Sabtu 22 Februari 2020, 13:53 WIB

Stunting di Lembata masih Tinggi, Gerakan Sanitasi Ditingkatkan

Alex P Taum | Nusantara
Stunting di Lembata masih Tinggi, Gerakan Sanitasi Ditingkatkan

MI/ALEX P TAUM
Workshop Evaluasi pelaksanaan Bina Keluarga Balita Holistik-integratif di aula hotel Palm Indah, Lembata, NTT Sabtu (22/2/2020).

 

DATA Dinas Kesehatan Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur menyebutkan per Desember 2019, terdapat 666 anak di bawah umur dua tahun menderita stunting. Sedangkan sebanyak 1.635 anak di bawah lima tahun mengalami hal serupa. Akibatnya, dalam jangka pendek ribuan generasi Lembata itu terganggu perkembangan otak, kecerdasan, gangguan pertumbuhan fisik dan gangguan metabolisme dalam tubuh.

Dalam jangka panjang akibat buruk yang dapat ditimbulkan dari stunting adalah menurunnya kemampuan kognitif dan prestasi belajar, menurunnya kekebalan tubuh sehingga mudah sakit, dan risiko tinggi untuk munculnya penyakit diabetes, kegemukan, penyakit jantung dan pembuluh darah, kanker, stroke, dan disabilitas pada usia tua.

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lembata, dr Lusia Candra, saat memaparkan materinya dalam Workshop Evaluasi pelaksanaan Bina Keluarga Balita Holistik-integratif (BKB-HI) di aula hotel Palm Indah, Sabtu (22/2), yang diselenggarakan Plan Internasional, Program Implementasi Area Lembata, Nusa Tenggara Timur.

Dihadapan ratusan fasilitator BKB-HI, dr Lusia Chandra meengatakan stunting menyebabkan anak kekurangan gizi, terganggu tumbuh kembangnya, juga memicu terjadinya infeksi penyakit berulang serta kurangnya stimulasi psikososial.

"Derajat kesehatan dipengaruhi 40 persen adalah faktor lingkungan terutama sanitasi dan air bersih, 3 persen faktor perilaku, 20 persen faktor pelayanan kesehatan, dan 10 persen genetika atau keturunan," kata Lusia.

Sedangkan dalam kasus stunting, ada tiga komponen penting yang berpengaruh yakni pola asuh, pola makan, air bersih dan sanitasi. Untuk memutus mata rantai stunting, Dinas Kesehatan Kabupaten Lembata, pihaknya telah melakukan pemicuan sanitasi total berbasis masyarakat di 151 desa/kelurahan oleh Sanitarian Puskesmas bersama Pokja AMPL.
Selain itu, pihaknya juga telah mendeklarasi STMB 6 pilar di 78 Desa oleh Pokja AMPL.

baca juga: Minarak Brantas Gas Upaya Atasi Banjir Tanggulangin

"Kami melakukan monitoring pasca pemicuan STBM di 73 Desa/Kelurahan menuju deklarasi. Dan kami juga terus melakukan monitoring keberlanjutan STBM, pasca deklarasi STBM di 78 Desa/kelurahan. Saat ini ada 45 Desa direkomendasi untuk persiapan deklarasi STBM tahun 2020," pungkasnya. (OL-3)

 

Baca Juga

ANTARA/Oky Lukmansyah

Polda Aceh Ambil Alih Kasus Tertembaknya Tiga Nelayan di Simeulue

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 06:33 WIB
Tiga nelayan yang sedang melego di perairan Kabupaten Simeulue, Aceh tertembak. Dua nelayan tewas dan satu lainnya kritis. Polda Aceh turun...
DOK KONAWE KEPULAUAN

Kawasan Wisata di Konawe Kepulauan tanpa Dukungan Infrastruktur

👤mediaindonesia.com 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 06:00 WIB
Warga Wawonii akan bermasalah dengan transportasi laut itu ketika musim angin timur yang menimbulkan terjadi gelombang...
MI/Ardi Teristi Hardi

Martanty Angkat Perempuan Gunungkidul agar Lebih Berdaya

👤Ardi Teristi Hardi 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 05:17 WIB
Calon Wakil Bupati Gunungkidul Martanty Soenar Dewi khawatir, perempuan di Gunungkidul akan terpinggirkan bila tidak dilibatkan dalam...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya