Selasa 11 Februari 2020, 23:05 WIB

Jenderal Thailand: Jangan Salahkan Tentara atas Penembakan Massal

Nur Aivanni | Internasional
Jenderal Thailand: Jangan Salahkan Tentara atas Penembakan Massal

AFP
Apirat Kongsompong

 

KEPALA Militer Thailand meminta rakyat Thailand untuk berkabung atas penembakan massal yang merenggut 29 korban jiwa. Ia juga meminta mereka untuk tidak menyalahkan tentara atas penembakan massal tersebut.

Jenderal Apirat Kongsompong menangis ketika dia meminta maaf atas nama tentara kepada para korban penembakan oleh pria bersenjata dalam sebuah konferensi pers yang disiarkan televisi.

Pria bersenjata tersebut, Sersan Mayor Jakrapanth Thomma, ditembak mati oleh satuan komando pada Minggu (9/2) pagi, mengakhiri drama baku tembak selama 17 jam yang menewaskan 29 orang dan banyak lainnya terluka.

Tentara Thailand bersusah payah untuk menggambarkan pria bersenjata terebut sebagai prajurit jahat daripada produk dari sistem tentara.

Apirat mengatakan dia tidak akan mundur dari jabatannya yang bertanggung jawab atas tentara yang masuk ke dalam semua aspek kehidupan mulai dari politik dan bisnis hingga wajib militer.

"Tentara adalah organisasi besar yang terdiri dari ratusan ribu staf... Saya tidak bisa fokus pada setiap bawahan," katanya. "Ada orang yang mengkritik tentara, saya mendesak mereka untuk tidak menyalahkan tentara ... karena tentara adalah organisasi yang sakral. Salahkan saya - Jenderal Apirat," katanya.

Sebaliknya, dia berjanji untuk membuka "saluran khusus" untuk menyelidiki semua keluhan di masa depan dari perwira junior tentang atasan mereka. Itu berkaca dari motif penyerangan pria bersenjata tersebut karena masalah utang dengan komandannya.

Apirat mengatakan bahwa pria bersenjata itu tidak menerima keadilan dari komandan dan kerabatnya yang menjanjikannya pengembalian finansial. Jakrapanth membunuh komandan dan ibu mertua komandannya terlebih dahulu.

Orang Thailand telah membanjiri media sosial dengan kritik terhadap para pemimpin mereka karena dianggap kurang empati setelah penembakan massal yang belum pernah terjadi sebelumnya. Perdana Menteri Prayut Chan-O-Cha dipaksa melakukan penyesalan kepada publik yang jarang terjadi pada Minggu (9/2) setelah dia tersenyum dan menyambut kerumunan orang ketika dia mengunjungi Korat, kota tempat penembakan massal tersebut terjadi. (AFP/OL-8)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More