Jumat 14 Februari 2020, 06:15 WIB

Sensus Penduduk 2020

Razali Ritonga Pemerhati Fenomena Sosial-Kependudukan | Opini
Sensus Penduduk 2020

Dok Pribadi

BADAN Pusat Statistik (BPS) mulai 15 Februari-31 Maret 2020 menyelenggarakan sensus penduduk online (SPO) yang dapat diakses melalui website sensus.bps.go.id. Pelaksanaan sensus penduduk (SP) 2020 dengan SPO merupakan hal baru penggunakan aplikasi teknologi informasi. Adapun dalam enam sensus penduduk sebelumnya (1961, 1970, 1980, 1990, 2000, dan 2010), dilakukan dengan wawancara tatap muka antara pewawancara dan responden.

Pencacahan secara online antara lain didasarkan atas pertimbangan semakin banyaknya penduduk yang terbiasa menggunakan teknologi informasi. Dengan semakin banyak penduduk berpartisipasi secara online, akan kian mempercepat pelaksanaan sensus serta menghemat tenaga dan biaya.

Meski demikian, bagi mereka yang tidak dapat melakukan SPO karena belum memiliki peralatan teknologi infomasi (TI), belum terbiasa menggunakan TI, atau belum sempat melakukan SPO, petugas sensus akan melakukan kunjungan ke responden pada Juli 2020 untuk mengumpulkan data melalui wawancara atau sensus penduduk wawancara (SPW).

Selanjutnya, pada Juli 2021, petugas sensus akan kembali mendatangi sebagian responden yang telah terdata sebagai sampel populasi untuk mengumpulkan data yang lebih rinci terkait dengan karakteristik sosial-ekonomi penduduk dan kondisi perumahan.

Metode kombinasi

Meski pengumpulan data dilakukan secara online, responden diharapkan dapat memahami secara mandiri tentang pengisian jawaban dari sejumlah pertanyaan yang diajukan dalam SP 2020. Dalam konteks itu, salah satu pertanyaan yang amat krusial untuk dipahami ialah tentang keterangan anggota rumah tangga. Hal ini mengingat untuk pertama kali pada SP 2020 digunakan metode kombinasi (combined method), dengan memadukan data registrasi penduduk dari Ditjen Dukcapil dan sensus penduduk.

Adapun data registrasi penduduk yang mengacu pada konsep keluarga berdasarkan dokumen keterangan diri, seperti kartu tanda penduduk (KTP) dan kartu keluarga (KK), akan digunakan sebagai dasar pelaksanaan SP 2020 dengan menggunakan konsep rumah tangga. Dalam konteks itu, konsep keluarga dari Dukcapil dan konsep rumah tangga dari SP 2020 ialah berbeda. Keluarga merupakan sekelompok orang yang umumnya memiliki hubungan darah.

Sementara itu, rumah tangga merupakan sekelompok orang yang biasanya tinggal bersama satu atap dan pengolahan makannya dari satu dapur. Adapun konsep rumah tangga yang digunakan dalam SP 2020 mengadopsi dari Badan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB). Hal ini didasarkan atas pertimbangan bahwa rumah tangga merupakan suatu unit sosial yang setiap anggotanya berinteraksi bersama dalam keseharian menjalani kehidupan.

Anggota keluarga berdasarkan KK bisa tidak tinggal satu atap, seperti anak yang sedang sekolah (SD hingga SMA) dan berada di tempat lain, akan tercatat dalam daftar anggota rumah tangga SP 2020. Namun, anggota keluarga yang telah dewasa yang berada di daerah lain lebih dari satu tahun, meski barangkali masih tercatat di KK karena tidak mengurus dokumen kepindahannya, tidak akan tercatat dalam daftar anggota rumah tangga SP 2020.

Sebaliknya, dalam suatu keluarga ada orang lain yang tinggal bersama lebih dari satu tahun atau kurang dari satu tahun tapi bermaksud menetap, seperti pembantu rumah tangga dan anak kos yang pengolahan makannya satu dapur, meski tidak tercatat dalam KK, akan tercatat dalam daftar anggota rumah tangga SP 2020.

Namun, jika terjadi kekeliruan pengisian daftar anggota rumah tangga dalam sensus online, petugas pada Juli 2020 akan melakukan kunjungan untuk memperbaikinya. Maka, dengan cara ini diharapkan dapat dihasilkan data tunggal penduduk secara de facto atau penduduk yang menurut konsep kependudukan menetap di suatu daerah.

Secara faktual, data tunggal penduduk de facto menurut daerah akan meningkatkan ketepatan dalam penentuan target perencanaan pembangunan. Boleh jadi, melesetnya sasaran pembangunan yang kerap terjadi selama ini, khususnya di daerah, antara lain diakibatkan ketidaktepatan dalam penentuan target pembangunan.

Proyeksi penduduk

Sensus penduduk yang diselenggarakan sekali dalam 10 tahun dimasudkan bukan untuk menyiapkan data hanya pada saat tahun sensus, seperti SP 2020 untuk kebutuhan data pada 2020. Sejatinya, ketersediaan data saat sensus merupakan data dasar sebagai input proyeksi penduduk untuk menyiapkan kebutuhan data mendatang, khususnya untuk perencanaan pembangunan jangka pendek 5-10 tahun dan jangka panjang hingga 25 tahun ke depan.

Pada saat sensus penduduk 2010, misalnya, pemerintah melalui BPS dan institusi terkait melakukan proyeksi penduduk 2010-2035. Meski dalam proyeksi 2010-2035 telah mencakup kebutuhan data 2020 dan setelahnya, penyesuaian data perlu dilakukan.

Hal ini mengingat asumsi tentang pola dan tren kelahiran, kematian, dan perpindahan yang mendasari proyeksi penduduk sebelumnya, perlu disesuaikan dengan kondisi aktual dari hasil sensus saat ini. Kemudian, dilakukan proyeksi baru untuk ketersediaan data 25 tahun ke depan, yang dalam konteks ini dari hasil SP 2020 akan dilakukan proyeksi penduduk 2020-2045.

Secara faktual, hal itu sekaligus menunjukkan bahwa hasil SP 2020 amat menentukan kebutuhan perencanaan pembangunan menuju Indonesia emas 2045 atau 100 tahun setelah Indonesia merdeka. Hal ini sejalan dengan berbagai upaya yang kini tengah dilakukan pemerintah untuk menuju Indonesia maju pada 2045, antara lain dengan memfokuskan pembangunan sumber daya manusia (SDM).

Di tengah kehadiran bonus demografi yang kini masih berlangsung, pembangunan SDM itu dinilai sangat tepat untuk memanfaatkan peningkatan penduduk usia produktif agar lebih berkualitas, yang diharapkan dapat menjadi motor penggerak pembangunan hingga 2045.

Namun, rencana pembangunan untuk menuju Indonesia emas itu bisa meleset karena penggunaan data yang tidak akurat, terutama akibat ketidakbenaran data yang diberikan responden. Maka dari itu, amat diharapkan kesadaran responden untuk memberikan jawaban yang sesuai dengan fakta sebenarnya atas seluruh pertanyaan yang diajukan dalam SP 2020. Sesungguhnya, jawaban yang diberikan amat menentukan perjalanan bangsa Indonesia ke depan.

Baca Juga

Dok.pribadi

Perubahan Iklim dan Perikanan Berkelanjutan

👤Sri Yanti, Direktur Kelautan dan Perikanan Bappenas 🕔Minggu 25 Oktober 2020, 16:05 WIB
Mari bersatu padu membangun negeri lewat pengelolaan perikanan...
Dok. Pribadi

Nasib BUMDes dalam UU Cipta Kerja

👤Muhammad Nalar Al Khair | Pengamat Ekonomi PKP Berdikari |OPINI 🕔Minggu 25 Oktober 2020, 15:15 WIB
Dengan adanya Undang Undang Cipta Kerja ini, permasalahan badan hukum yang sebelumnya  membuat BUMDes sulit berkembang telah...
Dok.pribadi

Belajar Bahagia dari Raffles

👤Riduan Situmorang, Guru SMAN 1 Doloksanggul, Aktif Berkesenian di Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) Medan dan Toba Writers Forum (TWF) 🕔Sabtu 24 Oktober 2020, 17:05 WIB
Siswa tertekan karena banyak tugas dari sekolah, sementara pada saat yang sama, interaksi guru dengan siswa, juga siswa dengan siswa...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya