Jumat 21 Februari 2020, 06:10 WIB

Globalisasi Virus dan Jejak Peradaban

Eko Sulistyo Sejarawan, Deputi di Kantor Staf Presiden periode 2014-2019 | Opini
Globalisasi Virus dan Jejak Peradaban

Dok.KSP

VIRUS korona atau juga disebut covid-19 tiba-tiba menjadi pusat perhatian seluruh dunia. covid-19 pertama kali diketahui menyebar di Wuhan, Tiongkok, Desember 2019. Virus yang ditengarai berasal dari hewan liar yang dijual di Huanan Seafood Market di pusat Kota Wuhan itu dikabarkan telah menginfeksi 68.000 orang dan membunuh lebih dari 1.500 orang.

Meski Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) belum menyatakan status darurat virus korona, 27 negara telah mengonfirmasi adanya kasus covid-19. Tidak mengherankan jika para pemimpin dunia sibuk mengantisipasi agar warganya tidak terinfeksi virus yang belum ada vaksinnya ini. Sebab, dalam sejarah, wabah penyakit menular lebih banyak membunuh manusia daripada peperangan.

Pembunuh massal

Dalam sejarahnya, peradaban sebuah bangsa juga banyak diluluhlantakan penyakit menular yang berasal dari virus. Yuval Noah Harari dalam Homo Deus, Masa Depan Umat Manusia (2018), menulis bahwa setelah kelaparan, musuh besar kedua kemanusiaan ialah wabah dan penyakit menular. Dalam sejarah, tercatat pembunuh massal paling efektif ialah wabah penyakit menular.

Beberapa penyakit menular telah membunuh jutaan manusia dan beberapa masih ditemui hingga sekarang. Pada abad ke-14, penyakit menular hampir saja membasmi peradaban Eropa dalam tragedi yang disebut sebagai black death (maut hitam) ketika wabah penyakit pes melanda Eropa lalu menyebar ke belahan dunia lainnya. Pembawa wabah ini ialah bakteri dalam kutu di badan tikus yang pindah ke tubuh manusia.

Dengan menumpang ekspedisi kapal dagang dan armada penaklukan kolonial, para tikus dan kutu itu lalu menyebar ke seluruh Asia, Eropa, Afrika Utara, dan pesisir Samudra Atlantik. Jumlah korban yang tewas dalam black death diperkirakan antara 75 sampai 200 juta orang.

Sekitar seperempat penduduk Eurasia tewas, sementara di Florensia 50 ribu warganya tewas dari 100 ribu orang. Di Inggris, 4 dari 10 orang mati dan populasi di Inggris menurun drastis dari 3,7 juta jiwa menjadi 2,2 juta jiwa setelah wabah pes.

Penyakit menular juga dibawa oleh ekspedisi kolonialisme negara-negara Barat ke Benua Amerika dan belahan dunia lainya. Pada 1520, armada kapal yang membawa tentara Spanyol ke Meksiko melakukan penaklukan atas bangsa asli Meksiko. Namun, bukan senjata dan tentara yang kemudian melakukan pemusnahan massal bangsa asli Meksiko, melainkan virus cacar (smallpox) yang dibawa salah seorang dalam rombongan.

Penyakit cacar membawa pemusnahan massal yang mengerikan bagi penduduk asli Maya dan Aztec di Meksiko. Dari Maret hingga Desember 1520, dari 22 juta penduduk Meksiko tinggal tersisa 14 juta jiwa. Bahkan, pada 1580, penduduk Meksiko tersisa sekitar satu juta orang.

Kedatangan Columbus dan armadanya pada 1492 di Benua Amerika juga membawa berbagai penyakit menular yang membunuh penduduk asli benua tersebut. Columbus datang dengan bakteri dan virus penyakit yang mematikan, seperti tipus, flu, cacar, dan campak. Selain menjadi pembunuh utama umat manusia, virus yang dibawa dalam armada para conquistador juga merupakan kekuatan pembentuk sejarah yang amat menentukan.

Kontak orang-orang Eropa memungkinkan penularan penyakit ke komunitas yang sebelumnya terisolasi dan tidak mengenal semua penyakit yang dibawa dari Eropa. Sejarah kelam ini menyebabkan kehancuran bahkan jauh melebihi tragedi black death di Eropa pada abad ke-14. Globalisasi virus penyakit menular meluas dengan cepat menghancurkan dan membunuh komunitas-komunitas asli beserta peradabannya.

The Washinton Post, 5 Mei 2019, dalam tulisannya berjudul Columbus brought measles to the New World. It was a disaster for Native Americans, menyebut penyakit yang dibawa orang Eropa diperkirakan mengakibatkan lebih dari 80%-95% populasi penduduk asli Amerika musnah dalam 100-150 tahun pertama setelah 1492. Dalam 50 tahun setelah kontak dengan Columbus, populasi asli Taino di Pulau Hispaniola hampir punah. Populasi Meksiko Tengah turun dari sekitar 15 juta pada 1519 menjadi sekitar 1,5 juta seabad kemudian.

Dunia kedokteran

Pada 1918, ketika Eropa sedang dilanda Perang Dunia I, kematian massal terjadi di Eropa dan berbagai negara di luar Eropa karena penyakit menular, bukan karena perang itu sendiri. Negara-negara Eropa yang terlibat Perang Dunia I (PD-I) cenderung merahasiakan wabah ini. Namun, pers di Spanyol ramai memberitakan kematian karena wabah ini sehingga penyakit menular ini dijuluki flu Spanyol.

Jumlah korban tewas akibat flu Spanyol diperkirakan antara 50 sampai 100 juta orang, setara 3%-5% populasi Bumi saat itu. Jumlah yang tewas bahkan lebih banyak dari korban tewas PD-I dari 1914-1918, yakni sekitar 18 juta orang.

Tepat yang dikatakan Jared Diamod dalam Guns, Germs & Steel (Bedil, Kuman, & Baja), Rangkuman Riwayat Masyarakat Manusia (2013), bahwa pemenang perang masa lalu bukan hanya bala tentara dengan jenderal dan senjata terbaik, sering kali hanyalah menularkan kuman paling berbahaya pada musuh mereka.

Pada 1950-an kembali terjadi wabah penyakit flu Asia yang merenggut korban hampir 2 juta orang di Asia. Pada 1968 menyebar wabah penyakit flu Hong Kong yang memakan korban jiwa antara 1 sampai 4 juta jiwa di dunia. Pada 2002 menyebar wabah flu babi yang memakan korban sekitar 18 ribu sampai 150 ribu jiwa.

Pada 2003 menyebar wabah flu burung yang memakan korban 455 jiwa. Sebelumnya, pada 2002 juga muncul penyakit SARS atau severe acute respiratory syndrome yang menewaskan 775 jiwa. Pada 2012 dideteksi wabah penyakit MERS atau middle east respiratory syndrome yang memakan korban sebanyak 990 jiwa. Pada 2016 muncul wabah virus ebola yang menewaskan 11 ribu orang.

Dari semua penyakit menular, AIDS atau acquired immuno deficiency syndrome, sejak 1980-an hingga kini telah memakan korban sekitar 30 juta orang di seluruh dunia. Tragedi AIDS dianggap sebagai kegagalan medis terbesar dalam beberapa dekade terakhir. Namun, kemajuan pengobatan telah mengubah para pasien AIDS dari vonis mati menjadi kondisi kronis.

Semakin berkurangnya korban jiwa akibat serangan virus dan penyakit menular karena kecepatan penanganan, semakin maju teknologi kedokteran dan pengobatan. Dampak dari epidemik penyakit menular sudah menurun secara dramatis dalam beberapa dekade terakhir. Bahkan, pada 1979 WHO sudah menyatakan penyakit cacar sudah dapat dikalahkan. Inilah epidemik pertama yang berhasil dimusnahkan dari muka bumi oleh manusia.

Ke depan, manusia akan menghadapi kuman-kuman yang lebih tangkas seperti halnya covid-19 atau virus korona saat ini. Namun, kemajuan dunia kedokteran diyakini akan mampu mengatasinya secara tepat dan lebih efisien ketimbang hari ini.

Baca Juga

dOK. pRIBADI

Apa Langkah setelah TGPF Intan Jaya?

👤Frans Maniagasi Anggota Tim Asistensi UU Otsus Papua 2001 🕔Kamis 22 Oktober 2020, 03:10 WIB
Momentum TGPF Intan Jaya mestinya menjadi pintu masuk pemerintah pusat untuk menuntaskan konfl ik Papua yang telah berlangsung selama lima...
Dok. Pribadi

Omnibus Law Cipta Kerja dalam Bidang Agraria

👤Aartje Tehupeiory Dosen, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Kristen Indonesia 🕔Kamis 22 Oktober 2020, 03:05 WIB
Investasi memang membutuhkan regulasi agar bisa berjalan secara terarah dan tidak merugikan masyarakat atau lingkungan di mana investasi...
Dok. Pribadi

Bagaimana Pengobatan Covid-19?

👤Tjandra Yoga Aditama Guru Besar Paru FKUI, Mantan Direktur WHO SEARO, Mantan Dirjen P2P & Ka Balitbangkes 🕔Kamis 22 Oktober 2020, 03:00 WIB
Pengendalian covid-19 perlu dilakukan dari hulu ke hilir secara menyeluruh, dari test, trace dan treat, dari peran serta masyarakat sampai...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya