Minggu 23 Februari 2020, 00:25 WIB

Cokelat Pasir Pantai Bibir Ibu

Maya Sandita | Weekend
Cokelat Pasir Pantai Bibir Ibu

Caksono
Ilustrasi

AKU adalah buih. Ibuku pantai dan ayahku lautan. Aku lahir dari gelombang resah yang dibawa ayah. Dihantarkan pada ibuku, yang setia menunggu hingga lupa ia dengan waktu. Resah ayahku pada ibu adalah rindu yang menggebu. Rindu yang berulang dihantarkan malam yang kembali ke petang.

Doa nelayan membubung ke bulan demi ikan-ikan di lautan, lewat jala yang dihamparkan. Ayahku jadi Jibril di setiap dingin malam dan di tengah gigil. Wahyu Tuhan yang setiap malam singgah di bulan, selalu ia sampaikan. Kemudian, ikan-ikan tak pernah punah sepanjang zaman.

Malam-malam itu pun berganti. Lama-kelamaan kepulangan nelayan dari lautan bukan satu-satunya yang dinanti. Kapal wisatawan yang berlabuh berbuah berkah dan masalah. Awalnya bibir ibu merekah, senyum bibirnya berwarna jingga hangat yang pekat. Satu dua kelapa muda jadi hadiah bagi mereka, pelepas dahaga setelah puas berselancar dengan ombak yang menggila-ayah sedang cemburu rupanya.

Ah, ternyata rasa yang ada di dada ayahku bukan hanya cemburu. Gelisah memburu bersama rasa takut tentang apa saja yang bisa terjadi pada ibu. Benar saja, mereka mengubah laut biru menyeluruh jadi keruh, mengubah bibir ibu yang merah muda pucat menjadi cokelat. Penyakit-penyakit ditinggalkan di darat.

Malam-malam berikutnya, doa nelayan masih terdengar ketika berlayar. Doa ayahku ikut terbentang kala itu, “Izinkan aku merengkuh istriku lebih rapat dan menciumnya lebih dalam. Barangkali dengan begitu, sakitnya bisa kusembuhkan. Biar sampah-sampah kutelan. Tak akan kumuntahkan.”

Tapi Tuhan tak pernah mengabulkan. Ayahku pikir, Tuhan masih memberi mereka kesempatan. Meski di garis-garis pantai mereka meninggalkan dosa yang ibuku tak pernah mengadukannya.

Pada beberapa waktu, ayahku pulang membawa hatinya yang sendu. Ia pelan-pelan mendekati ibu. Kali ini aku tak dibawanya serta. “Tinggallah bersama gelombang,” katanya.

Aku tak lain hanya bisa mengiyakan. Tidak ada buih semalaman.
Meskipun kata ayah sebelumnya hidup ini mesti seimbang. Ada kata pergi dan pulang. Ada yang mesti terus dibawa bersama ada yang harus tidak ikut serta. Tapi aku adalah sesuatu yang nyata. Aku menjadi bukti yang terang bahwa mereka benar tidur seranjang.  

Tapi kadang aku bertanya, sebenarnya ayah dan ibuku ini apa? Mengapa ayah tak lelah mengantarku pada ibu, dan membawaku kembali pulang? Apa ayah tidak lelah melakukannya berulang-ulang? Ya memang, perjalanan selalu penuh dengan cerita ayah tentang bagaimana ikan-ikan bertelur dengan banyak demi anak-anak nelayan. Yang mana, setelah sampai pada ibu, kuceritakan padanya.

Ibu akan membalas tentang doa apa yang hari ini ia dengar dari para istri. Doa yang amat panjang dan jadi bukti bahwa ada kata tunggu dan setia pada pantainya yang telanjang.

Tidak pernah kutanyakan kegelisahanku pada ayah atau ibu. Ayah tentu akan marah dan badainya bisa saja membuat perahu-perahu di tengah badai patah. Jika kutanyakan pada ibu, aku takut ia sendu, dan terkikislah tepian pantai itu karenaku.

Aku memang sering mengadu pada ibu. Sebab bilapun marah, suara ibuku tak segemuruh suara ayah. Lirih dan tak sedikit pun ada amarah. Kadang kala aku tidak ingin kembali ke lautan, dan tetap tinggal di tepian. Hanya saja ranji keluarga melekat pada ayah, jadi aku dikenali sebagai buih ombak laut, bukan buih bibir pantai.

Pada suatu temaram, setelah surya tenggelam dan lampu-lampu nelayan mulai dinyalakan, ibuku mendengar suara bersahut-sahutan. Deburan ombak terdengar lebih kasar. Karang seperti berulang-ulang ditampar. Aku tak mengerti apa salah isi lautan kali ini. Ikan-ikan jadi mabuk dan mati. Mengapung ia di permukaan samudera. Susah payah ke pantai kubawa beberapa, pada ibu lantas aku bercerita.

“Apa yang terjadi, Bu? Mengapa ayah begitu marah? Apa gerangan yang tempo lalu kalian bicarakan?”

Ibuku tak berkata-kata kecuali hanya desir pasir yang hanya bisa kuseret sebagai air.

Perahu nelayan berbalik arah seketika. Istri-istri mereka sudah menunggu dan berjaga dengan rasa cemas yang luar biasa. Tiga empat perahu berhasil merapat sampai ke darat.

Sementara aku ditarik ayah ulang-alik. Semakin pantai kucengkeram, semakin ayah menarikku dengan geram. Akhirnya habis seluruh daya. Kubiarkan ayah meluapkan amarahnya. Dua tiga jam semua berlangsung dengan kejam. Sampai lelah ayah. Malam jadi tenang ketika badai itu hilang.

Ayahku menarik diri, jauh sekali. Dibawanya aku serta-tentu saja.
Lalu aku merasa ayah pergi terlalu jauh. Ibu tentu akan rindu dan aku adalah anak yang menyatakan rindu dengan keluh.
Ayah diam.

Beberapa jam berlalu, aku mulai dengan keluhku. Ayah masih diam.
“Kurasa ibu menungguku. Apakah ayah tidak rasakan sepi ibu?”
Ayah terus saja diam.

Pantai semalaman mengering. Pengunjung senang sebab pantai terasa lebih lapang. Mereka merasa biasa, tak ada yang harus ditakutkan meski sedikit saja. Lalu mereka dengan senang bermain bola sejak pagi hingga siang tiba.

Sedang ayah akhirnya muak juga dengan keluhku dan dadanya jadi penuh. “Kenapa kau keras kepala seperti ibumu? Kenapa kau bisa diatur oleh rasa rindu sementara kau tahu itu bisa membunuhmu? Kau lihat bibir ibumu yang dulu merah muda, kini cokelat warnanya. Sebab apa? Sebab ia lebih rindu manusia-manusia yang membangun tenda dan menebar sampah di sana.”

“Darimana ayah tahu jika ibu menyukai semua itu? Bukankah gelombang kau tinggalkan hanya sekali sebulan? Sementara aku mendengar ceritanya yang duka setiap kali aku tiba.”

Kulihat ayahku hanya sedang ditelan cemburu. Ia tak menemukan ibu yang dulu. Semakin hari ia merasa ibuku tak lagi menantikannya, sebab semakin ramai manusia memotret kecantikannya, dan semakin banyak manusia lain yang tergiur mencicipi bibir pantai yang merah muda.

“Ayah, kau tahu sejak lama ibuku tak lagi sehat adanya. Apa kau ingat, apa yang pernah kau pinta pada tuhan tanpa penat?”

Doa ayahku yang pernah terbentang kala itu, pulang pada otaknya yang hampir buntu-sebab rasa sayang yang jumlahnya tak terbayang. “Tuhan, sungguh. Aku rindu merengkuh istriku lebih rapat dan menciumnya lebih dalam. Jika ia masih sakit dan semakin sakit, barangkali cara itu, sakitnya bisa kusembuhkan. Biar sampah-sampah kutelan. Tapi apa yang mesti kukembalikan, akan kupulangkan.”

Usai doanya membubung ke angkasa, langit biru berubah warna jadi abu-abu. Nelayan tak jadi mengarah ke sampan. Seolah Tuhan memukulkan tongkatnya ke palung lautan, retak ia. Ayah ditariknya.

Ibuku dengan bibirnya yang cokelat merasa ayah mengubah hamparannya yang hebat jadi tiba-tiba berubah sebutan menjadi darat.

Angin berembus, menyampaikan pesan ibu dengan sangat halus.
Obrolanku dengan ayah terus berlangsung ke palung. Ketika sampai pesan itu di telinga ayahku, tiba-tiba ia meledak-keluar dari palung sempit yang sesak.

Kali ini kulihat ayahku seperti lahir dengan sangat besar. Wajahnya murka dan terlihat sangat kasar. Aku berteriak ketika kulihat manusia sudah seperti semut hitam di atas kue berwarna cokelat.

Ayah mendadak memeluk ibu. Ternyata ia pun tak bisa menahan gelombang rindu dan cemburu.
Oleh tuhan, doanya telah dikabulkan.

Dan ayah, tak pernah muntah. (M-2)

Padang, 3 Juli 2019

 

Baca Juga

Istimewa

Tingkatkan Kekebalan Tubuh selama Wabah Covid-19

👤Mediaindonesia.com 🕔Senin 30 Maret 2020, 20:13 WIB
Dokter spesialis gizi klinik dr Diana F Suganda SpGK menjelaskan, ketika virus menemukan inangnya dibutuhkan imunitas...
Unsplash/ Mick Haupt

Kiat Belanja Aman di Tengah Pandemi

👤Melalusa Susthira K 🕔Senin 30 Maret 2020, 17:00 WIB
Jika terpaksa harus belanja keluar, berikut cara-cara agar anda terhindar dari risiko terinfeksi...
 ANTARA/Fikri Yusuf

Kemendikbud Ajak Masyarakat Berkesenian Secara Daring

👤Atikah Iswahyuni 🕔Senin 30 Maret 2020, 16:38 WIB
Sampai saat ini sudah ada puluhan pegiat budaya dan seni yang sudah bergabung untuk melakukan pertunjukan daring seperti band dari ISI...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya