Sabtu 22 Februari 2020, 00:20 WIB

Mematahkan Cengkeram Drakula Neoliberalisme

BAGUS PRADANA | Weekend
Mematahkan Cengkeram Drakula Neoliberalisme

MI/Caksono
Judul buku: Drakula Abad 21

NEOLIBERALISME, alih-alih menghasilkan ikatan kewarganegaraan, ia menghasilkan konsumerisme. Alih-alih menghasilkan tatanan kemasyarakatan, ia menghasilkan pusat perbelanjaan. Hasil akhirnya ialah masyarakat yang tercerabut dari akar dan individu-individu yang kehilangan moral, mereka secara sosial tidak berdaya. Demikianlah definisi singkat yang pernah diungkapkan Noam Chomsky ketika diminta menjelaskan neoliberalisme oleh Robert McChesney (McChesney, 2004).

Melanjutkan penjelasan Chomsky dengan kerangka penjabaran yang lebih kontekstual, penulis Alexander Jebadu cukup berhasil meracik penjelasan tersebut dalam sebuah buku provokatif yang berjudul Drakula Abad 21, Membongkar Kejahatan Sistem Ekonomi Pasar Bebas tanpa Kendali sebagai Kapitalisme Mutakhir Berhukum Rimba & Ancamannya terhadap Sistem Ekonomi Pancasila.

Tanpa ragu, buku setebal 323 halaman ini mengkritisi praktik-praktik ekonomi neoliberal yang terjadi di Indonesia dari berbagai lini. Neoliberalisme sebagai sebuah gagasan muncul untuk pertama kalinya pada 1973. Ketika itu, krisis harga minyak dunia sedang terjadi. Amerika Serikat terlibat cekcok dengan negara-negara penghasil minyak di Timur Tengah dan harus menghadapi embargo politik yang menyebabkan harga minyak dunia melejit.

Gerakan ekonomi sepihak yang dilakukan negara-negara Timur Tengah melalui kebijakan embargo ini membuat para elite politik di Amerika mulai berselisih paham tentang pertumbuhan ekonomi. Pada masa tersebut, ide-ide libertarian ekonomi kemudian mencuat kembali, mendominasi wacana dalam diskusi di ruang rapat IMF maupun World Bank.

Ronald Reagen, presiden terpilih ke-40 Amerika kala itu memperkenalkan sebuah paket kebijakan ekonomi untuk memicu pertumbuhan ekonomi dan menghindari ancaman inflasi bagi Amerika yang ia sebut Reagenomic. Langkah yang sama juga diambil Margaret Thatcher yang saat itu menjabat sebagai perdana menteri Inggris. Reformasi ekonomi dilakukan Thatcher di Inggris dengan menerapkan kebijakan ekonomi yang memihak pada perkembangan pasar bebas. Deregulasi dan privatisasi ekonomi di berbagai lini industri di Inggris pun mulai gencar terjadi.

Dua kebijakan yang mereka lakukan sama-sama mensyaratkan pengurangan intervensi negara terhadap pasar. Merujuk pada dua kebijakan ini, banyak ekonom dunia kemudian menamainya sebagai neoliberalisme.

Kata neo pada neoliberalisme juga sering dikaitkan dengan bentuk baru dari konsep fundamentalisme pasar yang menolak campur tangan negara dalam perekonomian. Neoliberalisme bertujuan mengembalikan kekuasaan pasar dengan membebaskan laju gerak pasar (laissez faire).

Satu aspek neoliberalisme lain ialah menawarkan penyederhanaan politik dengan menyerahkan proses pengambilan keputusan pada mekanisme pasar, seakan segala sesuatu hal di dunia ini hanya ditentukan pasar dan para pengusaha semata. Kapitalisme neoliberal menganggap pasar menentukan segala sendi kehidupan manusia.

Agenda-agenda neoliberal ini sempat tersebar luas ke berbagai penjuru dunia dalam momentum krisis moneter yang sempat melanda negara-negara di Amerika Latin dan Asia pada 1990-an. Saat itu, IMF dan Bank Dunia bersepakat untuk meluncurkan paket kebijakan ekonomi yang disebut sebagai Konsensus Washington.

Neoliberalisme di Indonesia

Di Indonesia, pelaksanaan agenda ekonomi pasar bebas ini telah dimulai semenjak krisis moneter hinggap di negara ini pada 1997. Saat itu pemerintah mengalami kebangkrutan dan negara dipaksa untuk menerapkan sejumlah paket liberalisasi ekonomi oleh IMF. Sontak horizon harapan dari perekonomian Indonesia pun berubah.

Pemerintah dengan sangat terpaksa harus merelakan beberapa perusahaan pelat merah diprivatisasi, sekaligus memberi izin masuk kepada beberapa perusahaan multinasional. Dalam waktu singkat, wilayah Indonesia disulap menjadi ladang bancakan perusahaan-perusahaan multinasional oleh IMF.

Masih banyak 'wajah jahat' dari penerapan agenda-agenda 'neoliberal' di Indonesia yang berusaha disingkap secara lebih dalam melalui buku ini. Penulis menyajikan pembahasan yang cukup holistis, mendedah permasalahan ekonomi di Indonesia yang ujung pangkalnya ternyata berpusat pada implementasi kebijakan pasar bebas, yang kini penerapannya semakin masif dan dalam wujud yang makin sublim.

Pemetaan teoretis yang cukup komprehensif mengenai penindasan yang dilakukan perusahaan-perusahaan transnasional di Indonesia hingga kontrolnya di level kebijakan (politik) pun disajikan dengan sangat apik dalam kepustakaan terbitan Penerbit Ledalero ini.

Buku ini rupanya terinspirasi dari pengalaman penulis dalam mengadvokasi masyarakat petani desa di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Menurutnya, para petani tersebut berupaya dengan gigih mempertahankan hak mereka atas lahan pertanian dari caplokan industri pertambangan yang dioperasikan perusahaan-perusahaan transnasional atas restu otoritas daerah.

Secara garis besar, buku dengan 10 bab ini menyajikan pembahasan yang cukup komprehensif mengenai neoliberalisme dan masalah-masalah yang ditimbulkannya.

Pada bab pertama hingga empat, pembaca akan diajak untuk mendiskusikan satu tema besar tentang dunia korporasi, yang mendedah secara komprehensif, mulai landasan konseptual hingga praktik pengelolaan ekonomi yang dilakukan perusahaan-perusahaan transnasional.

Empat bab selanjutnya dalam buku ini, yaitu bab lima hingga delapan, dibahas detail perkembangan tiga ideologi 'kanan', yaitu liberalisme, kapitalisme, dan yang paling mutakhir neoliberalisme dalam tajuk Kapitalisme Neoliberal. Pada bagian ini disajikan pula kritik terhadap perkembangan sistem ekonomi neoliberal yang dalam kacamata penulis mengisap habis-habisan ekonomi dan kekayaan alam orang-orang miskin di negara-negara berkembang (hlm 238).

Pada dua bab terakhir dalam buku ini, yaitu bab sembilan dan 10, penulis mulai menghadirkan kontekstualisasi dari apa yang ia maksud sebagai 'cengkeraman' sistem ekonomi neoliberalisme dalam konteks Indonesia, sebagai suatu bentuk penjajahan baru (hlm 249). Tak ketinggalan kritik dan rekomendasi pun penulis berikan dalam elaborasi yang cukup mendalam di dua bab akhir ini.

Keimanan

Salah satu rekomendasi menarik ialah perihal penempatan konteks keimanan; bagaimana gereja seharusnya mematahkan praktik neoliberalisme yang bertentangan dengan ajaran cinta kasih dalam ajaran kristiani.

Dalam pandangan Alexander, yang juga dosen di Sekolah Tinggi Filsafat Ledalero, itu, mengecam dan mengoreksi secara profetik sistem ekonomi neoliberal sepatutnya merupakan bagian konstitutif dari karya misi pelayanan gereja--yang mencakup semua orang kristiani (hlm 268).

Agar perekonomian Indonesia bisa pulih dari cengkeraman 'drakula', ia berpendapat perlu ada keberanian untuk kembali berevolusi, kembali ke sistem ekonomi Pancasila yang kini seolah utopia (hlm 282).

Ada beberapa hal teknis yang sedikit mengganggu kenyamanan membaca buku ini, terutama paragraf-paragraf ataupun catatan kaki yang panjang. Namun, penulis cukup jeli melakukan penggambaran dengan menggunakan sosok pangeran bengis/makhluk mitologi 'drakula' dalam merepresentasikan kondisi terisap dari sebuah negara yang tidak sadar bahwa dirinya telah lama dikangkangi 'setan pengisap darah' bernama neoliberalisme. Karena itu, buku pengantar ini patut disimak para penikmat kajian ekonomi politik. (M-2)

Baca Juga

Gatesnotes.com

Rekomendasi Bacaan #DiRumahAja dari Buku Favorit Bill Gates

👤Bagus Pradana 🕔Selasa 07 April 2020, 15:00 WIB
Buku Why We Sleep dikatakan Bill Gates membuatnya mengubah pola...
Patrick Meinhardt /AFP

Terbukti, Anak-anak Lebih Tahan Terhadap Virus Korona

👤Galih Agus Saputra 🕔Selasa 07 April 2020, 11:50 WIB
Kebayakan dari mereka juga tidak memerlukan perawatan intensif di rumah sakit, bahkan kecil kemungkinannya meninggal...
AFP

Supermoon Akan Temani Anda Malam Ini

👤Bagus Pradana 🕔Selasa 07 April 2020, 11:04 WIB
Masih ada beberapa rangkaian supermoon lagi pada tahun...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya