Kamis 13 Februari 2020, 20:31 WIB

Virus Korona buat Momen Valentine di Tiongkok Jadi Suram

Nur Aivanni | Internasional
Virus Korona buat Momen Valentine di Tiongkok Jadi Suram

AFP/Noel Cellis
Penjual bunga di Shanghai, Tiongkok menggunakan masker saat mempersiapkan bunga-bunga spesial untuk hari Valentine

 

HARI valentine yang biasa disambut Bill Hu, pemilik restoran di Shanghai, Tiongkok, dengan sibuk mempersiapkan meja untuk pasangan di Tiongkok, kini tak lagi dirasakannya.

Lampu di tempat makan Prancisnya yang mewah di mal kelas atas di pusat komersial Tiongkok, seul & SEUL, bahkan tidak menyala.

Yang terlihat di dalam hanya gelas-gelas anggur yang ditumpuk dan dapur yang sunyi. Manusia di dalamnya pun hanya dua karyawan Hu yang sedang melakukan disinfeksi.

"Jumlah pemesanan tempat tahun ini hampir nol," kata Hu ketika ditanya tentang persiapan untuk festival yang populer di banyak kota di Tiongkok, saat dia biasanya sibuk dengan rencana untuk menu khusus dan pemesanan reservasi.

"Wabah virus ini datang tiba-tiba," tambah Hu merujuk pada virus korona baru (COVID-19) yang mewabah di Tiongkok.

Baca juga ; Metode Kalkulasi Korona Diubah, Kematian di Tiongkok Melonjak

Restorannya, kata dia, memiliki sekitar 170 pelanggan pada hari Valentine terakhir. "Banyak pelanggan yang telah membuat reservasi, semua meminta untuk dibatalkan," ceritanya.

Hu mengaku khawatir dengan dampak wabah ini. Ia pun memperkirakan kerugiannya sudah sekitar 700.000 yuan (Rp1,3 miliar), sebagian besar dari pembayaran sewa, gaji dan bahan makanan.

"Bagi kita yang berpenghasilan nol, arus kas kita mungkin bisa bertahan selama satu hingga dua bulan lagi," tambahnya. "Dan itu batasnya."

Usaha Hu hanya salah satu dari banyak bisnis yang terguncang akibat dampak wabah COVID-19 yang membuat adanya pembatasan perjalanan di seluruh Tiongkok.

Pihak berwenang pun meminta warga untuk tetap tinggal di rumah dan meninggalkan kota-kota besar yang tampak seperti kota hantu.

Baca juga : Beijing Kirim Tambahan 2.600 Personel Medis ke Wuhan

"Hari Valentine agak menyedihkan sejauh ini, kami memiliki satu pemesanan saat ini," tambahnya. "Butuh beberapa saat agar kepercayaan itu kembali. Pertanyaan sebenarnya adalah apakah kita bisa bertahan cukup lama," katanya.

Beberapa restoran berusaha memperbaiki keadaan dengan menawarkan pengiriman makanan, tetapi yang lain berjuang dengan kekurangan staf.

Dan beberapa pelanggan potensial pun mengatakan mereka tidak berminat untuk merayakannya.

"Saya tidak akan mengambil risiko hidup saya dengan pergi keluar untuk makan," kata Dina Li, yang membatalkan ide makan malam bersama suaminya tahun ini untuk menghindari penularan virus, meskipun sudah 10 hari berada di rumah.

"Dan bahkan untuk dibawa pulang, saya hanya memesan KFC dan McDonald's, karena merek-merek besar harus menjamin keamanan makanan," tambahnya. (Channel News Asia/OL-7)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More