Jumat 14 Februari 2020, 10:15 WIB

14.079 Hektare Sawah di Timor Tengah Utara Gagal Tanam

Palce Amalo | Nusantara
14.079 Hektare Sawah di Timor Tengah Utara Gagal Tanam

ANTARA FOTO/Kornelis Kaha
Ilustrasi--Foto aerial sawah yang berwarna coklat akibat kekeringan yang melanda Kabupaten Belu, NTT.

 

SEBANYAK 14.079 areal persawahan di Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur (NTT), gagal tanam akibat curah hujan yang minim. Puluhan ribu areal persawahan itu tersebar merata di 24 kecamatan.

Bupati Timor Tengah Utara Raymundus Fernandes mengatakan, dari 14.269 hektare areal persawahan yang ada di Timor Tengah Utara, baru  terealisasi 190 hektare. Sisanya 14.079 hektare sama sekali belum ditanam.

"Areal persawahan yang sudah ditanam itu terdapat di Kecamatan  Mutis dan Biboki Anleu," katanya, Jumat (14/2).

Padahal luas lahan sawah di Biboki Anleu sebanyak  2.779 ha, terbanyak di antara kecamatan lainnya. Sedangkan di Kecamatan Mutis, luas lahan sawah sebanyak 642 ha.

Baca juga: Tiga Hari Kedepan, Bali Diguyur Hujan

Menurutnya, areal persawahan di kabupaten yang berbatasan dengan Timor Leste itu dibagi dua yakni areal yang berada di wilayah kekeringan sebanyak 9.289 ha di 11 kecamatan dan lahan basah seluas 4.980 ha tersebar di 13 kecamatan.

"Para penyuluh sedang berupaya mengarahkan masyarakat agar menanam kacang hijau umur pendek," tandasnya.

Menurut Raymundus, dalam waktu dekat, pemerintah akan membagikan bibit tanaman umur pendek kepada petani.

Raymundus juga minta pemerintah provinsi turut membantu warganya yang  terancam menderita krisis pangan karena tidak dapat mengolah lahan untuk menanam padi.

"Kita akan  mengalami paceklik sekitar September jika petani gagal tanam," ujarnya.

Saat ini, para kepala desa, camat, dan dinas pertanian mengumpulkan data petani korban kekeringan dan lahan mereka sebelum melakukan intervensi seperti pembagian benih gratis. (OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More