Selasa 11 Februari 2020, 16:05 WIB

Salah Kaprah Fesyen Ramah Lingkungan

Fetry Wuryasti | Weekend
Salah Kaprah Fesyen Ramah Lingkungan

Unsplash/ Amber Renae
Banyak label fesyen mengklaim ramah lingkungan meski kenyataannya belum tentu benar.

BAIK di dalam maupun di luar negeri, fesyen yang lebih ramah lingkungan atau lestari kini sedang digemborkan. Para desainer maupun label fesyen mulai berlomba klaim ramah lingkungan.

Namun tidak sedikit dari klaim itu yang mengundang tanya sebab dasar yang digunakan belum terbukti ramah lingkungan. Selain itu bisnis proses yang mereka lakukan juga tidak tampak berubah.

Misal para desainer mengklaim ramah lingkungan hanya karena alasan menggunakan material dalam negeri. Memang, material dalam negeri bisa dianggap lebih rendah jejak karbon daripada material impor, namun proses produksinya belum tentu benar ramah lingkungan.

Klaim-klaim ramah lingkungan ini pun dikritik Timo Rissanen, Profesor Desain dan keberlanjutan Mode di Parsons School of Fashion di New York, Amerika Serikat. Sebab, menurutnya tujuan dasar pelaku fesyen tetap sama yaitu menjual sebanyak mungkin kepada sebanyak mungkin orang. Industri fesyen memproduksi lebih dari 100 miliar garmen per tahun.

"Model bisnis fesyen massal dan cepat secara inheren tidak berkelanjutan. Tantangannya adalah menerapkan konsep batas planet untuk bisnis individu," ujar Rissanen, dilansir Huffpost.com (7/2).

Beberapa alternatifnya, kata dia, antara lain mulai dari penyewaan pakaian, platform berbagai dan bertukar pakaian hingga beralih ke model merek fesyen nirlaba, yang menempatkan keuntungannya pada tujuan kemanusiaan.

Namun masalah tetap ada. Pertumbuhan penjualan tidak dapat selaras dengan konsep keberlanjutan lingkungan. Brand fashion perlu membuat perubahan yang jauh lebih dramatis daripada yang mereka buat saat ini.

Céline Semaan, pendiri dan CEO Slow Factory, mengatakan banyak merk menerapkan keberlanjutan, hanya pada operasional dan bukan pada lingkungan. Untuk menargetkan masalah produksi berlebih dan penggunaan sumber daya yang terbatas, merek fesyen harus memperlambat produksi.

“Yang seharusnya didefinisikan oleh kata keberlanjutan yaitu untuk ekosistem kita, untuk sumber daya kita, untuk kerja manusia kita. Tapi produksi yang lebih sedikit berarti bahwa akan ada lebih sedikit dana untuk mendukung operasi mereka. Selama hasil dari pelambatan adalah laba yang lebih sedikit, mereka tidak mungkin menerima solusi khusus itu," tukas Semaan. (M-1)

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More