Selasa 18 Februari 2020, 00:03 WIB

Aksi Kekerasan Siswa dan Guru, PGRI Minta Publik Proporsional

Syarief Oebaidillah | Humaniora
Aksi Kekerasan Siswa dan Guru, PGRI Minta Publik Proporsional

Ilustrasi
kekerasan di sekolah

 

MENANGGAPI maraknya aksi kekerasan di sekolah belakangan ini yang melibatkan siswa dan guru. Ketua Umum Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Unifah Rasyidi meminta publik menilainya secara proporsional.

"Saya meminta pemberitaan tentang kekerasan guru terhadap murid, dan sesama murid hendaknya proporsional.Masyarakat jangan mudah terprovokasi, " kata Unifah Rasyidi menjawab Media Indonesia di Jakarta, Minggu (16/2).

Seperti diberitakan pekan lalu, kasus kekerasan seorang guru di SMA Negeri Bekasi, Jawa Barat, terhadap anak didiknya.Juga kekerasan sesama siswa di Malang, Jawa Timur dan di Purworejo , Jawa Tengah yang viral di media sosial.

Unifah meminta guru jangan terlalu mudah disalahkan. "Kita jangan mudah menyalahkan guru, sehingga kesannya guru itu seperti monster,” cetusnya.

Ia menegaskan, tidak sedang membela guru, ia hanya meminta penilaian secara proporsional dari masyarakat dilihat dari peran masing-masing pihak.

"Mari kita ajak semua pihak untuk duduk bareng. Peran orang tua dan kepemimpinan sekolah juga sangat penting dalam mengatasi bersama masalah yang terjadi di sekolah, " tegasnya.

Baca juga : Lingkungan Positif di Sekolah Tangkal Terjadi Kekerasan

Lebih lanjut Unifah mengungkapkan, PGRI menemukan puluhan kasus kriminalisasi pada guru setiap tahunnya. Anehnya, kasus itu buntut dari tindakan tegas guru dalam mendidik muridnya.

Buntut tindakan disiplin itu banyak yang berakhir di kepolisian. Namun bukan untuk mediasi, tetapi malah sang guru yang dinyatakan bersalah atas pendisiplinan yang dilakukan.

"Seingat saya, ada sebanyak 120 guru mengeluhkan pemberitaan di media sosial yang dianggap berlebihan, tanpa melihat duduk persoalan yang sebenarnya," pungkasnya.

Psikolog anak Novita Tandry berpendapat pemberitaan kekerasan yang viral di medsos harus dilhat pada dua sisi.dengan melihat kondisi siswa dan guru .

"Kita harus mendengar langsung dari kedua belah pihak, tidak langsung memojokkan guru semata seperti kasus kekerasan yang terjadi di SMAN Bekasi," ujarmya seraya meminta guru juga harus mampu mengontrol diri menghadapi tingkah laku siswanya.

Menurut Novita, sebelum memberi sanksi pada siswa, guru terlebih dulu mesti memanggil orang tua murid untuk dilakukan musyawarah bersama sehingga dapat mencari jalan keluar yang.baik bagi sekolah terkait. (OL-7)

Baca Juga

MI/RAMDANI

Berkembang, Film Indonesia Usai Covid-19

👤Syarief Oebaidilah 🕔Selasa 31 Maret 2020, 00:20 WIB
Sebagai salah satu industri kreatif, perfilman  nasional sudah saatnya mendapat perhatian serius dari pemerintah dan insan...
ANTARA FOTO/Galih Pradipta

Jangan Sembarang Gunakan Disinfektan

👤Ata/Aiw/Fer/H-2 🕔Selasa 31 Maret 2020, 00:00 WIB
Untuk itu, penggunaan yang salah atau berlebihan dalam mencegah penularan virus korona baru (covid-19) bisa membahayakan...
Antara/Muhammad Adimaja

WHO : Semprot Disinfektan Langsung ke Tubuh Berbahaya

👤Thomas Harming Suwarta 🕔Senin 30 Maret 2020, 23:56 WIB
"Indonesia, jangan menyemprot disinfektan langsung ke badan seseorang, karena hal ini bisa membahayakan. Gunakan disinfektan hanya pd...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya