Selasa 11 Februari 2020, 14:05 WIB

JEC Jadi Pionir Terapkan Teknologi Semi Robotic Surgery Mata

mediaindonesia.com | Humaniora
JEC Jadi Pionir Terapkan Teknologi Semi Robotic Surgery Mata

Istimewa
JEC menggelar JEC International Meeting ke-4 dan World Congress of Ophthalmic of Anesthesia ke-5 dengan tema besar 'Vision Of Perfection.

 

JEC, rumah sakit spesialis mata dengan standar layanan internasional, kembali menggelar ajang tahunan berkelas internasional JECIM (JEC International Meeting) ke-4 dan World Congress of Ophthalmic of Anesthesia ke-5 dengan tema besar 'Vision Of Perfection.'

Gelaran yang menjadi bagian dari perayaan hari jadi JEC ke-36 tersebut menghadirkan narasumber dari berbagai negara dan peserta yang terdiri dari kalangan rumah sakit dan medis.

Dalam sambutan pembuka, Dr. Setiyo Budi Riyanto, SpM(K); Direktur Utama RS JEC @ Menteng, Kepala Bedah Refraktif JEC dan Ketua Panitia JECIM 2020 menyampaikan,"Tahun 2020 merupakan tahun istimewa bagi para dokter spesialis mata dan para praktisi di bidang pelayanan kesehatan mata."

Dalam pencapaian Vision 2020, penduduk dunia, khususnya mereka yang mengalami kebutaan berhak memiliki penglihatan optimal dan penyebab utama kebutaan dapat dieliminasi.

"JECIM menjadi forum yang sangat bermanfaat bagi dunia kedokteran di Indonesia, khususnya kesehatan mata, untuk mengembangkan diri dan potensi melalui agenda simposium, workshop, dan lecture," jelas Dr.Setiyo.

"Pada JECIM 2020 kali ini, kami memperkenalkan teknologi semi-robotic surgery pada operasi katarak dan retina dengan  dilengkapi dengan modern microscope dan ophthalmic trauma service yang menyediakan penanganan komprehensif bagi
pasien dengan trauma pada mata," tambah Dr.Setiyo.

Sejalan dengan upaya JEC menjadi yang terdepan dalam pelayanan kesehatan, setelah menghadirkan layanan FLACS (Femtosecond Laser-Assisted Cataract Surgery).

Dengan FLACS, keseluruhan proses operasi katarak menggunakan laser, tanpa pisau bedah, kini JEC membuat terobosan menjadi pionir di Indonesia dalam mengimplementasikan teknologi semi-robotic guna mendukung tindakan operasi katarak dan retina dan membuka ophthalmic trauma service guna memastikan pasien dengan trauma mata mendapatkan penanganan komprehensif.

Dalam melakukan operasi katarak dan retina, para dokter mengandalkan mikroskop untuk dapat mendapatkan tampilan mata secara menyeluruh (top-down). Teknologi semi-robotic surgery telah diimplementasikan di JEC, dilengkapi dengan digital microscope dengan high-quality optics sehingga tim medis dapat melihat detail intraocular dengan sangat baik.

Teknologi ini hanya membutuhkan intensitas cahaya kecil, sehingga pasien tidak merasa silau dan lebih nyaman, hal ini membantu tim medis selama proses operasi karena pasien lebih kooperatif.

"Keberadaan digital microscope dengan resolusi yang lebih tinggi, memungkinkan kami mendapatkan tampilan tiga dimensi yang jelas dan lebih nyata dari mata pasien, detail setiap bagian hingga ke jaringan kecil," kata dr Elvioza, SpM(K), Ketua Retina Service dan dokter spesialis mata Sub Spesialis Vitroretina JEC.

"Dengan tampilan tiga dimensi, dokter dapat menjangkau dengan mudah bagian yang sulit terlihat dan meminimalkan
trauma pascaoperasi pada pasien," tambah dr Elvioza.

Beberapa kasus kebutaan timbul karena trauma pada mata, yang jumlahnya kian meningkat dari tahun ke tahun. Berangkat dari keprihatinan ini, JEC mempelopori pembukaan Ophtalmic Trauma Service yang menyediakan layanan komprehensif dengan dukungan tenaga medis dari berbagai subspesialis, sesuai dengan kondisi pasien dan kebutuhan pasien.

"Trauma pada mata dapat mengakibatkan penurunan tajam penglihatan hingga kebutaan yang dapat berdampak pada penurunan kualitas hidup dan produktivitas pasien. Hal ini juga akan berdampak tidak hanya kepada pasien, namun juga ke keluarga pasien," kata dr Yunia Irawati,SpM(K), Ketua Ophtalmic Trauma Service JEC,

"Tim Ophtalmic Trauma Service akan membuat tata laksana penanganan trauma mata yang menyeluruh, sesuai dengan kondisi dan kebutuhan pasien, melibatkan tim medis dari berbagai subspesialis," jelas dr Yunia.

 "Kerja sama yang baik antara tim medis dengan pasien dan keluarganya, menjadi kunci keberhasilan penanganan trauma mata dan mengembalikan fungsi penglihatan pasien," tambah dr Yunia.

Pada JECIM 2020, Dr. Yunia Irawati, SpM(K) menjadi pembicara yang memaparkan tentang Ophthalmic Trauma Service di JEC. Fokus materinya mencakup manajemen komprehensif penanganan trauma pada mata dan kompleksitas di sekitarnya.

Dalam program ini JEC menggandeng Asia Pacific Ophthalmic Trauma Society (APOTS) yakni organisasi yang
mengkhususkan pada pengaturan kualitas dan standar dalam penanganan trauma pada mata.

Melalui pemaparan Ophthalmic Trauma Service ini, JEC juga berharap dapat meningkatkan pemahaman tentang trauma mata dan mendorong dunia kesehatan mata di Indonesia untuk membangun, mengembangkan dan mengimplementasikan manajemen trauma mata yang tepat. (OL-09)

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More