Sabtu 22 Februari 2020, 06:25 WIB

Memperkuat Industri Petrokimia Nasional

Oki Muraza Associate Professor di bidang Teknologi Kimia, King Fahd University of Petroleum and Minerals Arab Saudi | Opini
Memperkuat Industri Petrokimia Nasional

Dok. Pribadi
Associate Professor di bidang Teknologi Kimia, King Fahd University of Petroleum and Minerals Arab Saudi Oki Muraza

SELAIN sektor energi, terutama BBM dan LPG, industri petrokimia ialah salah satu sektor yang berkontribusi besar pada tingginya impor dan defisit neraca berjalan. Impor sektor petrokimia mencapai US$20 miliar atau Rp284 triliun setiap tahunnya (Kemenperin, 2019).

Dengan bonus demografi yang mencapai 250 juta jiwa, Indonesia merupakan pasar yang sangat besar bagi produk petrokimia. Akan tetapi, kondisi industri petrokimia saat ini belum memungkinkan bagi Indonesia untuk memaksimalkan keuntungan dari pasar domestik yang besar tersebut.

Industri petrokimia di hulu memiliki tujuh building block, antara lain etilena, propilena, C4 olefin, benzena, toluena, xilena, dan gas sintesis (campuran karbon monoksida dan hidrogen). Agar lebih sederhana, kita dapat membaginya menjadi tiga klasifikasi produk: olefin, aromatik dan gas sintesis.

Untuk memproduksi tujuh building block tersebut dibutuhkan bahan baku hidrokarbon, seperti gas etana, nafta, dan batu bara. Salah satu sumber kelemahan industri petrokimia nasional saat ini ialah terbatasnya bahan baku hidrokarbon.

Mengamankan bahan baku

Dunia saat ini memiliki dua bahan baku utama untuk industri petrokimia, yaitu gas etana yang mayoritas digunakan di Amerika Serikat dan Timur Tengah. Sementara itu, nafta dijadikan bahan baku di kawasan Asia Pasifik dan Eropa.

Indonesia saat ini menggunakan nafta, terutama di Chandra Asri Petrochemicals (CAP). Tiongkok memiliki bahan baku industri petrokimia yang unik, yaitu batu bara untuk memanfaatkan melimpahnya sumber daya batu bara di Tiongkok Daratan.

Untuk memperkuat industri petrokimia, Indonesia perlu mengamankan suplai gas alam, nafta, dan batu bara dengan roadmap yang jelas dan tersturuktur, berhubung harga produk dari petrokimia sangat bergantung kepada harga bahan baku.

Kontribusi bahan baku di harga akhir bisa mencapai 70%-80%. Tentunya pemilihan bahan baku menjadi sangat penting. Secara umum, industri berbasis gas alam memiliki margin keuntungan lebih baik daripada nafta meskipun spektrum produk di petrokimia bebasis nafta lebih bervariasi.

Batu bara juga merupakan bahan baku yang strategis bagi Indonesia. Dengan melimpahnya (oversupply) gas alam dunia saat ini, harga batu bara akan tetap rendah. Untuk itu, sebagian batu bara perlu diolah di dalam negeri untuk memproduksi petrokimia. Dengan teknologi mitigasi polusi yang tepat, polusi di industri berbasis batu bara dapat diminimalkan.

Tingginya harga gas untuk industri juga perlu mendapatkan perhatian yang serius. Indonesia saat ini masih sulit untuk menurunkan harga gas untuk industri diangka US$6 per MMBTU. Sementara itu, harga gas etana di Timur Tengah, misalnya di Arab Saudi, hanya sekitar US$1.25/MMBTU.

AS saat ini, dengan kepemimpinan teknologi untuk memproduksi shale gas juga memiliki bahan baku dengan harga yang sangat murah, yakni sekitar US$2/MMBTU. Untuk itu, diperlukan pengaturan dan kebijakan yang tepat agar industri hilir yang dapat menawarkan multiple growth ini dapat benar-benar tumbuh di Tanah Air.

Kisah sukses Arab Saudi dengan Saudi Arabia Basic Chemical Industries (SABIC) yang mendapatkan bahan baku yang murah dari Aramco dengan harga US$0,75/MMBTU sejak 1976-2015 perlu menginspirasi industri hidrokarbon nasional di Tanah Air, yakni dengan mengurangi pendapatan negara di sektor migas akan melahirkan industri hilir yang sehat, kompetitif, dan terus berkembang dengan pesat.

Dengan harga gas alam yang terjangkau saat ini, SABIC menjadi salah satu produsen petrokimia terbesar di dunia. Olefin merupakan salah satu produk petrokimia hulu yang kebutuhannya paling besar. Dengan mengamankan sumber gas alam, setidaknya ada dua teknologi yang terbukti memberikan keuntungan yang menarik, yaitu perengkahan kukus (steam cracking) gas etana dan dehidrogenasi propana.

Dua teknologi petrokimia itu juga membutuhkan kepemimpinan teknologi yang merupakan salah satu program utama Kementerian BUMN saat ini. Bahan baku dan teknologi akan mengawal keberlangsungan sebuah industri.

Tiongkok, misalnya, memulai membangun kapasitas penelitian dan pengembangan di bidang gasifikasi dan konversi metanol menjadi olefin sejak 1980-an. Kini Tiongkok sudah memiliki teknologi nasional untuk memproduksi olefin dari metanol.

Amerika Serikat (AS) mendapatkan sumber daya gas alam yang melimpah di awal 2000-an. AS juga terus mengembangkan teknologi berbasis gas alam, seperti oxidative coupling dengan umpan gas metana. Harapannya, RI dapat memiliki teknologi merah putih di bidang petrokimia dengan bahan baku yang masih tersedia di masa depan untuk anak dan cucu kita.

Mengawal produksi bahan bakar nabati

Kehadiran industri petrokimia yang lebih kuat juga akan memperkuat ketahanan energi, terutama produksi bahan bakar nabati yang saat ini sedang menjadi prioritas nasional. Program biodiesel B30 (FAME) membutuhkan metanol dalam jumlah yang sangat besar, yang melebihi kapasitas produksi metanol di dalam negeri saat ini.

Program pemerintah untuk memproduksi diesel hijau (green diesel) dengan teknologi HVO (hydrogenated vegetable oil) membutuhkan suplai hidrogen yang dapat dipenuhi jika produksi gas sintesis (syngas) nasional meningkat.

Salah satu kendala lain dari industri petrokimia ialah pendanaan pembangunan kompleks industri. Indonesia dapat mengambil keuntungan dari strategi perusahaan national oil companies (NOC) di negeri yang kaya akan hidrokarbon untuk berinvestasi di Indonesia.

Saudi Aramco dan Adnoc, misalnya, sudah mengumumkan target pertumbuhan industri petrokimia yang membutuhkan pasar besar. Demikian juga dengan Kuwait yang saat ini akan berinvestasi di India. Qatar yang memiliki gas alam yang besar juga memiliki target yang sama untuk memperkuat portofolio bisnis di hilir.

Pasar yang besar dari 250 juta penduduk merupakan nilai tawar yang tinggi bagi industri petrokimia nasional untuk meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri. Selain itu, Indonesia juga memiliki 100 juta jiwa lebih penduduk di sektor middle class (Katadata, 2020) yang merupakan sumber petumbuhan bagi industri ini.

Menghemat sumber hidrokarbon

Energi merupakan salah satu pilar industri petrokimia. Dengan semangat untuk mengatasi keterbatasan sumber daya hidrokarbon, kebutuhan utilitas di industri petrokimia juga dapat ditopang oleh energi baru dan terbarukan.

Baru-baru ini Haldor Topsoe memiliki teknologi baru di proses perengkahan kukus dengan elektrifikasi. Perkembangan teknologi ini membuka peluang untuk menyuplai energi dari sumber terbarukan. Indonesia pernah memiliki industri yang ditopang oleh energi terbarukan, antara lain produksi aluminum di Inalum yang mendapatkan energi dari PLTA.

Di masa depan, ketiga sumber hidrokarbon yang masih ada, yakni gas, nafta, dan batu bara, dapat dialokasikan hanya untuk bahan baku, mengingat jumlahnya yang semakin menipis. Sumber utilitas di pabrik petrokimia dapat didukung sumber daya energi terbarukan, seperti panas bumi, biomassa, atau sampah.

Kehadiran industri petrokimia yang kuat juga akan mendukung industri manufaktur nasional yang akhir-akhir ini juga melemah. Dengan begitu, terlihat jelas ada PR yang kompleks untuk membenahi titik-titik rapuh di industri petrokimia nasional. Semoga industri kimia dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Baca Juga

Dok .MI

Agama Mati Gaya

👤Max Regus Alumnus S-3 Graduate School of Humanities Universitas Tilburg, Belanda 🕔Kamis 09 April 2020, 07:05 WIB
SEBENTAR lagi Perayaan Paskah bagi umat kristiani. (Agama) kita sedang mati...
MI/ROMMY PUJIANTO

Urgensi Perppu Pilkada

👤Titi Anggraini Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) 🕔Kamis 09 April 2020, 06:10 WIB
DALAM rapat kerja atau rapat dengar pendapat antara DPR (30/3), Menunda tahapan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah (pilkada)...
unair.ac.id

Penolakan Jenazah Covid-19 Imbas Hoaks dan Hyper Reality

👤Rahma Sugihartati Dosen Isu-Isu Masyarakat Informasi Prodi S-3 Ilmu Sosial FISIP Unair 🕔Kamis 09 April 2020, 06:00 WIB
IMBAS meluasnya wabah virus korona baru (covid-19) membuat sebagian masyarakat berubah menjadi soliter, bahkan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya