Rabu 12 Februari 2020, 05:00 WIB

Program Sembako Diharapkan Kerek Ekonomi Daerah

(Ifa/Medcom.id/H-1) | Humaniora
Program Sembako Diharapkan Kerek Ekonomi Daerah

ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/ama.
Dirjen Penanganan Fakir Miskin Kemensos Andi ZA Dulung (kiri) memberikan paparan saat rapat dengar pendapat dengan Komisi VIII DPR

 

PROGRAM bantuan sembako senilai Rp150 ribu per bulan dari Kementerian Sosial diharapkan bisa turut meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah. Kementerian Sosial mendorong setiap wilayah memproduksi sendiri bahan-bahan pangan yang akan dijual untuk keluarga penerima manfaat (KPM).

"Hasil penelitian bahwa dengan program ini bisa menumbuhkan atau memicu perkembangan ekonomi di wilayah itu karena bahan yang dijual atau dikonsumsi masyarakat adalah bahan lokal," kata Dirjen Penanganan Fakir Miskin Kemensos Andi Za Dulung dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR RI, di Gedung DPR/MPR Senayan, kemarin.

Kemensos, ujarnya, juga berharap bahan pangan tersebut juga dijual pengusaha kecil di wilayah tersebut. "Jadi misalnya telur, beras, sayur-sayuran, harapan kita itu semua diproduksi di desa itu lalu dijual di warung. Tidak boleh yang waralaba. Jadi warung-warung sederhana milik warga setempat, ekonomi mikro maupun koperasi," ujarnya.

Program sembako itu merupakan perubahan dari bantuan pangan nontunai. Pada tahun ini, jumlah bantuan meningkat dari Rp110 ribu per bulan tiap KPM menjadi Rp150 ribu per bulan. Selain itu, jenis pangan yang boleh dibeli pun bertambah. "Jadi yang tadinya hanya telur dan beras, sekarang ada protein hewani, daging, ikan, atau ayam, lalu ada sayur dan buah," jelas Andi. KPM juga boleh memilih bahan pangan apa yang ingin dibeli.

Manfaat memberi pilihan dan kendali kepada KPM dimaksudkan untuk meningkatkan efesiensi penyalur-an. Di sisi lain, tujuan dari program sembako ini ialah memberikan gizi yang lebih seimbang kepada KPM. "Ini bisa dikaitkan dengan prog-ram nasional yaitu menekan stunting," tutur Andi.

Penaikan jumlah bantuan tersebut disambut para KPM karena bisa mendapatkan bahan pangan berkualitas baik. "Kami sangat terbantu sekali dengan penambahan nilai bantuan menjadi Rp150 ribu. Beras kali ini sangat layak untuk dikonsumsi," ujar Jinaziah, KPM dari Kelurahan Bonto Lebang, Makassar, Sulawesi Selatan. Ditjen Penanganan Fakir Miskin Kemensos sendiri pada 2020 mendapatkan anggaran Rp28,1 triliun, naik dari Rp20,4 triliun. (Ifa/Medcom.id/H-1)

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More