Sabtu 22 Februari 2020, 05:25 WIB

Memerangi Perdagangan Tenggiling dengan Teknologi Kecerdasan

(Gas/ M-1) | Humaniora
Memerangi Perdagangan Tenggiling dengan Teknologi Kecerdasan

ANTARA/FIKRI YUSUF
Petugas memindahkan sangkar berisi seekor tenggiling (Manis javanica) yang diserahkan kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali

 

DALAM satu dekade ini, sudah 26 ribu tenggiling dari Indonesia diperdagangkan ke luar negeri. Sepanjang 2019, ada tujuh kasus perdagangan, yang diperkirakan hendak menjual kurang lebih 200 ekor. Makhluk tersebut juga dikenal dengan nama Sunda pangolin dan memiliki nama Latin Manis javanica.

Kondisi itu memprihatinkan karena hewan bersisik keras itu berstatus kritis (critically endangered/CR) berdasarkan daftar merah lembaga konservasi dunia, IUCN. Selain itu, tenggiling merupakan satwa dilindungi dalam UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Statusnya dalam Convention on International Trade in Endangered Species (CITES) pun Appendix 1, yang artinya tidak boleh diperjualbelikan.

Pegiat lingkungan sekaligus analis Wildlife Conservation Society (WCS), Yunita Setyorini, mengungkapkan jika status tenggiling tersebut harus jadi perhatian penting sebab berdampak pula bagi kehidupan manusia. "Karena sangat menggangu rantai makanan. Jadi, pangolin dikenal sebagai insektivor atau pemakan serangga, dia bisa makan 70 juta semut dalam sehari, lalu kalau misal predator dari semut itu dihilangkan, dalam ekosistem akan terjadi lonjakan populasi semut yang juga akan berpengaruh pada pertanian dan lain-lain," tutur Yunita dalam perayaan World Pangolin Day 2020, yang berlangsung di @america, Senayan, Jakarta, Selasa (18/2).

Saat ini ada berbagai bentuk penyelundupan tenggiling ke luar negeri. Kasus yang paling menonjol bisa dilihat dari pengiriman melalui jalur laut atau kontainer, selain ada juga pengiriman dalam kapasitas kecil di beberapa pelabuhan.

"Kemudian ada lagi pengiriman via kargo untuk sisik-sisiknya, yang mana kebanyakan transitnya ada di Malaysia, lalu ke tempat-tempat konsumennya, seperti Hong Kong, Tiongkok, Vietnam, dan lain sebagainya," imbuh Yunita.

Meskipun perdangangan tenggi-ling ke luar negeri sangat tinggi, hal demikian tidak terlihat dalam tren konsumsi dalam negeri. Konsumen dalam negeri hanya terlihat dalam skala kecil atau pada etnik tertentu yang menganggap bahwa daging tenggiling ialah menu mewah (prestise). Selain itu, ada juga orang-orang yang menggunakan lidah tenggiling untuk kepentingan mistik.

Alumnus Biologi Universitas Gadjah Mada tersebut lantas menjelaskan bahwa pada dasarnya ketercukupan data dan informasi tentang penyelundupan tenggiling sangatlah penting bagi seorang analis. Maka dari itu, ia turut bergabung dalam proyek Navy Pangolin.

Proyek ini berwujud perangkat ekstraksi dan verifikasi data yang didukung kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Melalui perangkat ini seorang analis dapat menambang data dari artikel berita daring untuk menemukan informasi penting terkait dengan penyitaan satwa liar secara lebih efisien.

Saat ini, tim Navy Pangolin didukung enam personel, yakni empat orang yang bekerja sebagai teknisi AI dan dua orang yang berangkat dari latar belakang konservasi.

"Bersama-sama kita mendesain untuk melakukan pengawasan terhadap pangolin, melalui artikel yang diotomatisasi teman-teman engineer itu," tutur Yunita.

Statistik perdagangan satwa liar ilegal menunjukkan bahwa tenggi-ling termasuk sebagai kategori mamalia yang paling banyak diselun-dupkan ke luar negeri. Maka dari itu pula, ia dan tim lantas menghimpun data sebanyak-banyaknya agar semakin mudah mempelajari pola perdagangan spesies tersebut.

Navy Pangolin telah menyabet beberapa penghargaan. Pada November 2019, perangkat itu menjadi juara 2 dalam gelaran Zoohackathon tingkat regional, di Kinabalu, Malaysia. Pada tahun yang sama, perangkat itu meraih peringkat kedua dalam gelaran Zoohackathon Global yang berlangsung di Washington DC, Amerika Serikat.

Dari kedua gelaran tersebut, tim Navy Pangolin berhasil memperoleh uang penghargaan sebesar 2.000 ringgit Malaysia serta hibah Microsoft Azure Cloud Infrastructure senilai US$5.000.

Satwa lainnya

Engineering AI Navy Pangolin, Lintang Sutawika, menjelaskan bahwa Navy Pangolin diakui sebenarnya masih dalam bentuk prototipe. Nantinya, jika ia sudah diaplikasikan secara langsung, tidak menutup kemungkinan untuk menjalankan fitur mapping-nya sehingga dapat melacak daerah yang paling banyak memiliki kasus tenggiling.

Algoritma Navy Pangolin memiliki keunggulan dapat juga digunakan untuk mengidentifikasi perburuan atau perdagangan satwa liar lainnya. "Kebetulan data set yang kita mulai untuk program ini ialah tenggiling, tetapi kalau algoritmanya mau pakai untuk hewan lainnya, tinggal data setnya saja yang diubah," terangnya.

Lintang menambahkan bahwa Navy Pangolin pada dasarnya ialah sebuah perangkat. Jika kasus tenggiling dianalogikan sebagai seorang anak, Navy Pangolin boleh dibilang sebagai sepeda yang dikendarai anak tersebut ke sekolah. Maka dari itu, terselesaikan atau tidaknya tugas sekolah anak (kasus tenggi-ling) dikembalikan lagi pada unsur manusianya.

Ia menjelaskan pihaknya juga hendak menggalang kerja sama se-luas-luasnya dengan para pemangku kepentingan. Itu dirasa penting karena Navy Pangolin bekerja secara nonprofit. Sebab itu, proyek ini harus memiliki donatur khusus agar terus berjalan dan berkembang.

Ada beberapa instansi pemerintah yang hendak digandeng dan tidak menutup kemungkinan untuk menjalin kerja sama internasional karena perdagangan tenggiling bersifat lintas negara.

"Tetapi, untuk saat ini kami sedang fokus saja dengan pemangku kepentingan di tingkat lokal karena akan lebih mudah untuk kami jangkau," tuturnya.

Menurut Yunita, dewasa ini perhatian pemerintah terhadap kasus tenggiling cukup kuat. Dalam amatannya, pemerintah juga semakin proaktif memantau tindak perdagangan ilegal tenggiling karena kasusnya semakin meningkat.

"Selain itu, pemerintah dewasa ini juga tengah menggarap aksi konservasi agar dapat diterapkan pada tahap selanjutnya," pungkasnya. (Gas/ M-1)

Baca Juga

MI/FRANSISCO CAROLIO HUTAMA GANI

Nekat Mudik, ASN Terancam Sanksi

👤Indriyani Astuti 🕔Rabu 08 April 2020, 11:41 WIB
Bagi ASN yang dalam keadaan terpaksa perlu melakukan kegiatan bepergian ke luar daerah, harus terlebih dahulu mendapat izin dari atasan...
Antara/Fachrurrozi

Penanganan Covid-19, Kemenkeu Salurkan Rp 3,3 Triliun ke BNPB

👤M. Ilham Ramadhan Avisena 🕔Rabu 08 April 2020, 11:37 WIB
Anggaran itu bagian dari alokasi tambahan yang disediakan pemerintah sebesar Rp 75 triliun untuk penanganan...
ANTARA/PUSPA PERWITASARI

​​​​​​​Mensos Sampaikan 3 Usulan Bansos Khusus ke Komisi VIII DPR

👤Ihfa Firdausya 🕔Rabu 08 April 2020, 11:01 WIB
Untuk bantuan di DKI Jakarta, Mensos menjelaskan bahwa ini merupakan langkah antisipasi pemberlakuan Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB)...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya