Sabtu 22 Februari 2020, 18:56 WIB

BMKG Ingatkan Potensi Banjir Bandang di Lereng Merapi masih Ada

Ardi Teristi Hardi | Nusantara
BMKG Ingatkan Potensi Banjir Bandang di Lereng Merapi masih Ada

MI/Ardi Teristi Hardi
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Dwikorita Karnawati.

 

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Dwikorita Karnawati mengingatkan masih adanya potensi banjir bandang di lereng Merapi. Pasalnya, pada Februari ini merupakan puncak musim hujan.

"Februari merupakan puncak musim hujan dan (curah hujan tinggi masih berpotensi terjadi hingga) sampai maret. Kita masih mewaspadai banjir dan banjir bandang di kaki lereng Merapi," kata dia ketika ditemui di Kantor Stasiun Klimatologi, Mlati, Sleman, DIY.

Ancaman banjir bandang di lereng merapi masih ada karena masih memasuki puncak musim hujan dan karakter lereng Merapi yang curam. Air dalam jumlah besar yang turun di atas akan menjadi besar begitu menemui daerah yang sedikit datar. "Awan CB masih berseliweran di puncak Merapi," kata dia.

Selain banjir dan banjir bandang, masyarakat di beberapa lokasi di DIY juga diminta waspada terhadap tanah longsor. Seperti di Samigaluh dan Kalibawang di Kulon Progo, Piyungan, Imogiri, Dlingo, dan Pundong di Bantul, serta Gedangsari di Gunungkidul.

Dwikorita mengatakan, hasil analisis kondisi dinamika atmosfer terkini menunjukkan masih adanya potensi hujan lebat di beberapa wilayah DIY untuk sepekan ke depan. Meningkatnya pola tekanan rendah di wilayah Belahan Bumi Selatan (BBS) mengindikasikan terjadinya peningkatan aktifitas Moonson Asia yang dapat menyebabkan penambahan massa udara basah di wilayah Indonesia.

Aktifitas pusat tekanan udara rendah di BBS (sekitar Australia) dapat membentuk pola ITCZ (Inter Tropical Convergence Zone) yang memanjang dari Laut Jawa hingga Laut Arafura. Dalam skala lokal, ITCZ memengaruhi pola angin di DIY berupa konvergensi (pertemuan dan perlambatan kecepatan angin) sehingga meningkatkan potensi pembentukan awan hujan cukup signifikan di wilayah Indonesia.

"Faktor kondisi suhu muka laut di wilayah Indonesia yang masih cukup hangat (23-29 Februari) meningkatkan potensi pembentukan awan hujan," kata dia.

Ia pun mengingatkan masyarakat yang beraktivitas di luar rumah. Mereka tetap dimohon untuk memantau cuaca. Apabila akan mengadakan acara besar, penyelenggara acara diminta berkoordinasi dengan BMKG. "Bisa mengawal cuaca setiap jam gratis tidak perlu membayar," kata dia.

BMKG, ada atau tidak ada bencana, rutin menyampaikan kondisi cuaca terkini minimal kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah.  (AT/OL-10)

Baca Juga

Partai NasDem

NasDem Morotai Keberatan Pemkab Pinjam Dana PEN Rp200 Miliar

👤Hijrah Ibrahim 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 07:28 WIB
Fraksi Partai NasDem mengajukan penolakan peminjaman anggaran Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) oleh Pemkab Pulau Morotai, Maluku Utara...
MI/Gabriel Langga

ABK di Pelabuhan Wuring Diberi Edukasi Protokol Kesehatan

👤Gabriel Langga 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 07:07 WIB
Edukasi Prokes diberikan di Pelabuhan Wuring karena pelabuhan itu merupakan tempat datang dan keluarnya kapal ikan dan...
MI/Ardi Teristi Hardi

Pantai Jungwok Gunungkidul Jadi Pilihan Libur Panjang

👤Ardi Teristi Hardi 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 07:00 WIB
Pantai Junwok di Kalurahan Jepitu, Girisubo, Gunungkidul memiliki pemandangan yang indah, berpasir putih, airnya bersih dan cocok untuk...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya