Senin 17 Februari 2020, 10:35 WIB

Menyemai Benih Kemandirian Pendidikan

Ketua Dewan Pengurus Yayasan Cahaya Guru Henny Supolo Sitepu | Opini
Menyemai Benih Kemandirian Pendidikan

MI/SUMARYANTO
Ketua Dewan Pengurus Yayasan Cahaya Guru Henny Supolo Sitepu

“KITA punya satu kata yang hilang dalam dunia pendi­dik­an, yaitu kemandirian. Yang saya maksudkan dengan kemandirian adalah kebebas­an berpikir, bersikap, dan ber­pendapat.” Kalimat lugas itu dinyatakan Prof HAR Tilaar saat memberikan materi Filosofi Pendidikan pada para guru peserta Sekolah Guru Ke­binekaan Yayasan Cahaya Guru pada 2016.

Kalimat itu merupakan satu dari sekian banyak ‘harta’ yang ditinggalkannya. Penghargaan terhadap usaha Prof HAR Tilaar (1932-2019) di Indonesia tidak sebesar apa yang dida­pat­kannya dari luar negeri.

Namanya kurang banyak disebut para Menteri Pendidikan RI, bahkan sampai menteri yang sekarang sekalipun. Se­men­tara itu, sejumlah 31 judul buku pendidikan ditambah be­ratus artikel peninggalannya merupakan harta berharga un­tuk dunia pendidikan Indo­nesia.

Guru pembawa nilai Pancasila

Prof Tilaar mengajak kita se­­mua bangga menjadi guru. “Saya seorang guru!” begitu katanya selalu. Sebagai seorang guru yang memiliki kepercaya­an tinggi tentang kekayaan pe­mahaman dan praksis pendidikan yang bersumber dari kebudayaan Indonesia, selalu mengingatkan pentingnya ke­­hidupan berlandaskan nilai Pancasila. “Prinsip hidup bang­­sa Indonesia bukan di dalam persaingan, melainkan dalam nilai-nilai gotong royong.”

Gotong royong, yang juga di­­­­sebut Soekarno sebagai pe­­ras­­an dari lima sila dalam Pan­­­­casila, diyakini Tilaar seba­gai nilai penting yang perlu dinyatakan dalam laku pendidikan. Sejalan dengan hal ini, Prof Tilaar juga mengingatkan semua anak Indonesia perlu mendapatkan kesempatan mengikuti pembelajaran yang menumbuhkembangkan ke­man­­dirian mereka.

Pendapat Prof Tilaar bisa ja­di tidak sejalan dengan mere­­ka yang hanya berfokus pada ‘persaingan global’, apalagi bila proses pembelajaran direduksi menjadi hanya suatu penyiap­an keterampilan bekerja.

Mengangkat pandangan Ki Hadjar Dewantara sebagai da­­sar acuannya, Prof Tilaar ber­pendapat bahwa seorang gu­­ru tidak hanya mengajar, te­tapi juga mendidik. Pendekat­an pa­­mong dipandangnya me­ru­­­pakan pendekatan tepat. Se­­­bagai pamong, guru berada di depan, memberikan contoh dalam keseharian.

Setelah mencapai tahapannya, guru bergeser berada di samping, memberi kesempatan peserta didik memecahkan ma­­­salahnya. Setelah itu, guru perlu mendorong siswa untuk mengembangkan berbagai ta­lenta yang dimilikinya melalui berbagai kegiatan, termasuk pengalaman memimpin.

Perjalanan perbeda­an posisi peserta didik merupakan pem­belajar­an berharga untuk per­si­ap­­an ma­­­­­sa depannya. Se­tiap pe­­­­serta di­dik de­­­­­­ngan waktu­ ma­­­­­sing-ma­­sing perlu me­­mi­liki pro­ses itu, dengan porsi dan wak­tu ma­sing-ma­­sing.

Adil tidak berarti sama, sangat perlu di­­­­pahami setiap gu­ru. Ti­­laar juga me­nekankan guru merupakan pe­mimpin se­jati yang memandang siapa pun yang dipimpinnya sebagai mitra dalam mengambil ke­­putusan bersama. Peserta didik bersama-sama dengan gu­ru membangun ilmu pengetahuan.

Guru dan isu kebinekaan

“Guru adalah pemimpin per­­­tama dari peserta didik yang melanjutkan dan me­ngem­­bang­kan tugas orangtua dalam lingkung­an kebudayaannya dan menaburkan ser­ta me­­ngem­­bangkan bibit na­sio­­nalis­me.” Se­nantiasa mengingatkan pe­­ran guru dalam sejarah per­­­­juangan bangsa. Dalam meng­­isi kemerdekaan dan men­­ja­wab tantangan secara konteks­­tual, be­liau mengingatkan isu kebi­nekaan me­ru­pa­kan tantang­an bang­sa. Dari sedikit tokoh pendi­dik­an nasional yang konsis­ten meng­ang­kat isu ini, beliau ialah sa­lah satunya.

Peran Lembaga Pendidik­an Tenaga Ke­pendidikan (LPTK) sebagai lembaga yang me­nyiap­kan para guru dipandang­nya ‘harus mengarahkan dan men­­­didik warga negara yang bertanggung jawab, memiliki nasiona­lis­me tinggi, dan bangga terhadap identitas bangsa sendiri. Intelektualisme yang hanya mementingkan akal ma­nusia tanpa memiliki nilai susila sebagai arah memiliki kemungkinan menjadi bahaya untuk kelangsungan hidup manusia.’

Berulang kali pula Tilaar menyebutkan pentingnya membangun bangsa Indonesia yang berkepribadian Indonesia. Tugas LPTK ini mutlak mengingat guru merupakan ‘pemimpin pertama dari peserta didik, yang mengembangkan tugas orangtua, dalam lingkungan kebudayaannya dan menabur bibit nasionalisme.’

Kepedulian pada pentingnya mengembangkan rasa kebangsaan anak dipandangnya juga berhubungan dengan pema­kaian bahasa Indonesia. Karena itu, dalam satu tulisannya, Tilaar mengungkapkan kepri­ha­tinannya pada paud dan se­­kolah dasar Indonesia yang menggunakan bahasa asing se­­bagai bahasa pengan­tar. Mes­­kipun beliau juga me­­nyebut­­kan bahwa membangun ilmu pendidikan bernuansa lokal dengan berorientasi interna­sio­nal menjadi suatu keniscayaan.

Watak Pancasilais yang di­tum­­buhkembangkan pada pe­­­serta didik, menurut Tilaar, akan menjamin ketenteram­an dan perdamaian bermasya­ra­kat.  Sementara itu, peran stra­te­gis pendidikan ialah menjaga ke­rekatan yang merupakan mo­­­­dal sosial dan modal kultu­ral dalam mengikat bangsa yang bineka menjadi suatu ‘ke­­­satu­an dinamis.’

Fungsi sekolah ialah menjadi pusat budaya dalam membangun peserta didik setiap anak Indonesia menjadi pancasilais. Secara spesifik Tilaar mengingatkan intoleransi merupakan bahaya internal dan bisa merontokkan kesatuan bangsa Indonesia, terutama dalam aga­ma dan kepercayaan.

Adanya tendensi sekolah negeri bergeser menjadi lembaga pendidikan agama tertentu sa­ngat penting untuk diatasi ber­sama. Ia mengusulkan agar para orangtua mendapatkan informasi nilai luhur keindo­ne­­­siaan yang diangkat sekolah melalui Komite Sekolah.

Membuka ruang perjumpa­an dengan mengangkat kera­gam­an latar peserta didik dan pe­mangku kepentingan lain sa­ngat mungkin dilakukan me­­lalui penugasan di kelas.

Men­data dan menggunakan ke­ragaman lingkungan untuk memperkaya materi ajar bisa menjadi jembatan untuk meretas prasangka dan menjalin kem­bali keutuhan bangsa.

Profesi guru, menurut Tilaar, ialah “profesi yang menjadi, terus-menerus diperkaya sesuai pengalaman.” Kebangga­­an dan harapannya pada guru diperjelasnya dengan kutipan dari ungkapan Jepang yang artinya ‘budi guru lebih tinggi dari gunung tertinggi, lebih dalam dari laut terdalam.’

Terima kasih guru untuk mengajak ka­mi semua bangga menjadi guru pula. (Dalam rangka 100 hari wafatnya Prof Henry Alexis Rudolf Tilaar)

Baca Juga

Dok. Pribadi

Kembali ke Alam di Tengah Pandemi Covid-19

👤Diah Suradiredja Sekretariat Pojok Iklim 🕔Sabtu 06 Juni 2020, 23:49 WIB
Di Indonesia, peringatannya di lakukan melalui Indonesia Climate Change and Environment (ICCE) melalui penyelenggaraan Webinar Forum dengan...
DOK PRIBADI

Pelembagaan Gotong Royong

👤Eva K Sundari Pendiri Kaukus Pancasila, Ketua DPP Alumni GMNI 🕔Sabtu 06 Juni 2020, 05:35 WIB
VIRUS korona akan tetap bersama kita di masa kenormalan baru. Risiko kematiantetap harus kita hadapi sambil melanjutkan hidup yang tidak...
unair.ac.id

Kenormalan Baru Menakar Literasi Digital Siswa

👤Rahma Sugihartati Dosen Isu-Isu Masyarakat Digital Prodi S3 Ilmu Sosial FISIP Universitas Airlangga 🕔Sabtu 06 Juni 2020, 05:30 WIB
KABAR bahwa sekolah bakal dibuka kembali pada Juli sudah dipastikan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya