Minggu 16 Februari 2020, 17:15 WIB

Tanaman Cabai di Temanggung Terserang Patek

Tosiani | Nusantara
Tanaman Cabai di Temanggung Terserang Patek

MI/Tosiani
Petani Temanggung menunjukkan cabainya terkena patek.

 

SEJUMLAH petani di Temanggung, Jawa Tengah mengatakan tanaman cabainya terserang penyakit patek selama musim penghujan. Selain menyebabkan hasil panen kering dan rusak, kondisi ini juga menjadi salah satu faktor pemicu tingginya harga cabai.

Slamet,45, petani di Sroyo, Kelurahan Madureso, Temanggung mengaku menanam 1.000 batang tanaman cabai rawit merah atau cabai sret. Namun lebih dari 50 persennya terserang penyakit patek sejak musim hujan sekitar Desember lalu.

"Semula hanya muncul bintik-bintik coklat pada buah cabai, lama-lama makin kering, lalu membusuk," kata Slamet, Minggu (16/2).

Cabai yang sudah terserang patek, menurur Slamet, sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi. Sebab jika tetap digunakan untuk memasak, rasanya pasti tidak enak. Karena itu tidak ada cara lain selain membuang cabai yang sudah terkena hama tersebut.

Slamet mengaku telah mencoba berbagai jenis obat untuk mengatasi serangan patek. Antara lain obat pertanian abasel, ditan, dan trakol. Namun upayanya sia-sia. Patek makin menyebar pada tanaman cabai lainnya yang semula masih sehat.

"Kalau sudah teekena patek pasti tidak laku dijual," kata Slamet.

Penyakit patek juga membuat produksi cabai turun drastis. Biasanya, setelah usia tanaman 3,5 bulan, petani sudah bisa memanennya. Panen dilakukan dalam 30 kali petikan tiap tiga hari sekali. Jika hasilnya bagus, tiap panen bisa mendapat 60 kilogram cabai sekali petik.

Hasil panen yang masih bisa diselamatkan dari patek, kata Slamet terjual dengan harga Rp60 ribu per kilogram. Ia menjualnya pada seorang pengepul. Namun di pasar, harga cabai sudah mencapai Rp85 ribu per kg. Dalam kondisi normal cabai dipasarkan dengan kisaran harga Rp 20-24 ribu per kg.

Ratno,50, petani lainnya mengalami hal serupa. Sebagian besar tanaman cabainya juga terserang patek. Ia menanam 1.500 batang tanaman cabai sret atau rawit merah.

"Patek memang tidak menyebabkan petani rugi, karena cabai yang masih sehat masih laku terjual dan harganya tinggi. Namun hasil yang didapat hanya pas saja," kata Ratno. (OL-13)

 

Baca Juga

Antara/Mohammad Ayudha

Penutupan Pasar Pasar Harjodaksino Diperpanjang

👤Mediaindonesia.com 🕔Selasa 27 Oktober 2020, 05:00 WIB
Pemkot Surakarta berencana mengadakan tes usap massal yang diikuti oleh para...
Sumber: LIPI/Kementerian Pertanian

Jaga Ketahanan Pangan di Masa Pandemi

👤 (Fer/J-1) 🕔Selasa 27 Oktober 2020, 04:10 WIB
KETIDAKJELASAN waktu kapan pandemi akan berakhir berpotensi mengganggu ketersediaan, stabilitas, dan akses...
Dwi Apriani

Masyarakat Diimbau Liburan di Rumah Saja

👤Dwi Apriani 🕔Selasa 27 Oktober 2020, 04:05 WIB
MESKI pemerintah menetapkan libur cuti bersama pada 28-30 Oktober, masyarakat diimbau sebaiknya menikmati waktu libur di rumah...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya