Jumat 14 Februari 2020, 10:00 WIB

Komunitas Uighur Khawatir COVID-19 Menyebar di Kamp Pengasingan

Haufan Hasyim Salengke | Internasional
Komunitas Uighur Khawatir COVID-19 Menyebar di Kamp Pengasingan

AFP/GREG BAKER
Gedung yang digunakan untuk menahan warga etnik Uighur di Xinjiang, Tiongkok

 

ANGGOTA etnik minoritas Uighur Tiongkok yang tinggal di pengasingan mengungkapkan kekhawatiran mereka atas risiko penyebaran virus korona (COVID-19) di kamp-kamp di dalam negeri, tempat diyakini hingga 1 juta orang ditahan.

Organisasi-organisasi nonpemerintah internasional sebelumnya telah menyebut ratusan ribu warga suku Uighur telah ditahan oleh Beijing dan ditempatkan di pusat penahanan di wilayah itu.

Perwakilan dari diaspora Uighur memperingatkan ada alasan nyata untuk khawatir penyebaran virus korona yang cepat di kamp-kamp yang kontroversial.

Beijing disebut telah menahan sekitar 1 juta orang Uighur dan etnik minoritas muslim lainnya di kamp-kamp pengasingan raksasa, kata LSM dan para ahli, dan sedikit yang diketahui tentang kondisi di dalamnya.

Baca juga: Jepang Konfirmasi Kematian Pertama akibat Virus Korona

Beijing mengklaim kamp-kamp itu adalah ‘pusat pelatihan kejuruan’ yang diperlukan untuk memerangi ‘terorisme’.

"Orang-orang mulai panik. Keluarga kami ada di sana, berurusan dengan kamp dan virus, dan kami tidak tahu apakah mereka punya cukup makanan atau masker," kata Dilnur Reyhan, seorang sosiolog Prancis asal Uighur.

Sebuah petisi yang diposting di Change.org ditandatangani lebih dari 3.000 orang mendesak penutupan kamp-kamp Xinjiang untuk mengurangi ancaman.

Ada juga kampanye di media sosial seperti #VirusThreatInThecamps dan #WHO2Urumqi untuk mendesak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk mengirim delegasi ke kota Xinjiang.

"Kita tidak harus menunggu sampai berita ratusan kematian terkait virus korona di kamp-kamp itu sebelum kita bereaksi," kata petisi.

"Ketika Tiongkok terus berjuang membendung penyebaran virus di Wuhan, kita dapat dengan mudah berasumsi virus akan dengan cepat menyebar ke seluruh kamp dan memengaruhi jutaan orang jika kita tidak membunyikan alarm sekarang," imbuh petisi tersebut

Otoritas regional di Xinjiang tidak menanggapi pertanyaan dari AFP tentang tindakan yang diambil untuk mencegah penyebaran virus di kamp-kamp tesebut.

Xinjiang jauh dari pusat penyebaran dan hanya 55 kasus yang telah dilaporkan di wilayah tersebut sejauh ini. Pasien pertama yang sepenuhnya pulih di provinsi itu telah meninggalkan rumah sakit, menurut media resmi. (The Guardian/OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More