Rabu 19 Februari 2020, 13:27 WIB

Komodifikasi Mantan dan Rekaman Kota

Fathurrozak | Weekend
Komodifikasi Mantan dan Rekaman Kota

ist
film Toko Barang Mantan

PENGGUNAAN term mantan dalam sinema Indonesia, setidaknya sudah dilakukan beberapa kali. Terhitung sejak 2014, ada lima judul film yang mencatut kata ini.

Pada 2014, ada film Mantan Terindah yang diambil dari judul lagu ciptaan Yovie Widianto. Digarap Farishad Latjuba, yang juga mengulang term mantan untuk judul filmnya pada tahun lalu, Mantan Manten. Tahun 2017, juga muncul film Mantan (Svetlana Dea). Tahun ini, muncul dua film yang mencatut kata mantan. Dengan durasi waktu edar yang bersamaan (20 Februari 2020), 4 Mantan dan Toko Barang Mantan.

Dengan berbagai spektrumnya, term mantan menjadi salah satu cara para sineas untuk membeberkan bahasa sinema mereka, dengan berbagai genre pula. 4 Mantan memilih jalur penceritaan melalui genre thriller. Sementara itu, Mantan Manten milik Farishad, tertempel pada term mantan yang lekat dengan drama.

Namun, Farishad mampu memberi dimensi lain dalam kisah Mantan Manten. Lewat spektrum pemaes (perias) pengantin jawa yang kemudian mengantar aktris Tutie Kirana masuk nominasi pemeran pendukung wanita terbaik FFI 2019. Sementara itu, Toko Barang Mantan menggarap cerita lewat spektrum drama komedi yang memanfaatkan dimensi toko jual beli barang peninggalan mantan.

Laris manisnya penggunaan term mantan dalam sinema Indonesia bisa jadi sebagai bentuk tangkapan realitas sosial mantan dalam kedudukannya di tengah pandangan masyarakat. Di Yogyakarta, bahkan ada Festival Melupakan Mantan. Suatu kegiatan yang mendorong para pengunjungnya untuk membawa barang-barang peninggalan mantan untuk kemudian disumbangkan. Mantan, lalu juga dikomodifikasi sebagai bagian dari romansa untuk mengalirkan premis dalam sinema.

Di Toko Barang Mantan, Tristan (Reza Rahadian) menjual dan membeli barang-barang yang memiliki cerita tentang mantan. Ide ini muncul karena bisa jadi ia punya banyak mantan dan barang-barang peninggalannya yang menumpuk. Namun, sebanyak apapun mantan Tristan, ia mengkristalkan memori pada mantannya yang terakhir, Laras (Marsha Timothy). Toko yang ia urusi dan membuatnya berantakan kuliah itu pula, juga bisa jadi sebagai cara Tristan merawat kenangan yang kelewat awet pada Laras.

Toko Barang Mantan, sedikit mirip dengan Cinta Dalam Kardus (2013) dari universe Malam Minggu Miko-nya Raditya Dika yang disutradarai Salman Arsito. Bila Cinta Dalam Kardus membedah kisah-kisah mantan pada karakter tunggal Miko (Raditya Dika) saat open mic, Toko Barang Mantan membedah kisah-kisah mantan pada orang-orang yang datang yang ingin menjual barang kenangan mereka.

Dalam hal ini, Toko Barang Mantan menawarkan sisi yang lebih menarik, dengan variasi spektrum pemaknaan romansa dan mantan dari demografi yang lebih beragam. Misalnya, anak SMA (diperankan Syifa Hadju) yang datang ke toko Tristan untuk menjual tiket menonton sebagai barang yang ia anggap memiliki kenangan berharga bersama pasangannya yang baru saja putus beberapa hari.

Berpacaran sejak SMP dan selalu menyimpan tiket nonton bioskop mereka berdua, bagi Syifa merupakan manifestasi kenangan yang perlu digusur dan diganti dengan hal baru. Sebab itu, ia ingin melarungnya di toko milik Tristan.

Berbeda lagi dengan pasangan yang punya obsesi kecintaan satu sama lain (Fendy Chow dan Stella). Mereka memutuskan untuk berpisah lantaran terlalu cinta satu sama lain. Barang yang ingin mereka lepas ialah sneakers dengan jenis dan warna sama. Mengindikasikan bagaimana tipikal pasangan yang harus selalu serasi, termasuk untuk urusan tampilan. Ada lagi, Ibob Tarigan yang datang dengan koper kuningnya. Dibawa dengan memasukkan sekuens kilas balik, memberi visual untuk penonton tahu kisah yang terjadi pada Ibob.

Suatu ketika, Laras mendatangi toko milik mantannya. Ia datang hanya untuk mengabari bahwa dirinya akan segera melangsungkan pernikahan. Keesokannya, Laras kembali datang hanya meminta Tristan memilih suvenir yang sesuai untuk pernikahan mantannya itu bersama pasangan yang dipilih Laras. Namun, tak lama Laras kembali datang. Kali ini, dengan ragu-ragu dan meminta Tristan untuk menjual cincin tunangan Laras.

Pada spektrum ini, ada yang belum usai antara Tristan dan Laras. Keduanya lalu mencuri waktu untuk kembali berhubungan, keduanya jadi kerap menghabiskan waktu bersama. Setelah sekian tahun putus komunikasi dan tiba-tiba salah satunya datang dengan kabar yang mendorong karakter lain memiliki perubahan.

Pada bagian ini, juga serupa secara permukaan pada film Reza terdahulu, Hari untuk Amanda (2010) yang disutradarai Angga Sasongko. Amanda (Fanny Fabriana) tidak lama akan melangsungkan pernikahan dengan Doddy (Reza Rahadian). Namun, dalam persiapannya itu, Hari (Oka Antara) muncul dalam kehidupan Amanda. Dan membuat perubahan alur karakter di dalamnya.

Karakter-karakternya, juga setidaknya punya tipikal yang serupa. Doddy yang sibuk dengan pekerjaan, begitu pula calon suami Laras yang tidak diekspos berlebih dalam layar. Hari, ialah antitesa Doddy. Karakter yang lebih ingin menikmati momen-momen dengan lebih santai. Begitu pula Tristan, serupa Doddy. Karakter yang tidak perlu mengurus serba kebergegasan dunia. Tristan tengah berhenti kuliah dan jadi mahasiswa dua digit. Ia kabur dari rumahnya, sebab sang ayah kembali menikah sepeninggal ibunya yang wafat.

Laras, sudah cukup mandiri dengan pekerjaan dan melesat meninggalkan Tristan. Maka, toko itu sebenarnya ialah juga wujud eskapisme Tristan pada kegetiran-kegetiran. Seperti Amanda, Laras juga kemudian bimbang pada pilihan-pilihan keputusannya. Sementara, saat Laras muncul lagi dalam hidup Tristan, ia berusaha menebus yang selama ini dilewatkan.

Tema mantan dalam sinema Indonesia masih menjadi salah satu pilihan untuk mengantar premis. Memang tidak ada yang begitu baru. Bagaimana pun cara menggarapnya, mantan menjadi salah satu komodifikasi dalam layar sinema. Ia bisa saja hadir dengan dimensi yang lebih memiliki kedalaman, bisa juga dibelokkan dengan nuansa thriller, atau, dengan cara ringan seperti komedi romantis.

Sinema setelah MRT

Di Toko Barang Mantan, sebenarnya juga bisa menjadi medium untuk menangkap kecenderungan sinema kita setelah hadirnya Moda Raya Terpadu (MRT). Film dengan latar tempat Jakarta ini, juga memasukkan bagian-bagian MRT sebagai sekuens untuk mengenal di mana dunia sinema dalam cerita berlangsung. Scene-scene MRT yang melintas, atau karakter yang keluar dari stasiun.

Sebelum Toko Barang Mantan, ada beberapa film kita yang mengambil latar Jakarta, juga mengekspos MRT. Bebas, Love for Sale 2, dan NKCTHI, ialah beberapa film yang menggunakan unsur MRT sebagai bagian dari dunia sinemanya. Baik sekadar memberi shot sebagai latar karakter, atau menaruh scene yang melibatkannya.

Tentu, ini juga bisa menjadi penanda zaman. Ketika film-film yang diproduksi setelah adanya MRT, memasukkan scene-scene untuk menandai dunia sinema mereka berada di Jakarta, diasosiasikan dengan MRT. Sebelumnya, barangkali pilihannya ialah Metro Mini, Kopaja, atau bajaj. Atau, lebih lawas lagi, bemo, becak, atau bus bertingkat. Tentu, ini juga andil sinema dalam merekam zaman dan perubahan wajah suatu kota. (M-4)

Baca Juga

Netflix

Rekomendasi Film: Tiger King, Kegilaan Pengeksplotasi Harimau

👤Fathurrozak 🕔Senin 06 April 2020, 08:30 WIB
Tiger King mungkin gambaran paling kotor dan menyedihkan soal perdagangan dan penguasaan harimau di Amerika...
Unsplash/ Dan Gold

Manusia Di Rumah Saja, Gerakan Kerak Bumi Berkurang

👤Fathurrozak 🕔Senin 06 April 2020, 07:00 WIB
Menurut seismolog, aturan di rumah saja di berbagai negara juga membuat kerak bumi lebih minim...
AFP/Mark RALSTON

Ayo, Main Bersama Hewan Kesayangan untuk Mengusir Bosan di Rumah

👤Galih agus Saputra 🕔Minggu 05 April 2020, 08:10 WIB
Mereka bahagia karena ada seseorang yang akan menghabiskan banyak waktu...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya