Sabtu 22 Februari 2020, 04:25 WIB

Suwolo Lukisan dari Sampah Plastik

(Bus/M-4) | Weekend
Suwolo Lukisan dari Sampah Plastik

MI/SUMARYANTO BRONTO

 SUWOLO pernah tinggal di Eropa selama lima tahun sebagai desainer tekstil. Selama itu, ia hidup berpindah-pindah menyusuri tiga negara, yakni Jerman, Prancis, dan Spanyol. Pria 71 tahun itu mengaku pernah menempuh pendidikan di Paris College de Fashion, meskipun tak selesai karena kendala biaya. Pekerjaannya kala itu ialah mendesain gaun pengantin khusus untuk musim gugur dan musim dingin. Ia menyatakan beberapa karyanya pernah tampil dalam ajang fesyen dunia, seperti Premiere Vision di Lyon dan Interstoff di Frankfurt.

Pada 2001, Suwolo pernah mengikuti sebuah seminar yang membahas isu lingkungan hidup di Barcelona, Spanyol. Dalam seminar tersebut Suwolo sempat mendengar nama Indonesia disebut-sebut sebagai negara penyumbang sampah plastik terbesar ketiga di dunia pada masa itu.

"Saya sebagai orang Indonesia tergerak karena nama Indonesia berkali-kali disebut sebagai pengekspor sampah plastik terbesar ketiga di dunia. Saya jelaskan kepada peserta yang lain kalau Indonesia tidak seprimitif itu," terang Suwolo ketika di wawancarai Andy F Noya dalam acara Kick Andy, pekan ini.

Suatu hari seorang anak berusia 12 tahun asal Spanyol mendatanginya sambil menggenggam bungkus plastik makanan, kemudian menyodorkan bungkus tersebut kepadanya sembari berkata, "Apa yang bisa bapak buat dari ini?".

Semenjak kejadian tersebut, antara 2004 hingga 2005, Suwolo pun memutuskan untuk membuat sejumlah kolase lukisan dengan memanfaatkan limbah plastik. Tak diduga sebelumnya, ternyata karya lukis yang ia buat mendapatkan apresiasi dari sebagian besar masyarakat di Barcelona kala itu. Ia pun cukup percaya diri mengikutsertakan karya-karyanya dalam Binnale Art di Barcelona pada 2007.

"Enggak nyangka karya saya disambut baik di sana dan dalam Binnale Art itu saya satu-satunya yang dari Asia," ungkap Suwolo sembari mengingat-ingat pengalaman yang pernah ia lalui pada 2007 itu.

Kini, setelah pulang ke Indonesia, pria 71 tahun ini masih tetap fokus dengan seni lukis limbah plastik yang ia telah tekuni sejak 15 tahun lalu. Ia mengakui apresiasi masyarakat Indonesia masih minim terhadap seni alternatif yang ia usung ini. Meskipun ia tidak mendapatkan respons seantusias ketika ia menetap Eropa dulu, itu tak membuat Suwolo berhenti mengadakan workshop tentang seni yang ia geluti sejak 2005 tersebut. Ia tetap memberikan workshop kepada anak-anak SMA dan sejumlah mahasiswa di Bogor.

"Sangat berbeda ketertarikan masyarakat di Eropa dengan di Indonesia, antusiasmenya beda. Kalau di Indonesia ketertarikannya memang minim, tapi kalau sudah pameran mereka kagum," ungkap Suwolo.

Meskipun telah jarang ke luar negeri untuk memamerkan karya-karyanya lagi, sampai saat ini beberapa karya lawas Suwolo masih sering dipamerkan di beberapa negara, seperti di Hongaria, Belanda, Prancis, Spanyol, India, Hong Kong, dan Jepang.

"Ada lukisan saya yang dipinjam lalu dipamerkan di Jepang. Ada yang dipamerkan di Barcelona. Kemudian ada karya saya yang dibawa tur keliling dunia dari Eropa Timur sampai Cape Town, di Afrika selama setahun ini," ungkapnya.

Ia menyebutkan masih ada 21 lukisan yang ia buat berkeliling dunia menghiasi beberapa pameran dengan tema lingkungan. Banyak lukisan yang ia buat terinspirasi dari dongeng-dongeng klasik yang jarang dirujuk di Indonesia, seperti kisah Putri Bondan Pawaka Arum, yang merupakan kisah rakyat dari lereng Merapi yang masih jarang terekspos.

"Saya senang melukis tentang sejarah, kebudayaan, dan cerita rakyat. Lewat lukisan daur ulang sampah ini, saya berharap dapat memperkenalkan kebudayaan Indonesia dan cerita rakyatnya kepada masyarakat luas, termasuk memberikan gambaran bahwa limbah sampah sebenarnya dapat dimanfaatkan menjadi karya seni," pungkas Suwolo. (Bus/M-4)

Baca Juga

 ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso

Ini Pertunjukkan Seni di Salihara yang Bisa Anda Nikmati Gratis

👤Bagus Pradana 🕔Kamis 02 April 2020, 11:58 WIB
Komunitas Salihara akan membagikan secara gratis beberapa dokumentasi kuliah umum maupun pertunjukan seni pilihan yang dapat dinikmati...
 Anthony WALLACE / AFP

Ragam Cara Agar tidak Depresi di Masa Pandemi

👤Bagus Pradana 🕔Kamis 02 April 2020, 11:45 WIB
Salah satu cara untuk mengatasi rasa cemas dan bosan di masa karantina ini adalah dengan melihat wajah kerabat atau teman terdekat...
MI/FRANSISCO CAROLIO HUTAMA GANI.

Deteksi Dini Virus Korona dari Limbah Rumah Tangga

👤Galih Agus Susanto 🕔Kamis 02 April 2020, 11:24 WIB
Para peneliti mengamati biomarker yang ada dalam tinja dan urin yang dialirkan melalui saluran pembuangan di suatu...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya