Kamis 13 Februari 2020, 09:15 WIB

Optimalisasi APBN Jadi Kunci

Uta/E-2 | Ekonomi
Optimalisasi APBN Jadi Kunci

Medcom.id/M Rizal
Ilustrasi

 

PERLAMBATAN ekonomi global karena wabah virus korona diprediksi berimbas pada melemahnya pertumbuhan ekonomi dalam negeri di kuartal I 2020. Pemerintah pun perlu menyiasati hal itu dengan lebih mengoptimalkan peran APBN untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

"Kalau kita kaitkan dengan APBN, saya usulkan APBN harus ditinjau. APBN itu tools pemerintah untuk mengoptimalkan pertumbuhan ekonomi kita," ujar Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah Redjalam dalam diskusi kelompok terarah (FGD) yang digagas Fraksi Partai NasDem bertema Merumuskan APBN yang tanggap ketidakpastian global di kompleks parlemen Senayan, Jakarta, kemarin.

Dalam paparannya, Piter menyebut bahwa pertumbuhan ekonomi dan perdagangan barang global telah mengalami tren penurunan sejak 2017 (3,8%) hingga 2019 (3,0%).

Virus korona yang menyerang Kota Wuhan sebagai salah satu basis industri otomotif, penelitian, dan pendidikan di Tiongkok dikhawatirkan akan memperburuk tren pertumbuhan ekonomi tersebut.

"Tiongkok ialah pengekspor barang setengah jadi terbesar yang dapat dijual kembali antarindustri atau digunakan untuk memproduksi barang lain," ujarnya.

Pada 2003, ekonomi Tiongkok menghasilkan 4% dari PDB global. Adapun di 2019, perekonomian Tiongkok menyumbang 17% PDB global. Tiongkok juga merupakan mitra dagang terbesar bagi sebagian besar negara tetangganya, salah satunya Indonesia.

Dalam diskusi yang sama, Sekretaris Fraksi Partai NasDem Charles Meikyansah menjelaskan tujuan Fraksi NasDem mengadakan FGD ekonomi kali ini ialah untuk mencari solusi dalam menjawab tantangan perekonomian global yang saat ini masih menekan Indonesia. Fraksi NasDem akan mengupayakan perubahan APBN 2020 jika dipandang perlu.

"Pertama yang menjadi catatan kita, adanya virus korona, kemudian juga perang dagang Amerika Serikat-Tiongkok. Ketegangan Amerika dengan Iran dan berbagai hal lainnya juga menyebabkan kontraksi ekonomi secara global," ujarnya.

Charles melanjutkan bahwa faktor kondisi di dalam negeri turut memengaruhi APBN, seperti permasalahan subsidi elpiji 3 kilogram dan defisit BPJS Kesehatan. (Uta/E-2)

Baca Juga

ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi

Upah Minimum 2021 tak Naik, Aksi Perlawanan Buruh Semakin Keras

👤M Iqbal Al Machmudi 🕔Selasa 27 Oktober 2020, 10:59 WIB
Presiden KSPI Said Iqbal mengatakan aksi perlawanan buruh akan semakin mengeras terhadap penolakan tidak adanya kenaikan upah minimum 2021...
ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal

AP II Prediksi 65 Ribu Penumpang Padati Bandara Soetta

👤Insi Nantika Jelita 🕔Selasa 27 Oktober 2020, 09:29 WIB
Puncak arus keberangkatan penumpang di 19 bandara PT Angkasa Pura II diperkirakan terjadi hari ini, Selasa (27/10), mengawali periode libur...
ANTARA/Muhammad Iqbal

Hari Ini Diperkirakan Puncak Arus Libur Panjang di Bandara Soetta

👤Hilda Julaika 🕔Selasa 27 Oktober 2020, 09:29 WIB
Diperkirakan kurang lebih sebanyak 65 ribu calon penumpang akan terbang melalui Bandara...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya