Kamis 13 Februari 2020, 15:00 WIB

Distorsi Ekonomi Akibat Korona Dua Kuartal

Fetry Wuryasti | Ekonomi
Distorsi Ekonomi Akibat Korona Dua Kuartal

ANTARA FOTO/Reno Esnir
Pengunjung beraktivitas di depan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di galeri PT Bursa Efek Indonesia , beberapa waktu lalu

 


Di tengah optimisme pasar yang lebih positif memasuki tahun 2020, tiba-tiba perekonomian global dihadapkan pada ketakutan epidemi virus korona.

"Sejauh ini kami memandang bahwa wabah virus korona bukanlah sesuatu yang bersifat permanen dalam jangka panjang, walaupun memang dalam jangka pendek peristiwa ini memberikan dampak guncangan yang cukup penting pada ekonomi global," ujar Caroline Rusli, Senior Portfolio Manager Equity PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, melalui rilis yang diterima, Kamis (13/2).

Memperhitungkan langkah komprehensif yang diberlakukan pemerintah Tiongkok untuk mencegah dan meminimalisir penyebaran virus korona,  diperkirakan distorsi data ekonomi akibat peristiwa ini akan berdampak paling lama selama satu sampai dua kuartal ke depan.

Atas dasar ini, secara keseluruhan tema stabilisasi ekonomi global di 2020 tidak berubah.
 
Di samping itu, pemerintah dan bank sentral Tiongkok terlihat sangat tanggap menjaga stabiliasi ekonomi lewat stimulus fiskal dan pemangkasan suku bunga guna menjaga ketersediaan likuiditas di pasar.

Diharapkan kebijakan tersebut dapat mengurangi dampak negatif wabah virus korona terhadap ekonomi Tiongkok.

"Kami memperkirakan akselerasi pertumbuhan ekonomi global akan meningkat menjelang pertengahan kedua di tahun ini didukung oleh perbaikan sentimen dan perdagangan global global, suku bunga rendah bank sentral global, gradual inventory restocking dan akselerasi adopsi teknologi 5G yang diharapkan dapat menjadi bantalan dari disrupsi ekonomi yang terjadi saat ini ," kata Caroline.

Ketakutan penyebaran virus korona lebih ‘menekan’ kinerja pasar saham Asia dibandingkan dengan pasar saham negara maju. Secara ekonomi, dibandingkan dengan negara maju, Asia dinilai lebih rentan terhadap dampak negatif dari penyebaran virus corona.

Akan tetapi yang perlu dipahami adalah tingkat kerentanan negara di Asia tidaklah sama,  akan sangat tergantung dari seberapa besar eksposur perekonomian terhadap Tiongkok baik dari sisi pariwisata, rantai pasokan industri, ketergantungan FDI dan aktivitas ekspor impor.

Itulah mengapa besaran koreksi di pasar saham dan nilai tukar setiap negara di Asia juga berbeda. Menariknya, koreksi yang terjadi sejak merebaknya wabah virus korona membuat valuasi pasar saham Asia menjadi lebih atraktif. (Try/E-1)

 

Baca Juga

Antara/Syifa Yulinnas

Gasifikasi Batu Bara Disebut Mampu Menghemat Devisa Negara

👤Despian Nurhidayat 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 18:44 WIB
Perseroan berkomitmen untuk mengembangkan hilirisasi batu bara antara lain dengan rencana pembangunan pabrik pemrosesan batu bara menjadi...
Dok. Astra Property

Astra Property Gelar Serial Edukasi Properti di HUT ke-4

👤Ghani Nurcahyadi 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 18:41 WIB
Serial diskusi yang berlangsung pada 27-28 Oktober dan 2-3 November itu akan mengedukasi masyarakat terkait pasar properti dan outlook...
Ist

Kemenparekraf BerharapĀ Garut Jadi Pelopor Pariwisata Berbasis CHSE

👤mediaindonesia.com 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 17:31 WIB
Kunci sukses pulihnya sektor pariwisata dan ekonomi kreatif adalah dengan penerapan standar protokol kesehatan secara disiplin dan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya