Minggu 16 Februari 2020, 02:20 WIB

Jalan Mahal Menuju Oscar

Fathurrozak | Weekend
Jalan Mahal Menuju Oscar

Ist
Salah satu Film yang meraih Oscar untuk kategori paling bergengsi, film terbaik.

DALAM perhelatan ­Academy Awards 2020 pada Senin (10/2), film asal Korea Selatan, Parasite, mengukir sejarah. Film yang dengan halus mengonfrontasikan kelas-kelas sosial tersebut menjadi film non­bahasa Inggris/film Asia pertama yang meraih Oscar untuk kategori paling bergengsi, film terbaik.

Mereka yang telah menyaksikan, tak akan menyangkal orisinalitas dan soliditas Parasite. Namun, begitu pula dengan film 1917, atau Once Upon a Time in Hollywood, yang berlaga di kategori serupa. Artinya, kualitas yang apik memang merupakan faktor yang tak dapat diganggu gugat, tapi bukan faktor satu-satunya untuk menjadi jawara.

Merunut laporan Entertainment News, pada gelaran Oscar tahun lalu saja, paling tidak suatu film menghabiskan hingga US$30 juta (sekitar Rp411 miliar) untuk biaya promosi dan kampanye menuju Oscar. Itu antara lain dilakukan film produksi layanan streaming Netflix, Roma, yang mendapat nominasi film terbaik Oscar 2019. Biaya itu digunakan selain untuk aneka promosi, juga ‘melobi’ para anggota Academy yang memiliki hak voting.

Adapun Parasite, dikutip dari ­Korea Times, memakan biaya ­produksi US$11,42 juta atau kurang lebih Rp156 miliar. Namun, untuk promosi dan kampanye, diyakini film dengan sokongan CJ ENM Group ­tersebut menghabiskan lebih ­banyak dari ongkos pembuatannya.

Meski barangkali menghabiskan bujet promosi kurang dari Roma, Parasite tetap merencakan agenda promosi matang. Untuk ikut dalam kampanye Oscar, beberapa pendekatan yang dilakukan ialah menghubungi publisis yang menangani aktor seperti Jake Gyllenhaal untuk mempromosikan Parasite, termasuk dengan memperbincangkannya dalam acara yang dipandu Jimmy Fallon, The Tonight Show. Film besutan sineas Bong Joon-ho itu juga menghelat rentetan pra-acara untuk para anggota Academy, di samping bekerja sama dengan distributor Neon, yang sudah beberapa kali memasarkan film Bong sebelumnya di Amerika Serikat.

Kiprah Indonesia

Kreasi dari negara jiran telah melaju di puncak Hollywood. Lantas, bagaimana kiprah perfilman kita di ajang Academy Awards?
Pada Academy Awards ke-92 lalu, Indonesia mengirim Kucumbu Tubuh Indahku untuk berlaga di kategori film berbahasa asing terbaik. Namun, seperti 20 film nasional sebelumnya, karya sineas Garin Nugroho itu belum bernasib baik, bahkan untuk masuk ke daftar pendek nominasi di kategori itu.

Seperti yang disebutkan, Oscar, dalam berbagai kategorinya, bukan saja berbicara kekuatan konten film. Berkompetisi di Academy Awards juga harus memiliki kekuatan pendanaan agar bisa ‘eksis’ dan terakses oleh para juri. Apalagi, ada puluhan negara lain yang juga mengirim film lokal masing-masing.

“Kan dari daftar panjang, misal ada 90-an film, itu hanya akan diputar sekali, ditonton 400 juri yang merupakan anggota AMPAS. Dengan film sebanyak itu, dan hanya sekali pemutaran, tentu mereka menonton film-film yang high profile di level internasional selama setahunan terakhir itu,” terang Fauzan Zidni saat ditemui Media Indonesia di Cinesurya, Jakarta, akhir Januari silam. Fauzan ialah salah satu produsen film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak yang menjadi ­perwakilan Indonesia dalam ­Academy Awards ke-91 pada 2019.

Saat itu, untuk mengikuti rangkaian kampanye Oscar, Marlina mendapat pendanaan dari ­produser eksekutif, HOOQ, juga dari Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf, kini melebur dalam Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif), serta Pusat Pengembangan Film Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (kini menjadi Direktorat Perfilman, Musik, dan Media Baru).

Fauzan tidak memerinci total biaya riilnya. Namun, saat ditanya apakah jumlahnya mencapai puluhan miliar rupiah, ia menampik. “Enggak sampai segitu,” ujarnya. Ia juga enggan membeberkan besaran yang disalurkan Bekraf dan Pusbang Film. Namun, secara persentase, jelasnya, 70% dari produser eksekutif, dan sisanya dari dua lembaga pemerintahan terkait.

“Dari Pusbang Film dan Bekraf, kita gunakan untuk pasang iklan, dan pemutaran spesial bareng LA Times. Dari pendanaan termasuk dari produser eksekutif, untuk publisis. Total kami adakan lima kali pemutaran tambahan,” tuturnya.

Masuk bioskop

Dalam kesempatan terpisah, Direktur Perfilman, Musik, dan Media Baru Kemendikbud, Ahmad Mahendra, menjelaskan pihaknya baru terlibat dalam bantuan pendanaan pada 2018. Sebelumnya, pihaknya sebatas memfasilitasi Komite Nasional untuk Oscar dalam proses seleksi hingga pengumuman nominasi film Indonesia yang mewakili Indonesia.

“Sejak 2018, kami turut memfasilitasi film Indonesia yang jadi national submission di ajang Oscar, antara lain dari segi publikasi hingga memberangkatkan sineas ke ajang tersebut,” papar Mahendra.

Menurutnya, bantuan publikasi dan promosi memang ditujukan agar film Indonesia dapat ditonton lebih luas oleh para anggota juri yang berjumlah ratusan hingga ribuan.

Selain menambah slot pemutaran film untuk para juri, skema lain yang bisa diterapkan ialah dengan memasarkan film di jaringan bioskop Amerika. Hal tersebut dilakukan distributor film, Neon, dengan memutar Parasite di 602 bioskop Amerika, lebih dari lima pekan.

Mouly Surya, sutradara film Marlina, dalam kolomnya di Media Indonesia menyebutkan, untuk mendapatkan theatrical distribution di Amerika bagian utara (AS dan ­Kanada) saja sulit.

Adapun Marlina, pada masanya, sempat tayang di bioskop New York selama tiga pekan, di Los Angeles sekitar sepekan, dan tayang di beberapa festival di Amerika.

“Makanya, kalau misalnya filmnya terdistribusi di Amerika, ada peluang filmnya sudah ditonton, itu juga peluang tambahan masuk short list,” papar Fauzan. Ulasan film dari kritikus media yang kredibel, juga bisa jadi kesempatan agar film makin dibicarakan.

Besarnya bujet untuk berangkat dan promosi ke ajang Oscar membuat pemerintah ia harap turun tangan lebih optimal. Meski, tak dimungkiri tanggung jawab terbesar pemasaran ada di pundak produser.

“Pemerintah perlu bantu promosikan film kita di ajang paling kompetitif dan bergengsi. Selain memberi kesempatan film kita diakses penonton di sana, ini juga jadi parameter film kita, dengan bersaing langsung dari negara lain.” (M-2)

Baca Juga

Unsplash/ Meritt Thomas

Pasca Pandemi, Model Hunian ini Yang Dibutuhkan

👤Fetry Wuryasti 🕔Minggu 24 Mei 2020, 15:50 WIB
Sebagai antisipasi ancaman wabah maka hunian membutuhkan sistem ventilasi yang baik dan juga ruang transisi sebelum masuk ke rumah...
Kick Andy

Upayakan Suplemen Untuk Tenaga Medis

👤Galih Agus Saputra 🕔Minggu 24 Mei 2020, 12:25 WIB
Grup nasyid Snada menggelar penggalangan dana untuk bantuan suplemen bagi tenaga...
Kick Andy/MI/ Sumaryanto Bronto

Lagu untuk Menguatkan Dunia

👤Galih Agus Saputra 🕔Minggu 24 Mei 2020, 10:25 WIB
Pandemi covid-19 menggerakkan Bimbo menciptakan lagu menyemangati para tenaga medis sekaligus refleksi untuk...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya