Minggu 23 Februari 2020, 00:05 WIB

Mari Elka Pangestu: Bukan Semata karena Saya Perempuan

Melalusa Susthira K | WAWANCARA
Mari Elka Pangestu: Bukan Semata karena Saya Perempuan

MI/ADAM DWI
Mari Elka Pangestu

DI sela-sela kesibukannya dalam mempersiapkan sejumlah ke­perluan untuk berangkat ke Washington DC, Amerika Serikat (AS), awal pekan depan, Mari Elka Pangestu menjamu kedatangan wartawan Media Indonesia, Melalusa Susthira K, dan tim Metro Tv, Xin Wen, di ruangannya di Center for Strategic and International Studies (CSIS) untuk melakukan sesi ­wawancara seputar jabatan barunya sebagai Direktur Pelaksana, Kebijakan Pembangunan dan Kemitraan Bank Dunia, kemarin.

Dalam kesempatan itu, mantan Menteri Perdagangan itu membagikan cerita soal rencana-rencananya ke depan, sepak terjang kariernya, hingga analisisnya atas berbagai masalah ekonomi. Berikut petikannya.

Apa saja kegiatan sehari-hari yang Anda lakukan jelang keberangkatan ke Washington DC untuk mulai bekerja di Bank Dunia?
Sibuk menyiapkan banyak hal, termasuk menyelesaikan tugas-tugas yang belum selesai dan mencari pengganti. Saya banyak tugas, baik sebagai dosen maupun peneliti, sebagai ketua dari yayasan nirlaba maupun sebagai komisaris di MAP dan Bank BTPN. Jadi, di setiap tempat yang saya melakukan kegiatan selama 5 tahun ini, saya menyelesaikan tugas saya dan juga menyerahkan tugas kepada yang menggantikan saya, dan itu cukup memakan banyak waktu.

Apa ada acara perpisahan yang dibuat rekan-rekan Anda?
Ternyata banyak juga teman yang ingin melakukan acara perpisahan. Sudah dua minggu terakhir ini penuh dengan acara. Akhirnya, jadi sedih karena harus berangkat, tapi juga berarti ternyata banyak teman yang akan dirindukan selama berada di luar (negeri). Tapi tentunya ­apakah untuk libur, untuk tugas, masih ada kemungkinan saya balik ke Indonesia, tapi mungkin tidak sering karena saya sekarang bertanggung jawab kepada 188 anggota negara (Bank Dunia).

Bagaimana reaksi Anda begitu dinominasikan hingga dikabarkan terpilih sebagai pejabat di Bank Dunia?
Saya sangat berterima kasih bahwa Presiden memberi kesempatan ini kepada saya karena memang yang menominasikan harus negara dan itu berarti harus dengan persetujuan dari kepala negara.

Bisa Anda ceritakan sedikit prosesnya?
Begitu pemerintah dan Presiden memasukkan (rekomendasi) nama saya, mungkin selang beberapa hari saya sudah langsung diwawancara. Itu sekitar 3 bulan yang lalu. Jadi, cepat banget prosesnya. Pada waktu itu sedikit terkejut saya belum pernah berpikir akan masuk ke Bank Dunia.

Selama proses wawancara, apa saja yang dibahas?
Membahas tentu substansi mengenai ekonomi pembangunan, mengenai isu-isu kemiskinan karena itu merupakan misi dari Bank Dunia, dan pengalaman saya sebagai menteri di dalam mengelola berbagai isu pembangunan. Juga, pengalaman saya sebagai pengguna dari jasa-jasa dan capacity building dari Bank Dunia karena waktu saya jadi menteri, saya memang banyak bersinggungan dengan mereka dan bahkan sebelum saya jadi menteri. Sebagai konsultan, saya pun banyak melakukan pekerjaan untuk Bank Dunia, jadi sebetulnya saya cukup familier dengan lembaga ini.

Selain itu apa lagi?
Mereka juga bertanya mengenai pengalaman saya, antara lain yang saya masih ingat ‘kenapa bahasa Inggris kamu bagus, ya?’, saya bilang saya dari kecil memang kebetulan tinggal di luar negeri. Oleh karena itu, bahasa Inggris saya cukup bagus karena ternyata salah satu tugas saya adalah mewakili Bank Dunia di forum-forum lain dan kemitraan. Saya Direktur Pelaksana ­Kebijakan Pembangunan dan Kemitraan, nah di bagian kemitraan inilah diperlukan seseorang yang memang bisa articulate karena kita harus mewakili Bank Dunia di forum-forum yang lain dengan mitra. Jadi, memang itu salah satu syarat yang diminta.

Visi apa saja yang akan Anda lakukan selama bekerja di Bank Dunia?
Saya rasa saya masih kepada mimpi saya dulu, yaitu be­kerja di ekonomi pembangunan dan visi-misi Bank Dunia ialah me­ngentaskan masyarakat dari kemiskinan dan membangun negara sedang berkembang dengan secara merata. Jadi, hasil dari pembangunan itu harus merata, tidak hanya kelompok tertentu. Tinggal bagaimana hal itu dilaksanakan di negara-negara sedang berkembang yang berbeda, dengan keadaan sumber daya yang berbeda, kelembagaan yang berbeda, isu politik yang berbeda, anggaran-anggaran yang berbeda. Jadi, ini semua dinamika yang harus kita analisis.

Apa ada tugas khusus yang diberikan kepada Anda?
Saya ditugaskan untuk mengembangkan penelitian dan pengetahuan mengenai kebijakan pembangunan. Memang itu sangat luas, tapi bagaimana kita bisa, bukan saja melakukan penelitian ilmu ekonomi, tapi bagaimana ilmu itu bisa diterapkan ataupun pengalaman case study bisa diterapkan sehingga bisa membantu negara sedang berkembang yang lagi punya masalah pembangunan untuk membuat kebijakan efektif dan tepat sasaran, sehingga benar-benar bisa mengentaskan warganya dari kemiskinan. Nah, itu yang sebetulnya salah satu tugas yang diberikan ke saya.

Penunjukan Anda sebagai pejabat penting Bank Dunia tentu dilatarbelakangi oleh pengalaman selama menjadi menteri di Indonesia sebagai negara berkembang. Pengalaman apa yang kiranya bisa Anda petik untuk dibawa ke Bank Dunia?
Indonesia negara yang sangat kompleks sehingga mungkin segala macam banyak isu pembangunan yang sudah kita alami di Indonesia. Sehingga itu mungkin sebagai rujukan, ya, walaupun apa yang diterapkan bisa ­be­kerja atau berhasil di Indonesia, belum tentu berhasil di Afrika, misalnya.

Memang pengalaman saya bukan saja sebagai ekonom, tapi sebagai menteri yang harus mengambil keputusan dan kebijakan dalam konteks pembangunan, itu juga sangat berharga buat sebuah lembaga seperti Bank Dunia.

Apa Anda juga melihat penunjukan ini sebagai bentuk keberpihakan dunia terhadap perempuan sebagai pemimpin dan merepresentasikan ke­setaraan gender?
Saya orang Indonesia kedua yang menjadi direktur pelaksana (Bank Dunia). Orang yang pertama tentunya Sri Mulyani dan kebetulan dua-duanya perempuan.

Saya rasa ini keberpihakan dalam arti memang mereka mencari perempuan untuk mengisi posisi ini. Tapi tentu bukan hanya karena kita perempuan, maka­nya kita dipilih. Tentu pasti berdasarkan kapabilitas dan kapasitas kita juga. Jadi, saya tidak pernah merasa bahwa saya itu dipilih hanya karena saya perempuan, tapi karena memang kita sudah punya track record yang mana kita juga menunjukkan kapasitas kita. (M-4)

Baca Juga

Dok.MI/Seno

Aryo Tedjo Senyawa Jambu Biji sebagai Adjuvan Menangkal Covid-19

👤Fetry Wuryasti 🕔Minggu 29 Maret 2020, 00:00 WIB
BELUM lama ini kolaborasi tim penelitian Fakultas Kedokteran UI dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) mengembangkan penelitian dari senyawa...
MI/ BARY FATAHILAH

Penelitian Berdampak Kebijakan

👤Gas/M-2) 🕔Minggu 16 Februari 2020, 07:10 WIB
BUDI Haryanto merupakan salah satu cendekia asal Indonesia yang menaruh perhatian besar terhadap perubahan iklim dan...
MI/BARY FATAHILAH

Budi Haryanto Kenaikan Suhu Untungkan Nyamuk

👤GALIH AGUS SAPUTRA 🕔Minggu 16 Februari 2020, 07:00 WIB
Peningkatan suhu Bumi telah membuat wilayah tropis 'melebar'. Salah satu imbasnya, penyebaran beberapa penyakit khas wilayah...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya