Kamis 20 Februari 2020, 17:38 WIB

Banyak Orang Tua Tak Tahu Dampak Susu Kental Manis pada Anak

mediaindonesia.com | Nusantara
Banyak Orang Tua Tak Tahu Dampak Susu Kental Manis pada Anak

Istimewa
Ketua Bidang Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial PP Muslimat NU, dr Erna Yulia Sofihara.

 

PRESIDEN Jokowi dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin telah menetapkan salah satu fokus utama kerjanya adalah membangun sumber daya manusia (SDM) unggul. Berbagai rencana strategis telah disiapkan untuk memastikan angka kasus kekerdilan (stunting) bisa ditekan sesuai target turun 10% dalam lima tahun mendatang.

Selain alokasi anggaran di bidang kesehatan, pemerintah melakukan penguatan program promotif dan preventif lewat pemenuhan gizi dan imunisasi balita, serta edukasi publik tentang pentingnya pola hidup sehat untuk menekan angka penyakit tidak menular.

Konvergensi penurunan stunting pun diperluas di 260 kabupaten dan kota.  Salah satu yang menjadi daerah sasaran nasional penekanan angka kasus stunting tahun ini adalah Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sampai akhir tahun lalu terdapat sebanyak 3.725 bayi di lima tahun (balita) yang mengalami stunting atau sekitar 7,73% dari total 58.000 balita. Kondisi ekonomi serta buruknya pola asuh menjadi penyumbang gizi buruk di kabupaten ini.

Berbagai studi menunjukkan pengetahuan gizi sangat mempengaruhi persepsi, pemilihan, dan pola makan masyarakat. Sayangnya, literasi gizi di Indonesia masih rendah, mengakibatkan banyak terjadi mispersepsi dan orang tua yang keliru memberikan asupan gizi untuk anak.

Pengetahuan tentang susu misalnya, sebagian masyarakat beranggapan semua susu adalah sama. Bahkan setiap minuman yang berwarna putih pun diasumsikan sebagai susu yang dapat memenuhi kebutuhan anak.

Oleh karena itu regulasi dan pengawasan pangan oleh pemerintah yang dalam hal ini adalah Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) dan juga kontrol sosial dan edukasi oleh organisasi juga memegang peran penting.

Terkait masih rendahnya edukasi gizi di Indonesia, Yayasan Abhipraya Insan Cendikia Indonesia (YAICI) berkerja sama dengan PP Mulimat Nahdatul Ulama menyelenggarakan acara 'Sosialisasi Bijak Mengkonsumsi Susu Kental Manis' di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Rabu (20/2).

Dalam sambutannya, Gubernur DIY Hamengkubuwono X yang dibacakan Drh. Berty Murtiningsih, Pelaksana Harian Kadinkes DIY mengatakan telah banyak beredar berita tentang dampak susu kental manis untuk anak-anak di daerahnya.

"Tapi masih banyak orang tua yang belum menyadarinya efek negatif  susu kental manis (SKM). Selama ini ada yang menganggap SKM adalah minuman yang direkomendasikan untuk mendukung kesehatan dan pertumbuhan anak," tutur Berty.

Peneliti Intistut Pertanian Bogor (IPB), Dr Dodik Briawan mengatakan kadar gula dalam kental manis, tidak cocok dikonsumsi anak secara rutin. Kandungan susunya hanya 2-5,5 gram lemak jenuh yang memiliki dampak negatif bagi kesehatan kardiovaskure, kardiovaskuler.

“Saya mengapresiasi dan mendukung kegiatan ini. Bagi saya ini adalah urusan generasi masa depan Indonesia. Ini kerja besar dan perlu kerjasama lintas sektor. Pemerintah tidak bisa sendirian membangun generasi emas,” ujar Berty Murtiningsih yang juga Kabid Pengendlian Penyakit Dinkes DIY.

“Sebenarnya kandungan gula dan susu dalam kental manis sudah ada dalam labelnya. Jadi kita sebagai konsumen harus bijak. Dalam label juga sudah tertera kental manis tidak untuk bayi di bawah 1 tahun," kata Dr Diah Tjahjonowati, M.Si.,Apt mewakili Kepala Balai POM DIY.

"Tetapi di bawah tiga tahun juga tidak bagus karena akan membuat anak adiksi dan menolak makanan yang manisnya di bawah SKM,“ papar Diah.

Sementara ini dalam sambutannta, Ketua Bidang Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial PP Muslimat NU, dr Erna Yulia Sofihara  mengatakan selama ini kita ketahui banyak konsep yang salah terutama ibu-ibu bahwa kental manis dianggap susu, padahal kandungan gulanya tinggi susunya rendah.

"Jadi perlu hati-hati bila dikonsumsi anak. Sejatinya Kental manis adalah toping. Di acara hari ini juga dilombakan makanan dengan kreasi kental manis agar masyarakat tau peruntukan yang sebenarnya,” ujar Erna. (RO/OL-09)

 

Baca Juga

ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah

Berhitung Matang sebelum Mengunci Kota

👤JI/DG/YH/MR/DW/PO/N-2 🕔Selasa 31 Maret 2020, 03:00 WIB
KENEKATAN Wali Kota Tegal, Jawa Tengah, Dedy Yon Supriyono melakukan karantina wilayah secara ketat berbuah...
ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha

Karantina 14 Hari bagi Pemudik

👤Tim/N-2 🕔Selasa 31 Maret 2020, 02:30 WIB
GELOMBANG kedatangan pemudik terbukti sulit dibendung. Sejumlah kepala daerah pun sigap menyiapkan karantina selama 14 hari bagi mereka...
MI/Pius Erlangga

Pakar: Penyemprotan Disinfektan Seharusnya Bukan ke Tubuh

👤Agus Utantoro 🕔Senin 30 Maret 2020, 23:55 WIB
Sebenarnya disinfentan tidak perlu disemprotkan ke tubuh manusia, tetapi ke benda-benda yang sering digunakan bersama, misalnya gagang...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya