Rabu 12 Februari 2020, 11:00 WIB

Citarum Masih Kotor, KKP Tawarkan Solusi Citarum Produktif

Hilda Julaika | Nusantara
Citarum Masih Kotor, KKP Tawarkan Solusi Citarum Produktif

ANTARA/Raisan Al Farisi
Seorang warga mengumpulkan sampah plastik di Sungai Citepus yang bermuara ke Sungai Citarum di Bojong Citepus, Dayeuhkolot.

 

KEMENTERIAN Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Balai Riset Pemulihan Sumber Daya Ikan (BRPSDI) tengah berupaya membuat Sungai Citarum produkdif dalam kegiatan perikanan. Upaya itu dilakukan dalam wadah Program Citarum Harum yang dicanangkan Presiden Joko Widodo pada 2018 lalu.

Untuk diketahui, program itu mencakup percepatan pengendalian pencemaran dan kerusakan daerah aliran Sungai Citarum serta waduk kaskade Citarum (Saguling, Cirata dan Ir H Djuanda).

Kepala BRPSDI Aulia Riza Farhan mengklaim telah memiliki tiga solusi jangka pendek dan panjang guna mendukung kegiatan budidaya ikan ini.

Solusi pertama merupakan solusi jangka pendek berupa penggunaan teknologi keramba jaring apung dengan sistem manajemen melalui resirkulasi dan tanaman.

Baca juga: Berdaya karena Tangan Swasta

Teknologi yang dimaksud bernama KJA SMART. Nantinya teknologi ini mampu melakukan pencegahan dan pengendalian masalah lingkungan hidup yang disebabkan limbah fosfat (PO43-) pada ekosistem air tawar.

Pengendalian ini mengadopsi sistem akuaponik yang telah dimodifikasi sehingga dapat diterapkan di perairan terbuka waduk/danau.

“Solusi kedua yaitu teknologi eelway yang merupakan salah satu bentuk teknologi fishway (jalur ruaya ikan) guna mempermudah ikan melewati konstruksi melintang sungai yang dibuat manusia. Eelway sangat diperlukan dalam rencana pembangunan waduk-waduk di Indonesia,” ujarnya melalui keterangan resmi kepada Media Indonesia, Selasa (11/2).

Menurut Peneliti Utama BRPSDI Didik Wahyu Hendro Tjahjo, eel merupakan bahasa lain dari ikan sidat.

Menurut Aulia, ikan ini primadona perikanan budidaya Indonesia yang tengah menjadi perhatian dunia. Sejalan dengan menurunnya produksi benih sidat dunia. Salah satu penyebabnya adalah pembangunan DAM di beberapa ruas sungai habitat sidat menghambat ruaya sidat. Teknologi eelway diharapkan jadi jawaban persoalan tersebut.

Selanjutnya untuk solusi yang ketiga merupakan solusi jangka panjang. Melalui penerapan teknologi pemacuan stok beberapa jenis ikan atau dinamakan Culture Based Fisheries (CBF).

Teknologi ini bertujuan meningkatkan/memacu rekruitmen alami satu atau beberapa jenis ikan dari kelompok planktivora-herbivora yang dihasilkan dari panti perbenihan untuk ditebar di suatu badan air.

Dalam program ini, ikan-ikan tersebut tumbuh dengan memanfaatkan makanan alami sehingga produksinya meningkat mendekati daya dukung perairan/alaminya.

Aulia menambahkan, ini dapat dikelola oleh sekelompok masyarakat dengan pendampingan (ko-manajemen) dan dikembangkan melalui sistem insentif. Dengan demikian, CBF dapat menjadi program alih profesi bagi pekerja dan pemilik KJA yang terkena dampak penertiban.

“Dalam studi kasus untuk Waduk Ir Juanda, optimalisasi perikanan tangkap melalui pengembangan CBF diestimasi mampu meningkatkan produksi perikanan tangkap hingga 1.500 ton/tahun dan memberikan manfaat dalam memberi ruang bagi masyarakat mendapatkan mata pencaharian alternatif/alih profesi,” saran Didik. (OL-1)

Berita Terkini

Read More

Top Tags

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More