Kamis 13 Februari 2020, 03:05 WIB

BKKBN Siapkan Capaian Hadapi Bonus Demografi

Ihfa Firdausya | Humaniora
BKKBN Siapkan Capaian Hadapi Bonus Demografi

MI/Fransisco Caroko Hutama Gani
Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo

 

PELUANG bonus demografi yang didapat Indonesia tidak boleh dibiarkan lewat begitu saja. Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo menyebut generasi unggul harus dipersiapkan untuk bisa memetik bonus demografi yang diperkirakan pada 2030 jumlah penduduk Indonesia usia produktif (berusia 15-64 tahun) lebih besar jika dibanding dengan penduduk usia tidak produktif (di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun).

Dalam hal ini, katanya, BKKBN memiliki beberapa tugas, khususnya dalam hal pencegahan. "Mencegah terlalu sering berarti respacing jarak kehamilan, mencegah terlalu muda berarti penundaan usia pernikahan, mencegah terlalu banyak berarti dua anak cukup, mencegah terlalu tua berarti kalau umur 35 tahun ke atas, ya jangan hamil lah, harus pakai kontrasepsi," ujar Hasto dalam Rakernas BKKBN, kemarin, di Kantor Pusat BKKBN, Jakarta.

Dengan cara seperti itu, generasi bayi yang dilahirkan ialah generasi unggul sehingga Indonesia bisa memetik bonus demografi. "Jadi, kualitas SDM ini dimulai sejak bayi. Seribu hari pertama kehidupan ini harus disiapkan," imbuhnya.

Hasto menjelaskan pekerjaan rumah bersama, yakni bagaimana untuk mengondisikan agar nantinya semua provinsi berpeluang memasuki bonus demografi. Ia juga mengingatkan bahwa syarat Indonesia bisa memetik bonus demografi ketika angka kematian ibu rendah, angka kematian bayi rendah, partisipasi pendidikan tinggi, pengangguran sedikit, pekerja sektor formal lebih banyak, angka harapan hidup tinggi, dan orang tua banyak yang produktif.

"Jika kondisi seperti itu terjadi, Indonesia baru bisa memetik bonus demografi. Namun, ketika banyak keguguran, banyak kawin muda, banyak kematian ibu, banyak kematian bayi, roadmap kita menuju mis-bonus demografi," jelasnya. Topik bonus demografi ini menjadi salah satu pembahasan dalam Rakernas BKKBN Tahun 2020. Hasto menegaskan rakernas ini menjadi ajang koordinasi dan penyampaian program-program BKKBN ke depan dengan jejaring internalnya serta lintas sektor terkait.

 

Kualitas SDM

Selain upaya pengendalian jumlah penduduk, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) juga merupakan hal yang mutlak dilakukan dalam menyambut bonus demografi. Wakil Presiden Ma'ruf Amin menyampaikan bahwa peningkatan kualitas SDM dapat dilakukan dengan mengendalikan jumlah penduduk dan menekan pernikahan dini.

Ia meyakini bahwa program KB merupakan salah satu kunci utama dalam rangka meningkatkan kualitas manusia Indonesia menuju SDM unggul. Berkaitan denga hal itu, Wapres mengharapkan BKKBN dapat menjalankan program KB yang tidak hanya fokus pada pertumbuhan penduduk dan kontrasepsi, tetapi juga pada peningkatan kualitas SDM.

"Saat ini Indonesia menghadapi tantangan terkait prevalensi anak kerdil (stunting) yang masih tinggi, yakni satu dari tiga anak balita mengalami stunting. Pemerintah menetapkan target ambisius penurunan stunting menjadi 14% pada 2024," ujar Wapres saat membuka Rakernas BKKBN di Jakarta, kemarin. (Ind/H-1)

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More