Minggu 23 Februari 2020, 03:45 WIB

Bersenang-senang dan Belajar Toleransi lewat Dongeng Musikal

Melalusa Susthira | Weekend
Bersenang-senang dan Belajar Toleransi lewat Dongeng Musikal

DOK CIPUTRA ARTPRENEUR THEATER
Pertunjukan musikal berjudul Senandung Anak Jaman (SAJ) yang mengangkat soal keberagaman dan masalah sehari-hari yang dihadapi anak-anak

Pementasan Senandung Anak Jaman ini dimainkan 119 anak dari berbagai latar belakang dan komunitas. Benar-benar Bhinneka Tunggal Ika, ya!

MENONTON pergelaran di sebuah teater megah berstandar internasional tentu sangat mengasyikkan, ya sobat Medi. Apalagi bila menyaksikan dongeng musikal berjudul Senandung Anak Jaman (SAJ).

Pertunjukan musikal produksi Cerita Cinta Anak Indonesia (CCAI) itu berlangsung di Ciputra Artpreneur Theater, Jakarta, Minggu (16/2). Selain mengangkat soal keberagaman, SAJ juga menceritakan masalah sehari-hari yang dihadapi anak-anak hingga orang dewasa, lo! Misalnya, kecanduan gawai dan perundungan (bullying).

Pada awalnya diceritakan seorang anak dalam keluarga kecil masa kini yang keranjingan bermain gawai. Kemudian menampilkan dua perbedaan zaman itu. Ada anak-anak masa kini yang banyak asyik bermain dengan gawainya sendiri. Hayo, sobat Medi ada yang seperti itu enggak?

Selanjutnya, adegan menuturkan munculnya berbagai konflik, dari perundungan hingga aksi kejahatan lainnya. Dari beragam adegan itu, Medi pun tidak hanya merasa hanyut dalam cerita. Adakalanya Medi ikut sedih menyaksikan adegan dan ada kalanya juga terhibur serta kagum dengan kepandaian teman-teman yang ada di panggung.

Tidak hanya benar-benar menikmati pertunjukan, Medi juga ikut belajar tentang pentingnya kebersamaan dan toleransi keberagaman.

Coba sobat Medi bayangkan, kalau tidak toleran, kita cenderung serbacuriga atau serbaberpikiran buruk terhadap orang yang berbeda dengan kita. Baik itu berbeda penampilan, agama, suku, maupun kemampuan fisik dan akademis. Padahal, kan berbeda belum tentu buruk. Bisa jadi meski berbeda penampilan dengan kita, orang tersebut sangat baik hatinya. Duh, rugi sekali kita kalau memusuhi mereka. Padahal, kan kalau kita berteman, bisa sangat menyenangkan, ya, sobat Medi!

Dari teman-teman yang bermain di pentas itu pun kita bisa melihat sendiri enaknya berteman dengan beragam orang. Bayangkan saja, yang ikut pentas itu ada 119 anak lo! Mereka datang dari berbagai latar belakang dan komunitas, di antaranya dari sekolah Islam dan komunitas pemuda gereja. Seperti semboyan bangsa Indonesia, yaitu Bhinneka Tunggal Ika, ya!

Bukan itu saja, para penonton juga anak-anak yang beragam. Di antara teman-teman yang duduk di 600 kursi gratis merupakan teman-teman berbagai agama dan ada teman-teman penyandang disabilitas juga. Semuanya senang dan menikmati pertunjukan.

Semangat

Oya, Medi juga berkesempatan ngobrol-ngobrol dengan beberapa pemain, seminggu sebelum pertunjukan. Satu lagi, hebatnya para pemain itu, semuanya tampil sukarela alias tidak dibayar. Mereka rela demi menyampaikan pesan toleransi tadi. Benar-benar hebat!

Salah satu pemeran utama dalam pementasan ialah Queenara Khairunnisa Sudirman atau yang akrab disapa Rara. Rara yang berperan sebagai ketua geng antagonis itu mengaku bersemangat terlibat dalam pementasan.

"Saya bersemangat ikut pergelaran ini karena ceritanya bagus. Saya juga bertemu dengan teman baru, bercanda, tapi serius ketika sedang latihan. Semua pemainnya seru meski baru kenal, beda sekolah, usia, dan agama," ungkap Rara yang baru saja memenangi lomba menyanyi Grand Prix of Nation di Swedia itu.

Selain Rara, ada juga Olivia Karenina Syahir yang hobi menulis cerita. Ia mengaku senang terlibat dalam pementasan karena dapat menuangkan imajinasinya. Selama terlibat dalam pelatihan pementasan, Olivia pun mengaku mendapat pelajaran bahwa sesama teman harus saling menghormati dan tidak boleh memrundung.

"Yang pasti, senang ketemu teman-teman baru dan hobiku memang mendongeng, aku punya beberapa e-book di serusetiapsaat.com, suka bikin cerita. Kalau di pikiran aku tuh, aku punya banyak imajinasi," tutur Olivia yang saat ini duduk di Kelas 2 SDN Bukit Duri 05.

Pendiri CCAI sekaligus sutradara pertunjukan, Sony Kusbiyono, menyebut bahwa dongeng musikal Senandung Anak Jaman menekankan sebagai ruang bagi anak-anak untuk berekspresi dan berimajinasi. Karena itu, ia selalu mengingatkan kepada anak-anak untuk menjadi dirinya sendiri dalam berekspresi, alih-alih menghafal naskah seperti pementasan teater konvensional--yang kerap membuat lupa dialog atau naskah yang harusnya dibacakan saat ada di atas panggung.

"Jadi, kita enggak kayak teater yang selalu menghafal gitu, kita bebasin anak-anak untuk menjadi diri sendiri. Kami berharap anak-anak yang tampil akan terasah bakat dan terbiasa saling menghormati dengan sesama pemain yang berbeda latar belakang," pungkas Kak Sony yang juga akrab disapa Kakek Uban. (M-1).

Suara Anak

1. Kenjiro Shendie Feraldi

SD Islam Dwi Matra, Kelas 5

Bullying: "Teman aku aja ada yang baru keluar sekolah karena di-bully sama teman aku. Aku pernah sih, tapi enggak parah banget. Cuma diledekin gitu doang saja. Enggak tahu tiba-tiba mereka ngeledekin saja kayak gitu doang. (Aku) biasa saja, soalnya itu cuma ngeledekin."

2. Kilau Kinasih Putri Khameshwari

SD Tetum Bunaya, Kelas 5

Gawai: "Biasanya sih kalau asyik sendiri (main gawai) kayak gitu jarang. Soalnya kata papah kalau sudah mau besar, khususnya remaja, kata papah harus mulai bisa mengatur waktu membatasi main gadget. Jadi, sekarang sih main gadget agak jarang. Cuma kalau lagi benar-benar waktu luang saja. Aku punya teman, dia mungkin dalam tiga hari bisa main 3 sampai 5 jam gitu. Terus jadinya dia kayak enggak bisa fokus lagi sekarang di pelajaran, terus jadinya silinder matanya. Udah ada dua orang di kelas gitu."

3. Queenara Khairunnisa Sudirman

SD Islam Dwi Matra, Kelas 6

Bullying: "Pernah waktu kelas 4, ceritanya aku kan ikut lomba menyanyi FLS2N (Festival Lomba Seni Siswa Nasional). Alhamdulillah sudah tingkat nasional dan juara 2. Terus karena banyak yang iri, terus aku dikata-katain. Katanya suara jelek, gitu-gitu. Terus aku sempet nangis, tapi guruku bilang cuekin saja. Akhirnya, kalau mereka ngata-ngatain, ya aku cuekin aja, kayak namanya juga orang iri, karena itu urusan enggak penting. Tapi, Alhamdulillah orang-orang itu udah enggak bully-bully aku lagi."

Baca Juga

Netflix

Rekomendasi Film: Tiger King, Kegilaan Pengeksplotasi Harimau

👤Fathurrozak 🕔Senin 06 April 2020, 08:30 WIB
Tiger King mungkin gambaran paling kotor dan menyedihkan soal perdagangan dan penguasaan harimau di Amerika...
Unsplash/ Dan Gold

Manusia Di Rumah Saja, Gerakan Kerak Bumi Berkurang

👤Fathurrozak 🕔Senin 06 April 2020, 07:00 WIB
Menurut seismolog, aturan di rumah saja di berbagai negara juga membuat kerak bumi lebih minim...
AFP/Mark RALSTON

Ayo, Main Bersama Hewan Kesayangan untuk Mengusir Bosan di Rumah

👤Galih agus Saputra 🕔Minggu 05 April 2020, 08:10 WIB
Mereka bahagia karena ada seseorang yang akan menghabiskan banyak waktu...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya