Sabtu 22 Februari 2020, 04:05 WIB

Irene Agrivina & Ratna Djuwita Kulit Soya dan Fesyen Ramah Lingku

Bagus Pradana | Weekend
Irene Agrivina & Ratna Djuwita Kulit Soya dan Fesyen Ramah Lingku

MI/SUMARYANTO BRONTO

BERSAMA dengan tiga kawannya, Irene Agrivina dan Ratna Djuwita berinisiatif mendirikan XXLab pada 2014. Itu merupakan sebuah organisasi perempuan yang bergerak di bidang seni, sains, dan teknologi. Melalui XXLab, kelima perempuan muda ini ingin berkonstribusi mengatasi permasalahan lingkungan yang kerap terjadi di Yogyakarta, yaitu pencemaran sungai akibat limbah industri rumah tangga.

Salah satu limbah industri rumahan yang kerap mencemari sungai-sungai di Kota Gudeg ini ialah limbah pengolahan tahu. Berkat kepiawaian kelima perempuan tangguh ini, mereka berhasil mengolah limbah tahu menjadi material baru yang dapat digunakan sebagai bahan pokok untuk produk-produk fesyen ramah lingkungan, seperti pakaian, tas, sepatu, maupun aksesori lainnya.

"XXLab ini merujuk pada kromosom perempuan. Awalnya karena kami semua perempuan, kami ingin memberdayakan perempuan agar paham dengan sains dasar tanpa harus mengenyam sekolah khusus atau masuk dalam laboratorium sains," terang Ratna, yang merupakan salah satu pendiri dari XXLab, saat menjadi tamu di acara Kick Andy.

Laboratorium 'kecil-kecilan' yang membuka workshop di Desa Srandakan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, ini berhasil mengembangkan biomaterial dari bahan dasar limbah cair kedelai yang mereka sebut kulit soya atau soya leather. Proses pembuatan biomaterial ini dilakukan dengan memanfaatkan bakteri Acetobacter xylinum untuk menghasilkan serat selolusa alami yang juga dikenal sebagai nata de soya.

Nata de soya ialah lembaran material menyerupai kulit yang terbuat dari air limbah tahu. Kulit soya ini memiliki kualitas laiknya kulit sapi yang tahan air, ringan, tidak mudah robek, dan tahan lama. Setelah melalui pengolahan lanjutan di dapur XXLab, serat selolusa tersebut dapat digunakan sebagai bahan baku untuk produk-produk fesyen ramah lingkungan.

"Bakterinya bernama Acetobacter xylinum, sisa endapan air limbahnya bisa dijadikan pupuk, bahkan potongan material ini juga bisa dibuang ke tanah karena organik. Pengolahan material ini bisa disebut zero-waste," ungkap Ratna yang juga merupakan lulusan dari Ilmu Komunikasi di Universitas Padjajaran Bandung itu.

"Harapan kami material ini dapat menjadi alternatif fesyen untuk masa depan," tambah Irene, punggawa XXLab yang juga berprofesi sebagai desainer fesyen ini.

Kulit soya atau soya leather temuan XXLab ini berhasil memenangi penghargaan bergengsi di Prix ars Electronica di Austria pada 2015. Di ajang tersebut para juri terkesan dengan konsep sustainable soya leather yang diusung kelima perempuan inovatif ini.

"Kami semua bukan dari latar belakang sains, malah kami dari latar belakang fashion desain yang kuat. Tapi kami berharap nata de soya ini tidak dipatenkan oleh satu pihak. Ini adalah karya bersama. Kalau mau dipatenkan biar pemerintah saja yang mematenkan karena memang kedelai banyak dijumpai di Indonesia dan Indonesia termasuk konsumen terbesar kedua komoditas kedelai di dunia," ungkap Irene.

Temuan mereka kemudian diajarkan kepada sejumlah ibu rumah tangga di Desa Srandakan, Bantul, untuk membantu perekonomian masyarakat di sana. Sampai saat ini sejumlah workshop pun rutin dilakukan oleh XXLab untuk mengajak agar perempuan mulai mengenal keilmuan sains dasar. Sejak memenangi kontes elektronika di luar negeri, temuan XXLab ini mulai banyak dilirik oleh brand-brand ternama dari Eropa maupun Australia. Sejumlah tawaran kolaborasi pun sempat mereka terima, salah satunya dari brand papan atas dunia, seperti Cartier dan Adidas.

"Sudah lumayan banyak ibu-ibu yang kami dampingi, siapa saja boleh ikut, kami tidak bisa memaksa. Kami bukan pelaku bisnis, target kami bukan untuk cari keuntungan. Kami ini citizen inventor. Jadi, kalau bisnis kami serahkan kepada ahlinya, kami hanya memberikan informasi juga solusi untuk lingkungan," pungkas Irene.

Kini, XXLab tengah merencanakan konsep kerja sama untuk mengintensifkan produksi soya leather sebagai bahan baku untuk produk fesyen ramah lingkungan. Melalui kerja sama ini diharapkan kulit soya mampu menjadi bahan alternatif untuk industri fesyen Tanah Air yang sedang mengalami perkembangan pesat. (M-4)

Baca Juga

MI/Sumaryanto Bronto

Musikus Glenn Fredly Tutup Usia

👤Fathurrozak 🕔Rabu 08 April 2020, 20:00 WIB
Solois papan atas Tanah Air itu baru saja menyambut kelahiran anak pertamanya pada Februari...
Istimewa

Hadapi Pandemi Covid-19 dengan Terus Menjaga Imunitas Tubuh

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 08 April 2020, 19:26 WIB
Permintaan suplemen dan multivitamin pun naik hingga 10 kali lipat sejak wabah korona...
MI/Arya Manggala

Berbagi Info Seputar Covid-19 Ala Ira Koesno

👤Adiyanto 🕔Rabu 08 April 2020, 13:44 WIB
Hasil wawancara itu dia unggah di akun instagram pribadinya @irakoesnocom dan juga akun YouTube pribadinya, Ira Koesno...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya