Sabtu 22 Februari 2020, 21:37 WIB

Kekayaan Agrobiodiversitas Belum Diolah Jadi Obat Asli Indonesia

Syarief Oebaidillah | Humaniora
Kekayaan Agrobiodiversitas Belum Diolah Jadi Obat Asli Indonesia

Dok. Dexa
Dexa Award Scholarship

 

INDONESIA memiliki sekitar 10% dari spesies tumbuhan berbunga yang ada di dunia (sekitar 25.000 tanaman berbunga, 55% endemik) dan merupakan salah satu pusat dunia untuk agrobiodiversitas dari tanaman pertanian.

Sayangnya, kekayaan alam Indonesia ini tidak diimbangi dengan pemanfaatannya sebagai bahan baku farmasi. Justru 90% bahan baku obat di Indonesia diimpor, 60 persen dari Tiongkok, sisanya dari negara-negara lain di Eropa dan India.

Padahal, sejatinya pemanfaatan bahan alam sebagai pengobatan tradisional memang telah dilakukan sejak zaman nenek moyang.

“Namun bahan alam yang diproduksi menjadi obat-obatan tradisional kurang memiliki daya saing produk secara nasional, terutama untuk produk-produk yang menyasar pasar ekspor,” kata Raymond Tjandrawinata, Executive Director Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences melalui keterangan tertulisnya

Raymond mencontohkan minimnya pemanfaatan bahan alam Indonesia menjadi produk berdaya saing tinggi, terlihat pada jumlah obat bahan alam berstandar Fitofarmaka.

Baca juga : BPPT-ITB dan Industri Farmasi Siap Produksi Amoksisilin

Hingga saat ini pemanfaatan bahan baku alam menjadi produk berdaya saing tinggi Fitofarmaka baru berjumlah 10. Padahal penelitian terhadap khasiat bahan alam cukup banyak.

Rendahnya pemanfaatan bahan baku alam menjadi produk berdaya saing tinggi, selain karena mahalnya biaya penelitian dan kurangnya sinergi antarlembaga, juga karena minimnya jumlah peneliti yang memiliki strategi aspek hulu ke hilir, yakni dari tahap riset hingga mampu mengaplikasikan hasil penelitian.

Karenanya, melalui Dexa Award Science Scholarship (DASS), para peneliti dapat memanfaatkan kesempatan untuk mengembangkan pemanfaatan bahan baku alam menjadi produk obat-obatan bernilai tinggi.

Leader Dharma Dexa Gloria Haslim mengatakan, melalui DASS 2020, Dexa Group menantang para saintis yang memiliki minat besar dalam mengembangkan sektor kesehatan di Indonesia.

Diantaranya mengembangkan pemanfaatan bahan baku alam sebagai produk farmasi, yang saat ini menjadi isu besar dalam dunia farmasi dan kesehatan, serta menjadi inovasi penting untuk melepaskan Indonesia dari ketergantungan bahan baku impor farmasi.

Dengan dimulainya program DASS 2020, diharapkan terjadi inovasi dalam pemanfaatan bahan alam sebagai produk farmasi berdaya saing tinggi.

Karena 264 juta penduduk di Indonesia membutuhkan obat-obatan berkualitas, harga terjangkau, dan aman dikonsumsi dalam jangka panjang, yang semua ini menjadi keunggulan OMAI.

Head of Corporate Communications Dexa Group Sonny Himawan menambahkan, DASS yang telah dilaksanakan sejak 2018 diharapkan dapat melahirkan saintis-saintis yang berani melakukan terobosan dalam penemuan obat baru berbahan baku alam Indonesia.

“Untuk itu, Dexa Group sangat menyambut antusiasme peserta yang ingin menempuh pendidikan S2, seperti tahun-tahun sebelumnya, di mana ribuan pendaftar yang berasal dari 295 kabupaten/kota dan 349 kampus di seluruh Indonesia berpartisipasi dalam kompetisi ini,” ungkap Sonny.

Baca juga : Obat Kanker Payudara Stadium Awal Mulai Dipasarkan di Indonesia

Dalam perjalanannya selama dua tahun, DASS telah melahirkan satu saintis baru lulusan S2 dari program beasiswa DASS 2018, yaitu Andi Rahim, seorang saintis lulusan program magister bidang Kimia dari Universitas Padjajaran.

Andi menempuh S2 dalam jangka waktu kuliah kurang dari dua tahun dengan predikat summa cumlaude. Saat ini, Andi bekerja sebagai saintis di PT Fonko International Pharmaceuticals, salah satu perusahaan Dexa Group, yang memproduksi obat-obatan onkologi.

"Dexa Group sebagai perusahaan farmasi sangat peduli akan pentingnya pendidikan di Indonesia. Karena itu, bentuk dukungan Dexa Group terhadap pendidikan tidak hanya mencakup pendidikan S2, tetapi juga bagi para lulusan apoteker," ujar Sonny.

Dukungan beasiswa terhadap apoteker telah berlangsung selama 11 tahun. Karenanya sejak 2018, bentuk dukungan Dexa Group terbuka lebih luas melalui Dexa Award Science Scholarship yang diperuntukkan bagi mahasiswa yang ingin menempuh pendidikan S2.

Kini, rangkaian program beasiswa DASS 2020 telah dimulai. Pembukaan pendafataran DASS 2020 telah berlangsung sejak 20 Februari 2020. Pendaftaran dan pengumpulan proposal hingga batas waktu 20 April 2020. (OL-7)

Baca Juga

MI/Ramdani

Ussy Sulistiawaty Bagikan Hand Sanitizer Gratis

👤MI 🕔Sabtu 04 April 2020, 01:00 WIB
PRESENTER Ussy Sulistiawaty, 38, menunjukkan kepedulian sosial di tengah wabah virus korona dengan membagi-bagikan hand sanitizer...
AFP

Tom Holland Usir Bosan ala Spider-Man

👤Atikah Ismah Wahyu 🕔Sabtu 04 April 2020, 00:15 WIB
PANDEMI covid-19 yang melanda berbagai belahan dunia membuat masyarakat tinggal di rumah dan melakukan isolasi...
 SKETSA MI/Seno

Sebanyak 2.311 Pekerja Alami PHK Akibat Wabah Covid-19

👤M. Iqbal Al Machmudi 🕔Jumat 03 April 2020, 21:52 WIB
Dengan begitu Pemerintah pusat melakukan segenap upaya untuk mengatasi hal tersebut salah satunya adalah memberikan pelatihan dalam program...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya