana, Budayawan 🕔Senin 30 Maret 2020, 06:00 WIB
Sebagian wajar karena tingkat emergency yang ada memaksa pemimpin mengambil keputusan cepat, walau tidak tepat, bahkan negara sebesar...
MI/ADAM DWI

Menghadapi Ketidakpastian

👤 Arif Satria Rektor IPB 🕔Sabtu 28 Maret 2020, 06:10 WIB
SAAT ini kita merasakan apa itu ketidakpastian. Covid-19 yang menjadi pandemi global benar-benar membuat penjuru dunia dihantui...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya