Jumat 14 Februari 2020, 03:05 WIB

Angkie Yudistia Puji Kapolri karena 11 Polisi Disabilitas

Atalya Puspa | Hiburan
Angkie Yudistia Puji Kapolri karena 11 Polisi Disabilitas

ANTARA
Staf khusus Presiden, Angkie Yudistia

 

MARKAS Besar Kepolisian Republik Indonesia (Polri) memberikan kesempatan kepada 11 anggota Polri disabilitas untuk mengikuti Sekolah Inspektur Polisi (SIP). Penghargaan itu diberikan kepada anggota Polri yang mengalami cacat jasmani karena menjalankan tugas negara.

Penyandang disabilitas yang juga menjadi salah satu staf khusus Presiden, Angkie Yudistia, 32, mengapresiasi langkah Kapolri Jenderal Pol Idham Azis itu. Ia berharap hal tersebut dapat menjadi teladan yang baik bagi setiap kelembagaan lain untuk melakukan hal serupa.

"Harus jadi teladan bagi kelembagaan lain. Kepedulian negara terhadap warganya harus terus dilakukan dengan tidak membedakan kondisi fisik dalam mendapatkan kesempatan bekerja dan berkarya," ujar pendiri Thisable Enterprise itu, pekan lalu.

Dalam acara bincang-bincang bersama pewarta Istana Kepresidenan, di Jakarta, kemarin, Angkie menegaskan isu disabilitas merupakan isu lintas sektoral yang harus dikawal. Ia pun mendorong agar Komisi Nasional Disabilitas bisa terbentuk tahun ini guna membantu melindungi hak-hak para disabilitas, mulai pusat hingga daerah.

"Komnas Disabilitas dengan segera harus diwujudkan 2020 karena sudah tiga tahun ini belum terwujud," ujar Angkie yang juga merupakan juru bicara Presiden bidang sosial itu.

Menurut Angkie, amanat pembentukan Komisi Nasional Disabilitas telah tertuang dalam UU Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Pasal 131 UU tersebut disebutkan dalam rangka pelaksanaan penghormatan, pelindungan, dan pemenuhan hak penyandang disabilitas dibentuk Komisi Nasional Disabilitas sebagai lembaga nonstruktural yang bersifat independen.

Pasal 132 ayat 1 UU itu menyatakan Komisi Nasional Disabilitas mempunyai tugas melaksanakan pemantauan, evaluasi, dan advokasi pelaksanaan penghormatan, pelindungan, dan pemenuhan hak penyandang disabilitas, sedangkan Pasal 132 ayat 2 UU itu menyebutkan hasil pemantauan, evaluasi, dan advokasi sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dilaporkan kepada Presiden.

 

Rasakan sendiri

Keinginannya mendorong lahirnya Komnas Disabilitas bukan tanpa alasan. Perempuan kelahiran 5 Mei 1987 itu merasakan sendiri bagaimana sulitnya ia mendapatkan pekerjaan karena dirinya tunarungu.

Angkie yang kehilangan pendengaran sejak usia 10 tahun mengungkapkan memiliki kekurangan membuatnya sulit mendapatkan pekerjaan, padahal ia mempunyai gelar Master Komunikasi dari London School of Public Relations.

Dengan kerja keras dan semangat pantang menyerah, akhirnya Angkie berhasil mendapat pekerjaan di perusahaan swasta. Ia juga pernah bekerja di bidang minyak dan gas. "Aku melihat bahwa teman-teman disabilitas ini kok banyak ya yang jadi pengangguran? Mereka spirit untuk bekerjanya ada, tetapi apa yang kurang? Oh ternyata gapnya memang terlalu tinggi," tuturnya, beberapa waktu lalu.

Dengan fakta itu, ia pun membidani kelahiran Yayasan Thisable Enterprise yang didirikan bersama rekannya pada 2011 silam. Yayasan ini mempunya misi sosial, khususnya membantu orang yang memiliki keterbatasan fisik alias disabilitas (different ability people). Tidak hanya menyalurkan penyandang disabilitas ke dalam dunia kerja, tetapi juga yayasan ini memberikan pelatihan kepada penyandang disabilitas agar bisa diterima bekerja di berbagai perusahaan.

Mengutip omongan Menteri Sosial Juliari Batubara, terbukanya peluang kerja bagi para disabilitas sebenarnya sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. "Harus (menyediakan) 2% angka pekerja disabilitas di pemerintahan, swasta 1% (pekerja disabilitas)," ujarnya. (H-2)

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More