Kamis 13 Februari 2020, 05:30 WIB

Jadi Sumber Defisit, Impor Besi dan Baja Dikurangi

Andhika Prasetyo | Ekonomi
Jadi Sumber Defisit, Impor Besi dan Baja Dikurangi

ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/wsj.
RATAS KETERSEDIAAN BAHAN BAKU INDUSTRI BAJA

 

Presiden Joko Widodo menginstruksikan menteri-menteri ekonomi di Kabinet Indonesia Maju untuk menciptakan kebijakan-kebijakan yang mampu mengurangi nilai impor besi dan baja. Besarnya impor baja menjadi salah satu sumber defisit neraca perdagangan Indonesia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), total nilai impor besi dan baja Indonesia pada 2019 mencapai US$10,3 miliar, naik tipis dari 2018 yang menyentuh US$10,2 miliar. Dengan nilai sebesar itu, besi dan baja kini jadi komoditas impor terbesar kedua di Indonesia setelah mesin dan perlengkapan elektrik.

"Ini tentu saja menjadi salah satu sumber utama defisit neraca perdagangan, defisit transaksi berjalan kita," ujar Presiden Jokowi di Kantor Presiden, Jakarta, kemarin.

Presiden pun meminta tren negatif tersebut segera disudahi. Jika kebijakan impor terus dibuka besar-besaran, utilitas pabrik baja lokal tidak akan pernah berkembang dan industri tersebut tidak akan bisa maju.

Padahal, menurut Jokowi, industri dalam negeri sudah mampu memproduksi sebagian besi dan baja yang diimpor tersebut.

Oleh karena itu, ia mendorong para menteri ekonomi untuk menyediakan regulasi yang mampu mendorong produksi besi dan baja nasional, seperti penyediaan bahan baku yang lebih mudah dan murah. "Kita perlu perbaiki ekosistem penyediaan bahan baku industri baja dan besi, seperti ketersediaan dan kestabilan harga bahan baku," tutur Jokowi.

Bahan baku dari hasil tambang nasional, lanjut Presiden, bisa diprioritaskan untuk digunakan demi meningkatkan nilai tambah di dalam negeri. "Ini juga bukan hanya untuk mengurangi impor, tapi juga bisa membuka lapangan kerja," imbuhnya.

Relaksasi impor

Dalam menanggapi permintaan Presiden tersebut, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang memastikan akan merelaksasi impor bahan baku produksi besi dan baja.

Langkah itu dilakukan demi memperkuat daya saing produksi industri nasional sehingga Indonesia tidak terus-menerus bergantung pada baja impor.

Salah satu bahan baku yang akan direlaksasi ialah scrap logam atau besi bekas yang merupakan bahan baku produksi baja billet.Dari total kebutuhan 14 juta ton per tahun, industri besi bekas dalam negeri hanya mampu menyuplai 5 juta ton sehingga masih ada sekitar 9 juta ton yang harus didatangkan dari luar negeri.

Namun, dengan alasan untuk melindungi industri scrap logam di dalam negeri dan mengurangi impor limbah nonbahan berbahaya dan beracun, impor scrap logam dibatasi hanya 5 juta ton.

Di sisi hilir, pembatasan itu berdampak negatif pada produksi baja billet secara signifikan. "Karena impor scrap dibatasi, produksi baja billet kita berkurang. Akhirnya impor baja billet itu malah naik. Kita belum memiliki bahan baku yang cukup," tuturnya.

Dengan ditutupnya keran impor besi bekas, Agus menghitung ada potensi kehilangan keuntungan bagi industri dalam negeri hingga US$400 juta per tahun.

Angka itu dihitung dari biaya yang harus dikeluarkan perusahaan lokal untuk membeli baja billet dari luar negeri yang memiliki harga per ton US$100 lebih tinggi daripada baja billet produksi dalam negeri.

Selain merelaksasi impor scrap logam, pemerintah juga akan mengeluarkan produk slag atau ampas bijih dari kategori limbah. Slag selama ini dianggap sebagai limbah lantaran dihasilkan dari sisa-sisa peleburan logam. (E-3)

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More