Senin 24 Februari 2020, 06:30 WIB

Yuk, Mainkan Jurnalisme Berkeringat

Ade Alawi | Humaniora
Yuk, Mainkan Jurnalisme Berkeringat

MI/Ade Alawi
Wartawan senior LR Baskoro menyampaikan materi Investigative Reporting.

 

SEORANG reporter muda berpura-pura membawa temannya ke sebuah klinik bersalin di wilayah Jakarta Pusat. Tujuan kedatangan si reporter itu ingin membantu temannya untuk menggugurkan kandungan hasil hubungan gelapnya dengan sang kekasih.

Setelah berhasil meyakinkan petugas pendaftaran, si reporter dan temannya itu berhasil menemui sang dokter yang bekerja rangkap sebagai penggugur kandungan.

Setelah bertanya segala hal tentang pengguguran kandungan, seperti biaya, proses pengguguran, dan pengobatan pasca-pengguguran, selanjutnya si reporter dan temannya itu pamit pulang.

Janji untuk kembali lagi ke klinik tersebut dibuat. Namun, janji tinggal janji. Maksud kedatangan si reporter sembari memboyong rekannya itu memang tidak bermaksud menggugurkan kandungan, tetapi untuk menginvestigasi dugaan praktik illegal pengguguran kandungan yang dilakukan klinik tersebut.

Baca juga: Digitalisasi Bantu Wujudkan Inklusi Keuangan di Dunia Pendidikan

Data dan deskripsi lengkap tentang klinik bersalin berikut nama sang dokter diperoleh. Selanjutnya, si reporter melacak jati diri sang dokter. Ternyata, yang bersangkutan dokter benaran serta diketahui pula sang dokter juga berpraktik di sebuah rumah sakit ternama.

Itulah pengalaman menarik dari praktik jurnalisme yang menantang disampaikan fasilitator Pelatihan (Training of Trainer) Calon Penguji Kompetensi Wartawan dari Lembaga Pers Dr Soetomo (LPDS) Lestantya R. Baskoro di gedung learning center Media Group lantai 8, Kedoya, Jakarta Barat, Sabtu (22/2).

Mas Bas, demikian sapaan akrabnya, di hadapan 10 jurnalis Media Group (Media Indonesia, Metro TV, Medcom.Id, dan Lampung Post), memaparkan kisah lain Tim Investigasi yang diasuhnya berhasil melacak jaringan pencatut KTP untuk menghindari pajak mobil mewah di sebuah markas kepolisian.

 “Si reporter berhasil menemui aktor utama pencatut KTP di kediamannya di Kebon Jeruk, Jakarta Barat yang saat itu masih handukan karena habis mandi ,” ungkap Mas Bas.

Dua kisah laporan investigasi (investigative reporting) di atas, kata dia, memang penuh upaya luar biasa. Mulai dari perencanaan yang matang, strategi, hingga penulisannya.

“Investigative reporting adalah mother of journalism. Inilah jurnalisme berkeringat. Integritas, kejujuran, kesabaran, dan militansi reporter diuji,” tutur wartawan senior Koran Tempo ini.

Materi soal investigative reporting menjadi sesi yang paling  menarik selama dua hari pelatihan. Tidak ayal, sejumlah peserta pun tukar pengalaman liputan investigasi. Misalnya, ada peserta yang rela disumpah (baiat)  masuk ke kelompok yang kemudian divonis sesat oleh pengadilan.

“Sampai sekarang saya masih ingat prosesi baiat dan narasinya,” ujarnya terkekeh.

Ada juga peserta yang mengungkapkan pengalamannya menembus kediaman narasumber seorang pejabat tinggi di era Orde Baru. Sang pejabat yang juga tokoh partai beringin itu diduga membua katabelece sehingga pinjaman bank seorang pengusaha cair di sebuah bank plat merah.

“Sebelum subuh sudah standy bye di depan rumahnya di Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat. Bakda (setelah) subuh merangsek ke halaman rumahnya. Dibentak-bentak satpam, dibentak juga oleh sang pejabat. Akhirnya, saya diajak pejabat itu masuk ke mobilnya untuk melaju ke Hotel Hilton untuk bermain tenis,” kata peserta tersebut.

Alhasil, sang pejabat menyediakan waktunya diwawancarai seputar dugaan katabelece usai main tenis, pukul 09.30 WIB.

“Alhamdulilah akhirnya, saya berhasil menembus banned (larangan) yang semula dilakukan pejabat tersebut,” ujarnya sembari tersenyum.

Sesi investigative reporting bagi LPDS dimaksudkan agar para calon penguji kompetensi wartawan memahami perbedaan  in depth reporting dan investigative reporting.

In depth reporting (laporan mendalam), kata Baskoro, untuk mendapatkan kelengkapan pengisahan, sementara investigative reporting adalah laporan untuk menguak tabir hingga mengungkap actor-actornya secara lengkap.

“Aktor lapangan dan actor intelektualnya,” jelasnya.

Dalam pelatihan selama dua hari itu, ikut memberikan materi wartawan senior, mantan anggota Dewan Pers, dan Tim Perumus Standar Kompetensi Wartawan, Wina Armada, dan wartawan Senior LKBN Antara, AA Ariwibowo.  

Semestinya, lanjut Baskoro, setiap jurnalis harus melewati proses peliputan investigasi.

“Jurnalisme berkeringat menguji segala-segalanya, termasuk kecerdasan jurnalis agar tidak terkena delik hukum,” tutupnya.

Di sisi lain, menurut AA Ariwibowo, bagi calon penguji kompetensi wartawan, masalah investigative reporting harus dikuasai betul, karena akan menjadi mata uji pada jenjang wartawan madya.

“Calon penguji harus menguasai masalah investigative reporting dari A-Z.  Bagi wartawan tingkat madya, materi ini menjadi ujian yang cukup berat,” ucap Ariwibowo. (OL-1)

Baca Juga

123rft.com

Penelitian Transmisi Melalui Udara Virus SARS-CoV-2 Terus Dikaji

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Jumat 10 Juli 2020, 16:12 WIB
“WHO mendorong penelitian lebih lanjut di bidang ini. Seiring dengan transmisi melalui udara, kami melihat banyak rute transmisi...
Ist/KLHK

 Menteri LHK Siti Nurbaya: Saya Bangga Jadi Anak Polisi!

👤Deri Dahuri 🕔Jumat 10 Juli 2020, 15:38 WIB
Menteri Siti Nurbaya menceritakan tentang karakter ayahnya, Mohamad Bakar yang seorang purnawirawan Polri itu di hadapan hadirin...
ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

Peserta Kartu Prakerja 'Bodong' dapat Dituntut Pidana

👤Dhika kusuma winata 🕔Jumat 10 Juli 2020, 15:25 WIB
Penerima Kartu Prakerja yang 'bodong' atau tidak sesuai ketentuan yang menerima bantuan biaya/insentif pelatihan bisa digugat jika...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya