Rabu 12 Februari 2020, 13:45 WIB

WHO Sebut Virus Lebih Berbahaya Ketimbang Terorisme

Willy Haryono | Internasional
WHO Sebut Virus Lebih Berbahaya Ketimbang Terorisme

AFP/FABRICE COFFRINI
Kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus

 

ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahaya dari segala macam jenis virus di dunia, termasuk virus korona yang telah menewaskan 1.112 orang di level global per hari ini, Rabu (12/2). Total infeksi virus korona Covid-19 ini juga telah mencapai lebih dari 42 ribu di Tiongkok dan 25 negara lainnya.

Covid-19 adalah nama yang ditetapkan WHO atas varian baru virus korona. Sebelumnya, virus tersebut dinamakan Novel Coronavirus (2019-nCoV).

"Virus dapat menimbulkan konsekuensi yang lebih berbahaya dari segala bentuk aksi terorisme," kata Kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam konferensi pers di Jenewa, Swiss, dikutip dari AFP.

Sekitar 400 ilmuwan ikut serta dalam pertemuan selama dua hari di Jenewa. Pertemuan bertujuan mencari tahu bagaimana Covid-19 dapat menular, dengan harapan dapat menemukan informsi krusial dalam upaya membuat vaksin.

"Jika kita bekerja keras sekarang, ada peluang realistis kita dapat menghentikan wabah ini," tegas Tedros.

Baca juga: Jerman Konfirmasi Dua kasus Baru Virus Korona

Virus korona Covid-19 diyakini pertama kali muncul di Wuhan, Ibu Kota Provinsi Hubei, Tiongkok, pada akhir 2019. Virus ini diduga berasal dari semacam hewan yang kemudian menjangkiti manusia.

Para peserta pertemuan di Jenewa akan mendiskusikan asal virus ini, yang belakangan disebut-sebut menular dari kelelawar ke manusia melalui "perantara" lain seperti ular dan trenggiling.

WHO telah mengirim tim ahli ke Tiongkok pada Senin (10/2) untuk memulai misi internasional penanganan virus korona Covid-19.

Belum diketahui apakah tim WHO dapat mengunjungi Wuhan, yang hingga saat ini masih ditutup rapat Pemerintah Tiongkok.

Hingga saat ini, WHO belum dapat menentukan perawatan atau vaksin yang tepat untuk mengalahkah Covid-19.

WHO berulang kali mendesak sejumlah negara dunia untuk berbagi data agar riset mengenai Covid-19 dapat lebih cepat diselesaikan. WHO berharap vaksin Covid-19 dapat selesai dalam kurun waktu 18 bulan ke depan.

"Untuk mengalahkan wabah ini, perlu ada mekanisme berbagi data yang terbuka, dengan berdasarkan prinsip keadilan dan kesetaraan," tutur Tedros. (OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More